38°C
07/08/2026
Sejarah

Situs Makam Ngabei Reksa Nagara dan Jejak Historis Kawedanan Cililin

  • September 10, 2024
  • 3 min read
Situs Makam Ngabei Reksa Nagara dan Jejak Historis Kawedanan Cililin

INFO BANDUNG BARAT — Situs Makam Ngabei Reksa Nagara merupakan salah satu kawasan cagar budaya penting yang menyimpan memori kolektif perkembangan peradaban di tatar Sunda. Secara geografis, situs sakral ini terletak di Kampung Kaum, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, atau tepatnya berada di area belakang bangunan Masjid Agung Cililin. Lokasi petilasan bersejarah ini kerap menjadi pusat perhatian sekaligus destinasi utama bagi para peziarah serta pencinta sejarah yang datang dari pelbagai luar daerah. Arus kunjungan peziarah tercatat mengalir secara berkala dari wilayah Jakarta, Sumedang, Karawang, Cilacap, Yogyakarta, hingga didominasi oleh masyarakat dari Kota Bandung.

Kompleks pemakaman kuno ini menjadi saksi bisu atas peristiwa geopolitik masa lalu, terutama terkait proses peralihan pusat pemerintahan dari Kawedanan Rongga menjadi Kawedanan Cililin yang dipelopori oleh Eyang Raksa Wijaya Dilaga. Ketokohan figur ini memiliki benang merah historis yang erat dengan narasi Eyang Rangga Sena serta fragmen perjalanan heroik Dipati Ukur ketika mengonsolidasikan kekuatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan dokumentasi catatan sejarah setempat, Eyang Raksa Wijaya Dilaga merupakan salah seorang pucuk pimpinan administrasi wilayah yang semula berpusat di Kampung Rongga, Kecamatan Cihampelas. Ia merupakan aktor utama yang mengambil langkah strategis untuk memindahkan pusat kawedanan dari Cihampelas menuju kawasan Gunung Geger Pulus.

Kronologi Pemindahan Pusat Pemerintahan dan Asal-Usul Penamaan Cililin

Langkah pemindahan pusat administrasi oleh Eyang Raksa Wijaya Dilaga tersebut dieksekusi berdasarkan arahan strategis dan petunjuk dari Ngabei Reksa Nagara. Proses migrasi struktural ini melibatkan partisipasi penuh dari seluruh lapisan masyarakat adat pada waktu itu dengan tujuan sosiologis agar warga dapat mendiami wilayah baru yang jauh lebih aman dari ancaman luapan air di pinggiran daerah aliran Sungai Citarum. Meskipun secara kultural telah dikunjungi oleh kalangan terbatas sejak lama, kompleks situs cagar budaya ini baru resmi dibuka secara legal untuk akses publik luas pada tahun 1987. Kebijakan pembukaan situs ini diproyeksikan sebagai basis sumber pengetahuan literasi sejarah bagi akademisi, peneliti, maupun masyarakat umum yang sekadar ingin menikmati atmosfer ketenangan spiritualnya.

Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Eyang Raksa Wijaya Dilaga, di dalam kompleks sakral ini juga bersemayam jasad para tokoh kunci kedatuan Cililin tempo dulu. Beberapa figur penting yang dimakamkan di tempat ini antara lain Eyang Reksa Nagara, Raden Suryadiningrat, Raden Suryadilaga, beserta seluruh trah keturunan besarnya. Jejak kepemimpinan wilayah ini mencatat bahwa pada medio tahun 1800-an, kendali birokrasi Kawedanan Rongga berada di bawah otoritas kuat Eyang Reksa Nagara. Atas jasa dan dedikasinya, ia dianugerahi gelar kepangkatan adat sebagai Raksa Nagara I sekaligus didapuk sebagai pemimpin pertama pasca-perubahan nomenklatur menjadi Kawedanan Cililin dengan masa bakti kepemimpinan yang terentang dari tahun 1800 hingga 1855.

Implementasi Proyek Kolonial Hindia Belanda dan Etimologi Lisan Masyarakat

Pada masa kedewaan kepemimpinannya, wilayah ini tidak luput dari dinamika intervensi kebijakan ekonomi politik dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Salah satu proyek infrastruktur masif yang lahir pada era tersebut adalah pembukaan jalur logistik darat yang dikenal dengan nama Jalan Loji, yang menghubungkan pusat kawedanan menuju wilayah Gununghalu. Dalam lembaran dokumen surat perintah resmi (resolutie) yang dikeluarkan oleh otoritas Belanda saat itu, proyek pembangunan jalan ini ditulis secara teknis dengan istilah Uit Tuin Lijn Weg.

Mengingat keterbatasan linguistik dan tingkat kesulitan pelafalan fonetis dari masyarakat lokal Sunda pada zaman tersebut dalam mengeja frasa asing tersebut, penyerapan bunyi mengalami pergeseran artikulasi dari kata lijn weg menjadi kata Cililin. Fenomena etimologi rakyat (folk etymology) inilah yang kemudian disepakati secara turun-temurun menjadi nama resmi bagi wilayah Kecamatan Cililin hingga hari ini. Kompleks makam ini pun kini berdiri tegak bukan sekadar sebagai area pemakaman, melainkan sebagai monumen hidup dari sebuah metamorfosis budaya, bahasa, dan tata ruang di kawasan Bandung Barat.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *