38°C
13/08/2026
Budaya

Undak-Usuk Basa Sunda dan Pengaruh Jawa, Benarkah Bukan Bagian Asli Sunda?

  • Agustus 13, 2026
  • 6 min read
Undak-Usuk Basa Sunda dan Pengaruh Jawa, Benarkah Bukan Bagian Asli Sunda?

INFO BANDUNG BARATUndak-usuk basa Sunda yang dikenal masyarakat saat ini sebagai pembagian bahasa lemes, loma, dan kasar ternyata memiliki sejarah yang panjang. Sistem tingkatan bahasa tersebut tidak serta-merta sudah ada sejak masa Sunda Buhun. Sejumlah penelitian justru menunjukkan adanya pengaruh bahasa dan kebudayaan Jawa terhadap terbentuknya sistem tersebut, terutama setelah wilayah Priangan berada di bawah pengaruh Mataram.

Pembahasan mengenai asal-usul undak-usuk basa Sunda penting dilakukan untuk melihat bagaimana bahasa Sunda berkembang. Bahasa tidak pernah bersifat statis. Perubahan politik, perpindahan penduduk, hubungan antarkerajaan, serta interaksi antarmasyarakat dapat memengaruhi kosakata hingga cara seseorang menggunakan bahasa.

Lantas, apakah undak-usuk basa Sunda benar-benar berasal dari tradisi Sunda sejak masa lampau?

Bahasa Sunda Buhun Belum Mengenal Undak-Usuk Seperti Sekarang

Untuk menelusuri asal-usul undak-usuk basa Sunda, kita perlu melihat terlebih dahulu bagaimana bahasa Sunda digunakan pada masa lampau.

Dalam artikel BandungBergerak.id berjudul “Undak-Usuk Bahasa Sunda dan Pengaruh Suku Jawa”, dijelaskan bahwa sejumlah naskah Sunda lama menunjukkan penggunaan bahasa yang belum mengenal sistem tingkatan seperti yang dikenal masyarakat Sunda sekarang.

Salah satunya terlihat dalam naskah Sri Ajnyana. Dalam naskah tersebut ditemukan penggunaan kata manéh sebagai kata ganti orang kedua. Padahal, dalam bahasa Sunda modern, kata manéh kerap dianggap kurang sopan jika digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Kata aing dan sia juga ditemukan dalam sumber-sumber Sunda lama. Penggunaan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa kata ganti orang pada masa itu belum sepenuhnya dibatasi oleh aturan tingkat sosial sebagaimana yang berlaku dalam undak-usuk basa Sunda sekarang.

Temuan tersebut sejalan dengan kajian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku Undak-Usuk dan Dampaknya dalam Perilaku Bahasa Sunda (1996), yang membahas perkembangan sistem tingkat tutur dan dampaknya terhadap perilaku berbahasa masyarakat Sunda.

Dengan demikian, sistem undak-usuk yang dikenal sekarang tidak dapat begitu saja dianggap sebagai sistem yang sudah ada sejak masa Sunda Buhun.

Munculnya Pengaruh Mataram di Priangan

Perubahan penting dalam kehidupan masyarakat Sunda terjadi ketika wilayah Priangan berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-17.

Seperti dijelaskan dalam artikel BandungBergerak.id, hubungan politik antara Mataram dan Priangan membuat interaksi masyarakat Sunda dengan masyarakat Jawa semakin intensif. Pengaruh tersebut tidak hanya terjadi dalam pemerintahan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan bahasa.

Pada masa tersebut, bahasa Jawa memiliki kedudukan penting dalam lingkungan pemerintahan dan kalangan elite. Para penguasa lokal di Priangan juga memiliki hubungan dengan struktur kekuasaan Mataram.

Selain itu, perpindahan masyarakat Jawa ke wilayah Priangan semakin mempertemukan kedua kelompok masyarakat tersebut. Kontak yang berlangsung dalam waktu panjang kemudian membuka ruang terjadinya pertukaran bahasa dan kebudayaan.

Hal tersebut juga dibahas dalam penelitian Juanda berjudul “Dinamika Penggunaan Ragam Bahasa Dialek Jawa Barat” (2018), yang menunjukkan bahwa hubungan antarmasyarakat dan perkembangan sosial turut memengaruhi penggunaan ragam bahasa di Jawa Barat.

Undak-Usuk Basa Sunda dan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembahasan ini adalah kemiripan antara undak-usuk basa Sunda dan sistem unggah-ungguh dalam bahasa Jawa.

Dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan tutur yang penggunaannya disesuaikan dengan hubungan antara penutur dan lawan bicara. Ragam seperti ngoko dan krama, misalnya, digunakan dalam situasi sosial yang berbeda dan berkaitan dengan tingkat penghormatan.

Sistem tersebut memiliki kemiripan dengan pembagian ragam bahasa dalam bahasa Sunda, khususnya bahasa loma dan bahasa lemes.

Dalam kajian mengenai undak-usuk basa Sunda, pengaruh bahasa Jawa terhadap sistem tersebut juga pernah dibahas oleh sejumlah peneliti. Salah satunya adalah penelitian Lukmana (2004) yang membahas hubungan sistem tingkat tutur dengan perkembangan penggunaan bahasa Sunda.

Sementara itu, Rosmana (2004) dalam kajiannya mengenai undak-usuk basa Sunda juga membahas bagaimana sistem tersebut berkembang dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.

Dari berbagai kajian tersebut, muncul kesimpulan bahwa undak-usuk basa Sunda memiliki hubungan erat dengan pengaruh sistem tingkat tutur bahasa Jawa.

Dengan kata lain, undak-usuk basa Sunda bukanlah sistem yang muncul tanpa proses sejarah. Sistem tersebut berkembang melalui interaksi panjang antara masyarakat Sunda dan Jawa.

Pengaruh Jawa Tidak Hanya pada Undak-Usuk

Pengaruh bahasa Jawa terhadap bahasa Sunda tidak hanya dapat dilihat dari sistem tingkat tutur. Pertukaran juga terjadi pada tingkat kosakata.

Salah satu contoh yang cukup mudah ditemukan adalah kata wengi dalam bahasa Sunda dan bengi dalam bahasa Jawa. Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu malam.

Dalam kajian mengenai bahasa Sunda, Coolsma (1985) juga menjadi salah satu rujukan penting dalam pembahasan hubungan kosakata Sunda dan Jawa. Sejumlah kosakata dalam bahasa Sunda menunjukkan adanya hubungan dengan bahasa Jawa, terutama setelah kedua masyarakat semakin sering berinteraksi.

Artinya, pengaruh antarbasa merupakan hal yang wajar dalam sejarah perkembangan suatu bahasa. Ketika dua kelompok masyarakat hidup berdampingan dan berinteraksi dalam waktu lama, pertukaran kata dan cara berbahasa sangat mungkin terjadi.

Hubungan Undak-Usuk dengan Struktur Sosial

Undak-usuk basa Sunda juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan struktur sosial masyarakat Priangan.

Dalam buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800–1942, sejarawan Nina Herlina Lubis menjelaskan kehidupan kelompok menak dalam struktur sosial masyarakat Priangan pada masa kolonial. Dalam masyarakat yang memiliki pembagian status sosial seperti itu, bahasa juga dapat menjadi salah satu penanda hubungan sosial.

Hal serupa dapat dilihat dalam kajian Edi S. Ekadjati melalui buku Kebangkitan Kembali Orang Sunda (2004), yang membahas perjalanan sejarah dan perubahan masyarakat Sunda.

Dalam masyarakat yang mengenal perbedaan kedudukan antara golongan elite dan masyarakat kebanyakan, cara seseorang berbicara dapat menunjukkan hubungan antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Bahasa lemes, misalnya, digunakan untuk menunjukkan penghormatan kepada orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan tertentu. Sebaliknya, ragam bahasa yang lebih akrab digunakan dalam hubungan yang dianggap setara.

Karena itu, undak-usuk basa Sunda bukan hanya persoalan sopan atau tidak sopan dalam berbicara, tetapi juga memiliki kaitan dengan sejarah struktur sosial masyarakat Priangan.

Jadi, Apakah Undak-Usuk Bukan Budaya Asli Sunda?

Jika istilah “asli Sunda” dimaknai sebagai sesuatu yang sudah ada dalam masyarakat Sunda sebelum terjadinya kontak kuat dengan masyarakat Jawa, maka undak-usuk basa seperti yang dikenal sekarang tidak dapat disebut sebagai sistem yang sejak awal sudah ada dalam bahasa Sunda.

Naskah-naskah Sunda lama menunjukkan bahwa penggunaan bahasa pada masa Sunda Buhun belum mengenal sistem tingkatan yang ketat seperti sekarang. Sistem tersebut kemudian berkembang dalam perjalanan sejarah, terutama ketika terjadi kontak yang semakin intensif dengan masyarakat dan kekuasaan Jawa.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa undak-usuk harus dianggap sebagai sesuatu yang “bukan Sunda”.

Setelah digunakan oleh masyarakat Sunda selama berabad-abad, sistem tersebut telah mengalami proses adaptasi dan pembentukan kembali sesuai dengan kehidupan masyarakat Sunda. Dalam proses tersebut, unsur yang datang dari luar dapat berubah dan mendapatkan makna baru dalam lingkungan masyarakat penerimanya.

Dengan demikian, lebih tepat jika undak-usuk basa Sunda dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan bahasa Sunda yang mendapat pengaruh kuat dari bahasa dan struktur sosial Jawa, bukan sebagai sesuatu yang sejak awal sepenuhnya berasal dari tradisi Sunda Buhun.

Bahasa Sunda Selalu Mengalami Perubahan

Perjalanan undak-usuk basa Sunda menunjukkan bahwa bahasa merupakan bagian dari sejarah masyarakat. Bahasa yang digunakan sekarang tidak selalu sama dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat ratusan tahun lalu.

Pengaruh politik, perpindahan penduduk, hubungan antarkerajaan, kolonialisme, pendidikan, dan interaksi antarmasyarakat dapat mengubah cara manusia berkomunikasi.

Karena itu, mengetahui bahwa undak-usuk basa Sunda mendapat pengaruh dari Jawa tidak berarti mengurangi nilai atau keaslian bahasa Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda saat ini.

Justru, sejarah tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sunda memiliki perjalanan yang panjang dan dinamis. Bahasa Sunda berkembang melalui berbagai perjumpaan, termasuk perjumpaan dengan masyarakat Jawa.

Memahami sejarah undak-usuk bukan semata-mata untuk menentukan mana yang “asli” dan mana yang “bukan asli”, tetapi untuk mengetahui bagaimana bahasa Sunda terbentuk, berubah, dan terus hidup bersama masyarakat penuturnya.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *