38°C
03/04/2026
Sejarah

Curug Malela: “The Little Niagara” yang Menyimpan Sejarah Purba dan Legenda Mistik

  • Februari 17, 2026
  • 3 min read
Curug Malela: “The Little Niagara” yang Menyimpan Sejarah Purba dan Legenda Mistik

INFO BANDUNG BARAT — Tersembunyi di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Curug Malela menjadi salah satu destinasi wisata alam yang memikat hati. Air terjun setinggi 60–70 meter ini dikenal luas sebagai “The Little Niagara” di Bandung Barat karena lebar air terjunnya yang mencapai 70 meter. Tidak hanya menawarkan pemandangan menakjubkan, Curug Malela juga menyimpan sejarah, legenda, dan kepercayaan masyarakat yang kaya akan budaya lokal.

Sejarah Geologi: Bentukan Gunung Api Purba

Secara ilmiah, Curug Malela terbentuk antara 5 hingga 10 juta tahun lalu akibat aktivitas vulkanik. Letusan gunung api purba menghasilkan kaldera raksasa berdiameter sekitar 15 kilometer di wilayah barat Ciwidey, yang kemudian mengalirkan Sungai Cidadap melalui Kecamatan Gununghalu, Rongga, hingga Cisokan.

Aliran sungai inilah yang membentuk Curug Malela dari endapan breksi dan batu pasir sisa letusan beberapa gunung api purbakala di selatan Jawa Barat. Keunikan formasi batuannya membuat air terjun ini tampak megah dan kokoh, seolah bertahan menantang waktu selama jutaan tahun.

Asal Usul Nama dan Jejak Sejarah Spiritual

Nama Curug Malela memiliki akar budaya dan sejarah yang mendalam. Dalam bahasa Sunda, “curug” berarti air terjun, sedangkan “Malela” diambil dari nama Eyang Prabu Tadjimalela, seorang tokoh penyebar agama Islam dari Kerajaan Sumedanglarang. Konon, Curug Malela dahulu menjadi tempat bertapa beliau sehingga area ini memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat sekitar.

Sejak dahulu, masyarakat Kampung Manglid mengelola kawasan ini secara turun-temurun. Baru pada tahun 1985 dibuat jalan setapak untuk memudahkan akses menuju air terjun. Sebelum menjadi destinasi wisata, area sekitar Curug Malela digunakan untuk berkebun dan bertani, menambah nuansa alami yang masih terasa hingga kini.

Mitos dan Legenda yang Melekat

Curug Malela tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga kaya akan legenda. Warga secara turun-temurun menceritakan sosok kakek berjenggot putih yang diyakini sebagai Eyang Tadjimalela, penjaga keasrian dan ketenangan air terjun. Ada pula mitos jodoh yang menyebutkan bahwa membasuh muka atau mandi di air terjun dapat mempercepat pertemuan dengan jodoh. Beberapa batu di sekitar curug dipercaya menyimpan energi mistis yang memberikan ketenangan atau keberuntungan bagi yang menyentuhnya, meskipun pengunjung tetap harus berhati-hati di area yang licin dan curam.

Selain itu, terdapat pantangan yang dijaga ketat, yakni larangan berkata kasar atau berperilaku tidak senonoh selama berada di sekitar curug karena dianggap dapat memicu kemarahan penunggu. Masyarakat juga meyakini pentingnya tidak membawa pulang batu atau benda lain dari area curug, selain sebagai bentuk pelestarian alam, juga untuk menjaga keharmonisan tempat ini.

Popularitas Curug Malela mulai meningkat pada tahun 2007 melalui media sosial seperti Facebook. Semakin banyak pengunjung yang datang, pemerintah kemudian mulai mengelola kawasan ini dan mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kecamatan Rongga. Kini, Curug Malela tidak hanya menawarkan pesona alam yang memukau, tetapi juga pengalaman budaya, sejarah, dan spiritual yang unik.

Curug Malela bukan sekadar air terjun; ia merupakan perpaduan keindahan alam, sejarah purba, dan legenda mistis yang menjadikannya salah satu permata tersembunyi di Bandung Barat. Menjaga etika dan kelestarian lingkungan saat berkunjung adalah cara terbaik untuk menghormati warisan alam dan budaya yang telah bertahan jutaan tahun ini.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *