38°C
27/07/2026
Budaya Lifestyle

Sinergi Budaya di KBP, Lembur Udjo Parahyangan Segera Hadir di Bale Pare

  • April 10, 2026
  • 4 min read
Sinergi Budaya di KBP, Lembur Udjo Parahyangan Segera Hadir di Bale Pare

INFO BANDUNG BARAT — Kota Baru Parahyangan (KBP) mempertegas komitmennya dalam pelestarian tradisi dengan menghadirkan Lembur Udjo Parahyangan di kawasan Bale Pare. Langkah ini sejalan dengan posisi Bale Pare yang sejak awal mengusung slogan Art and Culture sebagai pusat seni dan budaya di kawasan mandiri tersebut. Kehadiran kolaborasi ini menandai babak baru dalam menjadikan KBP sebagai destinasi yang tidak hanya modern secara infrastruktur, tetapi juga kaya akan nilai-nilai edukasi dan kearifan lokal yang mendalam.

Direktur Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali, menyampaikan bahwa kehadiran Lembur Udjo Parahyangan semakin memperkuat identitas Bale Pare sebagai pusat ekspansi budaya Sunda. Menurutnya, proyek ini dirancang khusus untuk menjadi wadah pendidikan bagi generasi muda sekaligus menjadi jembatan sinergi dengan masyarakat sekitar. Ryan menekankan bahwa di era kolaborasi saat ini, kemajuan sebuah kawasan hunian memang harus berjalan beriringan dengan pengembangan nilai-nilai kebudayaan agar tercipta harmoni sosial yang berkelanjutan.

“Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi kita bergerak sendiri-sendiri, ini adalah masanya kolaborasi dan sinergi. Melalui kesempatan ini, kami benar-benar ingin membuat pendidikan dan kebudayaannya lebih maju lagi,” ujar Ryan.

Dalam keterangannya, Ryan juga menyoroti peran strategis Bale Pare yang selama ini konsisten menjadi pusat seni dan budaya di wilayah Bandung Barat. Melalui kerja sama ini, kawasan tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga seribu orang untuk beraktivitas dalam satu waktu. Hal ini diharapkan tidak hanya menghidupkan suasana kawasan, tetapi juga secara otomatis mampu menggerakkan roda ekonomi warga setempat melalui berbagai kegiatan seni pertunjukan serta perdagangan kreatif yang akan tersedia di sana.

Senada dengan hal tersebut, Taufik Hidayat Udjo, yang merupakan salah satu ahli waris mendiang Udjo Ngalagena, mengungkapkan bahwa visinya sangat selaras dengan konsep lingkungan dan edukasi yang telah dibangun oleh KBP. Pemilihan nama “lembur” pun memiliki filosofi tersendiri, yakni untuk menciptakan suasana kampung yang hidup dan organik di tengah kawasan perkotaan. Taufik ingin memastikan bahwa kehadiran mereka di Bale Pare mampu membawa ruh pedesaan yang kental dengan keramahan dan semangat gotong royong khas masyarakat Jawa Barat.

“Kami menamakannya ‘lembur‘ karena ini benar-benar aktivitas sebuah kampung atau wilayah yang akan kita garap agar ada ruang bagi para seniman. Jadi pengunjung datang karena melihat kami sedang beraktivitas, bukan kami bermain karena ada pengunjung,” jelas Taufik mengenai konsep organik yang akan diusung.

Konsep yang diusung di Lembur Udjo Parahyangan pun tergolong unik karena mengedepankan aktivitas tradisi yang nyata sebagai daya tarik utamanya. Taufik menjelaskan bahwa nantinya pengunjung yang datang ke Bale Pare akan menyaksikan langsung para seniman beraktivitas secara natural, seperti berlatih tari, bernyanyi, hingga memainkan angklung. Pola ini sengaja diterapkan agar daya tarik kawasan muncul dari denyut kehidupan budayanya, bukan sekadar pertunjukan panggung yang bersifat formal dan kaku.

Tujuan besar dari konsep organik ini adalah untuk terus mengangkat derajat seni tradisional agar tetap relevan dan membanggakan bagi generasi muda. Taufik meyakini bahwa dengan memberikan ruang bagi seni Sunda untuk tampil secara apik di kawasan prestisius seperti KBP, pandangan sebelah mata terhadap seni tradisi akan perlahan menghilang. Hal ini juga menjadi pembuktian bahwa warisan leluhur memiliki kualitas yang mampu bersaing dan berbicara banyak bahkan hingga ke kancah internasional.

Salah satu poin paling krusial dalam sinergi ini adalah komitmen besar terhadap pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar kawasan. Taufik memastikan bahwa sekitar 90 persen pelaku seni yang terlibat dalam operasional Lembur Udjo Parahyangan merupakan warga asli Kabupaten Bandung Barat. Strategi ini diambil agar masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan kawasan, tetapi justru menjadi aktor utama yang memiliki wadah baru untuk menunjukkan “kabisa” atau kemampuan seni mereka.

Prosesi Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Antara Kota Baru Parahyangan dan Pihak Lembur Udjo Parahyangan, Rabu (8/4/2026). Foto: Infobandungbarat.

Kedua belah pihak resmi menjalin kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian di Town Management Kota Baru Parahyangan, Rabu (8/4/2026). Dengan semangat kebersamaan ini, Bale Pare diharapkan semakin kokoh sebagai ikon pusat seni dan budaya yang membanggakan di Jawa Barat. Kehadiran Lembur Udjo Parahyangan menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pihak manajemen properti dan pegiat seni dapat melahirkan sebuah ekosistem yang bermanfaat luas bagi banyak pihak. Harapannya, kolaborasi ini akan terus bertumbuh dan menjadikan KBP sebagai contoh kawasan yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga kuat secara identitas budaya.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *