Krisis Kesehatan Mental Anak di Indonesia Kian Nyata
INFO BANDUNG BARAT — Isu kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia kini semakin nyata dan tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan tersembunyi. Data terbaru dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan adanya fenomena “gunung es” dalam masalah kesehatan mental.
Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, lebih dari 700.000 anak terdeteksi mengalami gejala gangguan mental. Sebanyak 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8 persen lainnya mengalami gejala depresi. Angka ini menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental bukan sekadar fase pertumbuhan, melainkan kondisi yang membutuhkan perhatian serius.
Kondisi ini berpotensi semakin meningkat seiring rencana pemerintah memperluas skrining hingga menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia. Tanpa intervensi yang tepat, jumlah kasus diperkirakan akan terus bertambah.
Situasi diperparah oleh hasil Survei Kesehatan Pelajar Global yang mencatat peningkatan percobaan bunuh diri pada remaja, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Sementara itu, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat 116 kasus bunuh diri anak sepanjang 2023 hingga awal 2025. Fakta ini menegaskan pentingnya penanganan sejak dini.
Permasalahan kesehatan mental pada anak bersifat multifaktorial. Faktor seperti pola asuh keluarga, tekanan akademik, relasi sosial, hingga paparan dunia digital yang tidak terkontrol menjadi pemicu utama. Hal ini sejalan dengan temuan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang menyebutkan satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Selain itu, studi dalam jurnal The Lancet Regional Health menyoroti bahwa percepatan transformasi digital yang tidak diimbangi literasi emosional dapat meningkatkan risiko perundungan siber (cyberbullying) dan isolasi sosial pada remaja. Kondisi ini semakin relevan bagi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah paparan teknologi sejak dini.
Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah tidak hanya berfokus pada deteksi dini melalui skrining, tetapi juga memperkuat layanan kesehatan mental. Upaya ini mencakup penambahan tenaga psikolog di fasilitas kesehatan serta peningkatan edukasi di lingkungan keluarga dan sekolah.
Intervensi dini menjadi kunci utama. Tanpa penanganan yang tepat, gangguan emosional pada anak dapat berkembang menjadi kondisi kronis, termasuk meningkatnya risiko perilaku menyakiti diri sendiri. Menjaga kesehatan mental anak hari ini berarti menjaga fondasi masa depan bangsa.