Cikole: Sejarah Balitsa, Tanah Subur yang Menyimpan Kisah Cinta Juragan Belanda
INFO BANDUNG BARAT–Di kawasan sejuk Cikole, Lembang, berdiri sebuah lembaga penelitian pertanian yang dikenal sebagai Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Didirikan pada tahun 1939 oleh pemerintah kolonial Belanda, Balitsa awalnya bernama Proefstation voor de Groenteteelt—sebuah kebun percobaan untuk sayuran dan pengendalian hama.
Tanahnya subur, berhawa dingin, dan strategis di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Tidak heran jika kawasan ini menjadi pusat penting penelitian hortikultura sejak zaman Hindia Belanda hingga kini.
Transformasi Balitsa dari Masa ke Masa
Balitsa mengalami beberapa kali perubahan nama dan fungsi:
- 1942–1945: Culture Technisch Instituut
- 1950–1960: Kebun Percobaan Margahayu
- 1981: Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP)
- 1982: Balai Penelitian Hortikultura (BPH)
- 1994: Resmi bernama Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa)
Kini Balitsa menjadi unit teknis di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Kementerian Pertanian. Fokusnya meliputi genetika tanaman, teknologi agribisnis, dan produksi benih unggul sayuran.
Kisah Marietje: Warisan yang Terpendam
Namun tak banyak yang tahu, di balik kawasan penelitian ini, tersimpan kisah pribadi dan sejarah kolonial. Dulu, lahan Balitsa merupakan bagian dari perkebunan milik Van De Root, seorang Belanda yang menikah dengan Marietje, perempuan pribumi asal Sukabumi.
Perkebunan mereka luas, mencapai 42 hektare. Saat Indonesia memasuki masa revolusi, Van De Root kembali ke negaranya. Marietje pun pindah ke Subang. Sebagian tanahnya—sekitar 14 hektare—diambil alih negara dan menjadi cikal bakal Balitsa.
Makam Marietje di Tengah Kebun Sayur
Marietje wafat tanpa keturunan. Ia dimakamkan di depan rumahnya, yang kini menjadi bagian dari kompleks Balitsa. Lokasi makamnya tersembunyi di antara kebun, tanpa tanda mencolok. Sebuah kisah cinta dan tanah yang perlahan hilang dari ingatan.
Tak hanya Marietje, beberapa pemilik kebun kolonial lainnya juga dimakamkan di sekitar kawasan Cikole, seperti Tuan Stet dan Elman. Sayangnya, banyak makam yang kini tak terawat, bahkan terabaikan di area yang berubah fungsi.
Kenapa Kisah Ini Penting?
Cerita tentang Balitsa bukan hanya soal penelitian sayuran, tetapi juga tentang hubungan manusia, tanah, dan sejarah. Tanah yang dahulu milik pribadi, kini menjadi milik negara. Warisan personal yang menyatu dalam narasi institusi.
Dengan menjaga ingatan akan Marietje dan sejarah Balitsa, kita turut menjaga warisan lokal yang mudah hilang ditelan pembangunan dan waktu.
Dari Laboratorium ke Destinasi Edukatif
Tak hanya untuk riset, Balitsa kini juga terbuka sebagai tempat wisata edukasi pertanian. Anak-anak sekolah hingga mahasiswa kerap datang untuk belajar langsung mengenai:
- Siklus hidup tanaman hortikultura
- Teknik bercocok tanam dan panen
- Lingkungan pertanian berkelanjutan
Suasana tenang, pohon pinus, dan rumah kaca menjadikan Balitsa juga populer untuk foto pre-wedding dan kunjungan keluarga.