38°C
05/05/2026
Edukasi

1 dari 3 Remaja di Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Mengapa Pergi ke Psikolog Masih Jadi Hal yang Tabu?

  • Agustus 4, 2025
  • 3 min read
1 dari 3 Remaja di Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Mengapa Pergi ke Psikolog Masih Jadi Hal yang Tabu?

INFO BANDUNG BARAT–Kesehatan mental remaja menjadi isu yang semakin penting di Indonesia. Berdasarkan hasil survei nasional Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 34,9% remaja usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Artinya, satu dari tiga remaja hidup dengan tekanan psikologis yang berpotensi mengganggu keseharian mereka.

Namun, meskipun prevalensinya tinggi, hanya sebagian kecil dari mereka yang mencari bantuan profesional. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 2% remaja yang mengalami masalah kesehatan mental benar-benar mengakses layanan psikolog atau konselor. Mengapa hal ini terjadi?

Perbedaan Masalah Mental dan Gangguan Mental

Penting untuk membedakan antara masalah kesehatan mental dan gangguan mental yang terdiagnosis. Masalah mental mencakup gejala-gejala seperti kecemasan, sedih berlebihan, atau sulit konsentrasi, tetapi tidak selalu memenuhi kriteria medis formal seperti yang terdapat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Sementara itu, gangguan mental mengacu pada kondisi yang secara klinis dapat didiagnosis, seperti depresi mayor, gangguan kecemasan umum, atau ADHD.

Menurut laporan I-NAMHS, hanya sekitar 5,5% remaja yang memenuhi kriteria gangguan mental, tetapi masalah mental non-klinis jauh lebih luas dan tak kalah serius dampaknya.

Kecemasan dan Depresi Jadi Keluhan Utama

Jenis masalah mental yang paling banyak dialami remaja Indonesia adalah kecemasan (26,7%) dan depresi (5,3%). Banyak dari mereka mengaku mengalami rasa takut berlebihan, mudah marah, kesulitan tidur, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang dulu mereka sukai.

Gejala-gejala ini seringkali dianggap sebagai “fase remaja” biasa, padahal jika dibiarkan tanpa penanganan bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Mengapa Remaja Jarang Mencari Bantuan Profesional?

Ada beberapa alasan utama mengapa remaja enggan mengakses layanan psikolog:

  1. Stigma Sosial: Banyak masyarakat masih menganggap pergi ke psikolog sebagai tanda kelemahan atau “tidak waras”.
  2. Akses Terbatas: Di banyak daerah, layanan kesehatan jiwa sangat minim. Rata-rata, hanya terdapat satu psikiater untuk setiap 10 juta penduduk di Indonesia.
  3. Literasi Kesehatan Mental yang Rendah: Banyak remaja dan keluarga mereka belum memahami tanda-tanda gangguan mental dan pentingnya pendampingan profesional.
  4. Kecenderungan Mengandalkan Dukungan Sosial: Sekitar dua dari lima orang tua memilih berkonsultasi dengan guru atau teman terlebih dahulu daripada tenaga profesional.

Perbandingan Global: Apakah Indonesia Tertinggal?

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental. Dibandingkan dengan negara-negara seperti Kenya (12,1%) atau Vietnam (3,3%), prevalensi gangguan mental di Indonesia memang terlihat lebih rendah. Namun, angka ini belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masalah non-klinis tidak tercatat dalam data resmi.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental remaja adalah langkah awal yang krusial. Beberapa hal yang dapat dilakukan:

● Meningkatkan literasi kesehatan mental di sekolah dan keluarga.

● Membangun akses layanan psikososial yang lebih merata, terutama di daerah.

● Mendorong orang tua, guru, dan teman sebaya untuk menjadi pendengar yang aman dan tidak menghakimi.

● Mencari bantuan profesional jika gejala memburuk.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *