Menelusuri Kabuyutan Purba dan Jejak Arkeologis Situs Batu Lonceng Lembang
INFO BANDUNG BARAT — Di sebelah timur kawasan Gunung Batu Lembang, berdiri sebuah situs kebudayaan purba yang konon menyimpan kekayaan sejarah sekaligus kabut misteri tatar Sunda. Kompleks sakral tersebut bernama Situs Batu Lonceng yang secara administratif terletak di wilayah Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Situs budaya ini diperkirakan merupakan sebuah area kabuyutan kuno yang memiliki usia prasejarah jauh lebih tua daripada garis waktu peradaban Sunda Klasik. Tafsiran arkeologis tersebut didasarkan pada interpretasi atas temuan penting berupa arca Cikapundung yang memuat angka tahun sekitar 1263 Saka atau setara dengan tahun 1341 Masehi.
Secara tipologi, arca Cikapundung tersebut mengusung gaya estetika campuran Polinesia-Pajajaran. Benda cagar budaya ini ditemukan pertama kali di kawasan hulu Sungai Cikapundung dalam posisi berada di atas struktur bangunan berundak teras yang diwujudkan dalam bentuk antropomorfik atau menyerupai perwujudan manusia. Meskipun dokumen kearsipan masa lampau tidak merinci koordinat lokasinya secara presisi, petunjuk geografi menunjuk kuat pada wilayah sekitar bantaran hulu Ci Kapundung yang saat ini masuk ke dalam administrasi Desa Suntenjaya. Beberapa sumber kearsipan menyebutkan bahwa arca tersebut ditemukan di sekitar perkebunan kina masa kolonial, dan kini telah dirawat sebagai koleksi resmi Museum Nasional dengan nomor inventaris 479c/D184. Jika diselaraskan dengan kronologi monarki lokal, masa pembuatan arca ini bertepatan dengan era kekuasaan Prabu Ragamulya Luhurprabawa yang memimpin Kerajaan Sunda antara tahun 1340 hingga 1350 Masehi.
Rekam Jejak Toponimi Geografis dalam Manuskrip Kuno Perjalanan Bujangga Manik
Penemuan benda purbakala di Suntenjaya ini semakin memperkuat dugaan para ahli mengenai rute kunjungan tokoh legendaris Bujangga Manik ke dataran tinggi Bandung Utara. Dalam manuskrip kuno yang ditulis pada abad ke-15 Masehi, dikisahkan secara rinci mengenai perjalanan spiritual sang resi pengelana saat melintasi wilayah utara Ujung Berung. Catatan perjalanan tersebut secara spesifik menyitir beberapa nama toponimi yang masih dapat diidentifikasi hingga era modern saat ini. Bujangga Manik menyebutkan ia melewati Bukit Karesi, Bukit Langlayang yang diidentifikasi sebagai Gunung Manglayang di utara Cibiru, serta Gunung Palasari yang berdiri tegak di kawasan Suntenjaya. Sang pengelana kemudian menyeberangi Sungai Cisaunggalah dan berjalan lurus ke arah barat hingga tiba di kawasan Bukit Patenggeng.
Manuskrip Bujangga Manik sendiri diperkirakan ditulis oleh sang tokoh pada kurun waktu antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 Masehi. Pakar filologi J. Noorduyn dan A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan epik ini berlangsung pada masa ketika Kesultanan Malaka masih memegang kendali penuh atas jalur perniagaan maritim Nusantara, jauh sebelum pelabuhan strategis tersebut jatuh ke tangan kolonial Portugis pada tahun 1511 Masehi. Di dalam naskah tersebut, tertulis setidaknya 450 nama kawasan, termasuk di antaranya 90 nama gunung dan 50 nama aliran sungai. Karya sastra berbentuk puisi Sunda kuno yang berjumlah 1.641 baris ini dikategorikan sebagai codex unicus karena bersifat autentik, tidak pernah disalin ulang oleh juru tulis lain, dan menjadi satu-satunya dokumen asli yang tersisa di dunia.
Kedudukan Geografis Batu Lonceng dan Mitos Kosmologi Ciung Wanara
Secara fisik, formasi arsitektur Situs Batu Lonceng berupa struktur punden berundak yang didirikan kokoh di atas perbukitan. Situs ini berada tepat di lereng sebelah utara Gunung Palasari, diapit oleh kemegahan Gunung Bukittunggul, serta dipisahkan secara alami oleh aliran hulu Sungai Cikapundung. Berdasarkan kearifan lokal tatar Pasundan, penamaan Gunung Bukittunggul sebenarnya lebih dipercaya merujuk pada kata beuti yang bermakna akar pohon atau tunggul, sebuah leksikon mistis yang mengacu pada material kayu yang digunakan oleh Sangkuriang untuk merakit perahu purba dalam legenda tangkuban parahu.
Eksistensi situs ini juga sempat terekam dalam buku panduan ekspedisi kolonial berjudul Gids voor Bergtochten op Java yang ditulis oleh ahli gunung api Dr. Ch. E. Stehn pada tahun 1930. Berdasarkan ingatan kolektif yang diwariskan oleh juru pelihara pertama bernama Eyang Haih, kompleks Batu Lonceng dipercaya telah dirawat sejak tahun 1816 Masehi sebagai area petilasan suci bagi Sembah Dalem Sunan Margataka atau yang lebih dikenal luas dalam babad sejarah sebagai Prabu Wanara alias Ciung Wanara. Keyakinan sosiologis tersebut diperkuat oleh dokumen kartografi Belanda bertajuk Geologisch Kaart karya Van Bemmelen pada tahun 1934 yang mencantumkan nama daerah Gegersunten di lereng selatan Gunung Bukittunggul, sebuah nama kuno yang identik dengan pusat kekuasaan dalam mitologi klasik Galuh lama.