38°C
25/08/2026
Budaya

Tragedi Perang Bubat dan Akhir Tragis Sang Putri Sunda

  • November 21, 2024
  • 3 min read
Tragedi Perang Bubat dan Akhir Tragis Sang Putri Sunda

INFO BANDUNG BARAT —  Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340-1357) merupakan putri dari Kerajaan Sunda Galuh yang namanya lekat dengan peristiwa sejarah kelam di Nusantara. Ia dijodohkan dengan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, yang berhasrat menjadikannya sebagai permaisuri. Namun, rencana pernikahan agung yang digadang-gadang sebagai simbol persatuan tersebut justru berakhir dengan tragedi berdarah yang dikenal sebagai Perang Bubat. Dyah Pitaloka memilih untuk mengakhiri hidup setelah menyaksikan gugurnya sang ayah serta seluruh rombongan kehormatan Kerajaan Sunda di tangan pasukan Majapahit.

Latar Belakang Perjodohan dan Diplomatik Kerajaan

Berdasarkan naskah Pararaton, Hayam Wuruk mengutus Patih Madhu untuk melamar Dyah Pitaloka sebagai langkah politik strategis guna mengikat persekutuan dengan Kerajaan Sunda. Selain motif diplomasi, ketertarikan Hayam Wuruk juga didasari oleh reputasi kecantikan Dyah Pitaloka yang tersohor ke seantero Nusantara. Prabu Maharaja Lingga Buana, Raja Sunda kala itu, menyambut niat baik tersebut dengan suka cita dan memutuskan untuk mengantarkan langsung putrinya menuju Majapahit.

Pada tahun 1357, rombongan kerajaan tiba di Majapahit setelah menyeberangi Laut Jawa dan mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat, di bagian utara Trowulan. Mereka menantikan prosesi penjemputan resmi serta upacara kerajaan yang layak untuk meresmikan ikatan pernikahan tersebut.

Konflik Politik dan Ego Kekuasaan Majapahit

Situasi berubah drastis akibat perbedaan pendapat antara Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Gajah Mada menentang rencana pernikahan tersebut dengan argumen bahwa Kerajaan Sunda harus tunduk dan mengakui kedaulatan Majapahit sebagai syarat persekutuan. Ambisi Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara di bawah panji Sumpah Palapa memicu desakan kepada Hayam Wuruk agar mengubah pendiriannya, yakni menuntut Raja Sunda menyerahkan putrinya sebagai tanda takluk dan penghormatan, bukan sebagai calon permaisuri.

Tuntutan yang merendahkan martabat ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Raja Sunda. Ia merasa dikhianati dan dihina oleh pihak Majapahit. Penolakan tersebut memicu eskalasi konflik yang berujung pada pecahnya perang di Lapangan Bubat. Pertempuran berlangsung sangat berat sebelah karena pasukan Sunda yang datang dengan misi damai tidak siap menghadapi kesiapan tempur pasukan Majapahit. Prabu Maharaja Lingga Buana beserta bangsawan dan prajurit pengiringnya gugur di medan laga. Dyah Pitaloka, yang menyaksikan kehancuran rombongannya, memilih untuk mengakhiri hidup dengan menusukkan keris sebagai bentuk perlawanan terhadap kehormatan yang diinjak-injak.

Dampak Historis dan Mitos Pernikahan Lintas Budaya

Tragedi Perang Bubat meninggalkan luka mendalam bagi kedua kerajaan. Kerajaan Sunda kehilangan pemimpin dan banyak bangsawan berbakat, sementara Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran reputasi sebagai kerajaan yang adil. Hayam Wuruk dikisahkan sangat menyesali peristiwa tersebut, yang berbuntut pada pemecatan serta pengasingan Gajah Mada ke Madakaripura.

Peristiwa ini menjadi sumber inspirasi bagi pelbagai karya sastra lintas zaman, mulai dari Kidung Sunda yang tragis, Pararaton, Nagarakretagama, hingga Carita Parahyangan. Selain itu, Perang Bubat sering dikaitkan sebagai akar historis munculnya mitos tabu pernikahan antara orang Sunda dan orang Jawa. Meskipun secara empiris tidak ada pelarangan tertulis, narasi tragis ini telah mendarah daging dalam wacana budaya sebagai simbol ketidakharmonisan masa lalu yang dampaknya terasa hingga ke generasi masa kini.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *