Tembang Sunda: Warisan Pupuh dari Mataram ke Tatar Sunda
INFO BANDUNG BARAT — Banyak yang sering menyalahartikan bahwa semua lagu Sunda adalah “tembang”. Padahal, dalam sejarah dan strukturnya, tembang memiliki jati diri yang sangat spesifik. Tembang bukan sekadar nyanyian, melainkan sebuah simfoni sejarah yang mempertemukan budaya Mataram dengan kreativitas lokal Tatar Sunda.
Dalam buku Mengenal Kesusasteraan Sunda (2013) dijelaskan bahwa materi tembang bukanlah asli milik masyarakat Sunda. Perjalanan tembang di Tanah Pasundan dimulai sekitar abad ke-17. Tradisi ini merupakan buah dari pengaruh Kesultanan Mataram saat melakukan ekspansi ke wilayah barat pada era Sultan Agung. Bersamaan dengan pengaruh politik, masuk pula aturan puisi yang kita kenal sebagai pupuh.
Pupuh inilah yang menjadi ruh dari tembang. Dengan 17 jenis aturan, mulai dari Asmarandana yang penuh asmara hingga Dangdanggula yang manis, tembang menjelma menjadi lagu yang melantunkan lirik-lirik berbentuk dangding (wawacan dan guguritan). Singkatnya, sebuah lagu baru dapat menyandang nama “tembang” jika bernapas di atas aturan pupuh tersebut.
Seiring runtuhnya Kerajaan Pajajaran, budaya membaca naskah wawacan mulai memikat hati masyarakat. Tembang pun tumbuh subur di dua lingkungan yang berbeda: pesantren dan istana. Di lingkungan pesantren, dikenal Tembang Ciawian dari Tasikmalaya dan Tembang Cigawiran dari Garut. Keduanya membawa nuansa religi yang kental, namun tetap setia pada akar dangding, hanya dibedakan oleh gaya dan lagam khas masing-masing daerah.
Puncak perkembangan seni ini kemudian mencapai titik baliknya di Cianjur. Pada abad ke-19, RAA Kusumaningrat atau Dalem Pancaniti, seorang Bupati Cianjur yang visioner, mengolah kreativitasnya untuk menciptakan lagu-lagu baru yang terinspirasi dari kawih. Inilah cikal bakal lahirnya Seni Cianjuran, sebuah mahakarya suara yang begitu khas sehingga istilah “Tembang Sunda Cianjuran” melekat sebagai identitas seni suara paling prestisius dari daerah tersebut.
Pada masa itu, kesenian ini disebut mamaos (dari kata maos yang berarti membaca). Hal ini dikarenakan aktivitas utamanya adalah membaca puisi-puisi suci atau teks sastra yang kemudian dilantunkan secara ritmis. Awalnya, mamaos bersifat eksklusif; hanya dimainkan oleh kaum menak (bangsawan) di lingkungan pendopo kabupaten sebagai sarana hiburan spiritual dan intelektual.
Dari penelusuran sejarah tersebut, jelas bahwa tembang memiliki batasan makna yang tegas dalam tradisi Sunda. Ia adalah nyanyian berbasis dangding yang lahir dari pertemuan budaya Sunda dan Mataram, lalu berkembang dalam lingkungan pesantren maupun Seni Cianjuran. Hingga kini, Tembang Sunda tetap berdiri kokoh sebagai simbol keanggunan. Ia bukan sekadar lagu, melainkan arsip sejarah yang terus melantun, menjadi kekayaan literasi dan musikalitas yang pernah lahir di tanah Jawa Barat.***