Cipatat dalam Catatan Kolonial: Benteng Ciparang dan Sejarah Militernya
INFO BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat tidak hanya dikenal melalui lanskap alamnya yang memesona, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang belum banyak terungkap. Di balik perbukitan kapur dan kawasan latihan militer yang masih aktif hingga kini, terdapat sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kolonial dan perjuangan bangsa Indonesia. Bangunan tersebut dikenal oleh warga setempat sebagai Benteng Ciparang atau Benteng 11 Kamar, yang terletak di Kampung Ciparang, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Lokasi benteng ini tidak jauh dari Benteng Bukit 500 di Kampung Margaluyu, Desa Citatah. Keberadaan dua benteng dalam satu kawasan memperkuat dugaan bahwa wilayah Cipatat sejak lama memiliki posisi strategis dalam kepentingan militer. Hingga saat ini, kawasan Cipatat masih berstatus sebagai area latihan militer dan digunakan untuk menggembleng kemampuan tempur prajurit Tentara Nasional Indonesia. Keberlanjutan fungsi tersebut menunjukkan bahwa sejak masa kolonial, wilayah ini telah dianggap strategis dan memenuhi kebutuhan latihan militer.
Namun demikian, tidak semua warga mengetahui sejarah awal keberadaan benteng di Ciparang. Sebagian besar masyarakat hanya memahami bahwa area tersebut merupakan bagian dari kawasan latihan militer, sementara lahan di sekitarnya yang digarap warga berstatus sebagai milik institusi militer.
Sejarah pasti pendirian Benteng Ciparang belum ditemukan secara tertulis. Meski demikian, sejumlah arsip dan pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda dari awal abad ke-20 memperkuat dugaan bahwa benteng ini berkaitan erat dengan fungsi Cipatat sebagai kawasan militer Hindia Belanda. Harian Sumatra Post edisi 11 April 1929 mencatat adanya kursus latihan menembak karabin dan senapan mesin yang diselenggarakan di Cipatat. Informasi tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini telah lama difungsikan sebagai pusat pelatihan persenjataan bagi tentara kolonial.
Pemberitaan lain dimuat oleh Het Nieuws van den Dag pada 5 Oktober 1927 yang mengulas rencana perluasan lokasi latihan menembak di Cipatat dan Cikadu, wilayah yang berbatasan dengan Banten. Perluasan ini dipandang perlu karena lokasi latihan menembak di Cisalak, dekat Sukabumi, dinilai tidak lagi memenuhi syarat keselamatan. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa Cipatat dipandang sebagai kawasan yang lebih aman dan layak untuk latihan militer intensif.
Aktivitas latihan militer di Cipatat juga tercatat tidak selalu berjalan tanpa risiko. Dalam terbitan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië tanggal 23 Februari 1929, disebutkan adanya kecelakaan latihan yang menimpa seorang prajurit Belanda bernama Sersan Glese, yang mengalami patah tulang selangka kiri. Catatan ini menjadi bukti bahwa kawasan Cipatat benar-benar aktif digunakan sebagai medan latihan militer, bukan sekadar lokasi pendukung.
Keberadaan Benteng Ciparang hingga kini menjadi penanda penting dari jejak kawasan militer Hindia Belanda di Cipatat. Meskipun sebagian struktur bangunan telah termakan usia dan perubahan zaman, benteng ini tetap menyimpan nilai historis yang tinggi sebagai bagian dari sejarah lokal Bandung Barat.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah