Stasiun Gadobangkong: Jejak Seabad Rel di Bandung Barat
INFO BANDUNG BARAT — Tahukah kamu bahwa di Bandung Barat terdapat sebuah stasiun kecil yang dibangun dan diresmikan oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS)? Stasiun itu adalah Stasiun Gadobangkong, stasiun berusia lebih dari satu abad yang hingga kini masih beroperasi dan terus berkembang.
Stasiun Gadobangkong terletak di Ngamprah, tak jauh dari Jalan Raya Cimahi–Padalarang. Stasiun ini berada di ketinggian +695 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam Daerah Operasi (Daop) II Bandung. Gadobangkong merupakan stasiun terdekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung Barat sekaligus stasiun paling timur di wilayah kabupaten tersebut.
Awal Mula Beroperasi
Stasiun Gadobangkong resmi berfungsi pada 20 Februari 1899. Informasi ini tercantum dalam keputusan Kepala Eksploitasi (Chef der Exploitatie) Jalur Barat (Westerlijnen), S. Schaafma, yang meresmikan sejumlah stopplaats (tempat pemberhentian) baru.
Dalam pemberitaan De Preanger-bode tanggal 13 Februari 1899, nama Gadobangkong tertulis sebagai Gedeh Bangkong—penulisan yang keliru oleh Schaafma. Stasiun ini tercatat berada di kilometer 143,900, terletak di antara Padalarang dan Cimahi.
Pada masa awal pengoperasiannya, Gadobangkong berfungsi sebagai tempat berhenti kereta lokal rute Padalarang–Cimahi. Misalnya, dalam pemberitaan De Preanger-bode (3 Agustus 1900), Staatsspoorwegen menambah jadwal sejumlah layanan untuk menyambut ajang balap kuda di Bandung pada 4–6 Agustus 1900. Untuk jalur Padalarang–Cimahi, kereta berhenti di tiga titik, yaitu Padalarang, Gadobangkong, dan Cimahi.
Disinggahi Gubernur Jenderal Hindia Belanda
Dua tahun kemudian, pada Mei 1902, Stasiun Gadobangkong kembali disebut dalam catatan perjalanan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dalam rentang 9–22 Mei 1902, sang gubernur jenderal melakukan perjalanan panjang dari Bogor menuju sejumlah daerah, termasuk Cirebon, Sumedang, Rancaekek, Bandung, Rajamandala, Tagogapu, hingga Padalarang dan Cimahi.
Kereta khusus yang ditumpanginya beberapa kali melewati Stasiun Gadobangkong, baik pada perjalanan Bandung–Cipeuyeum, Cipatat–Bandung, maupun rute lainnya. Informasi ini diberitakan oleh Bataviaasch Nieuwsblad pada 5 Mei 1902.
Rencana Perluasan Tahun 1921
Pada 1921, muncul rencana memperluas area Stasiun Gadobangkong. Menurut De Preanger-bode (18 April 1921), proyek ini dikerjakan oleh seorang kontraktor keturunan Tionghoa. Kepala Seksi Pengawas Staatsspoorwegen di Padalarang, A. L. Berger, menjelaskan bahwa proyek tersebut bertujuan mengubah Gadobangkong dari perhentian kecil menjadi stasiun kecil penuh.
Meski awalnya berjalan lancar, proyek ini kemudian melambat dan akhirnya terhenti sebelum selesai. Pekerjaan perluasan pun berakhir mangkrak.
Perkembangan hingga Kini
Saat ini, Stasiun Gadobangkong kembali mengalami perubahan besar. Dari yang semula berupa halte kecil, fasilitas dan tampilan stasiun secara bertahap diperbarui. Renovasi yang berlangsung membuat stasiun ini semakin tertata dan nyaman bagi penumpang.
Meski proses renovasi belum sepenuhnya selesai, layanan kereta api di Stasiun Gadobangkong tetap berjalan normal, melayani mobilitas masyarakat menuju berbagai tujuan.
Stasiun kecil bersejarah ini terus berkembang, menjadi bagian penting dari perjalanan panjang transportasi rel di Bandung Barat selama lebih dari satu abad.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor : Ayu Diah Nur’azizah