38°C
16/04/2026
Budaya

Bakbrung: Warisan Terebangan Sarat Nilai Spiritual dari Cigugur Girang, Bandung Barat

  • April 16, 2026
  • 3 min read
Bakbrung: Warisan Terebangan Sarat Nilai Spiritual dari Cigugur Girang, Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Di wilayah Cigugur Girang, Kabupaten Bandung Barat, berkembang kesenian tradisional bernama Bakbrung yang kaya akan nilai sejarah dan spiritual. Kesenian terebangan khas Sunda ini telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Istilah “Bakbrung” berasal dari ungkapan ditepak ngagembrung yang berarti ditepuk hingga menghasilkan bunyi, sesuai dengan teknik memainkan alat musik utamanya, yaitu terebang.

Dalam satu pertunjukan Bakbrung, biasanya digunakan satu terebang indung berdiameter sekitar 75 cm dan dua terebang anak berukuran lebih kecil yang dikenal sebagai terebang tumbal. Ketiga instrumen ini menjadi inti pertunjukan, menghasilkan irama khas yang menjadi ciri utama Bakbrung.

Menurut para sesepuh setempat, kesenian ini dahulu erat kaitannya dengan kehidupan agraris masyarakat. Bakbrung kerap dipentaskan dalam ritual ampih pare, yaitu upacara setelah panen padi, serta dalam tradisi numbal sebagai bentuk tolak bala. Namun, perubahan zaman membawa dampak besar. Lahan persawahan di daerah tersebut mulai berkurang, sehingga fungsi ritualnya pun perlahan mengalami pergeseran.

Dalam penyajiannya, Bakbrung memiliki tahapan yang terstruktur. Pertunjukan diawali dengan persiapan, termasuk penyediaan sesajen sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi, seperti makanan kukusan, minuman, rokok, keris, serta beras yang diberi telur. Selanjutnya, acara dibuka dengan sambutan, lalu dilanjutkan ke pertunjukan inti, dan diakhiri dengan tahap penutup.

Upaya pelestarian Bakbrung turut terdokumentasi dalam film Tumurun karya Desty Nursyiam. Salah satu tokoh penting dalam pelestarian ini adalah Mak Ratna, yang melanjutkan warisan dari suaminya, Abah Entang, bersama anak-anaknya.

Secara konsep, Bakbrung memiliki kemiripan dengan seni gembyung karena sama-sama menggunakan terebang. Namun, nuansa magis dalam Bakbrung terasa lebih kuat. Penggunaan kemenyan dan sesajen menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Bahkan, para pengibing kerap mengalami trance atau kondisi tidak sadar saat menari mengikuti irama. Gerakan yang spontan dan energik membuat pertunjukan biasanya dilakukan secara lesehan.

Keaslian menjadi prinsip utama dalam Bakbrung. Alat musik tidak boleh diganti, kecuali bagian kulitnya jika rusak, karena diyakini dapat memengaruhi keselarasan suara. Repertoar lagu juga bersifat tetap, dimulai dari “Bubuka”, “Ayun Ambing”, hingga lagu-lagu lain seperti “Dengdo”, “Alelaes”, dan “Bubur Beureum”. Lagu “Koncrang” jarang dimainkan karena tingkat kesulitannya tinggi.

Dari segi bahasa, lagu-lagu dalam Bakbrung menggunakan bahasa Sunda buhun yang diperkirakan telah ada sebelum masuknya pengaruh Islam di wilayah Bandung Utara. Hal ini terlihat dari penggunaan istilah-istilah lama yang berpadu dengan unsur religius, seperti dalam lagu “Laillah Deungdeu”.

Sistem pewarisan dilakukan secara alami tanpa pendidikan formal. Generasi muda belajar dengan mengikuti pertunjukan sejak kecil. Fenomena unik lainnya, para pemain umumnya hanya mengingat lagu saat pertunjukan berlangsung, yang diyakini berkaitan dengan unsur spiritual dalam ritual.

Hingga kini, Bakbrung masih ditampilkan dalam berbagai acara, seperti peringatan Muharram, Maulid Nabi, khitanan, pernikahan, hingga syukuran rumah baru. Dalam kepercayaan masyarakat, tidak digelarnya Bakbrung pada waktu tertentu dapat membawa dampak buruk, sehingga alat musiknya disebut sebagai terebang tumbal.

Meski demikian, seiring perkembangan zaman, kesakralan Bakbrung mulai mengalami penyesuaian. Beberapa unsur ritual kini tidak lagi seketat dahulu, melainkan disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Namun, nilai budaya dan semangat pelestariannya tetap kuat. Bakbrung bukan sekadar pertunjukan, melainkan cerminan hubungan manusia dengan tradisi, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan lintas generasi.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *