38°C
03/11/2026
Sejarah

Epik Peradaban dari Hamparan Palawija hingga Mahakarya Batu di Gunung Bentang Padalarang

  • November 3, 2026
  • 5 min read
Epik Peradaban dari Hamparan Palawija hingga Mahakarya Batu di Gunung Bentang Padalarang

INFO BANDUNG BARAT — Di balik hiruk-pikuk laju modernisasi dan deru kendaraan yang membelah kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, tersimpan sebuah lanskap historis yang merekam jejak panjang peradaban manusia dari masa ke masa. Kawasan tersebut bernama Gunung Bentang, sebuah episentrum kehidupan yang menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat lokal beradaptasi, bertahan, dan berevolusi.

Membicarakan Gunung Bentang bukan sekadar membahas tentang peta geografis atau titik koordinat di tatar Pasundan, melainkan membuka lembaran sebuah narasi epik mengenai harmoni antara manusia, kelembutan tanah pertanian, hingga kekerasan batu alam yang dipahat menjadi urat nadi perekonomian. Di bentang alam inilah, jejak-jejak masa lalu tidak hanya tertulis dalam literatur akademis, tetapi hidup, berdenyut, dan diwariskan dalam keseharian masyarakatnya.

Jejak Toponimi dan Romantisisme Agraris

Menelusuri asal-usul nama Gunung Bentang laksana menelusuri lorong waktu menuju era ketika manusia sangat terikat dengan siklus alam semesta. Berdasarkan catatan toponimi dalam Sistem Informasi Nama Rupabumi (SINAR) yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), penamaan Gunung Bentang menyimpan memori tentang masa kejayaan agraris pada masa lampau. Nama “Bentang” secara etimologis diyakini berakar dari kosakata bahasa Sunda, yakni ngabentang, yang memiliki arti memanen.

Pada masa silam, kawasan ini begitu masyhur sebagai lumbung pertanian palawija yang sangat subur. Masyarakat setempat pada era tersebut juga sangat akrab dengan ungkapan kultural ngabentang bonteng, sebuah istilah lisan yang merujuk pada euforia panen pertama mentimun. Momen ini bukan sekadar aktivitas ekonomi semata, melainkan sebuah perayaan syukur yang mengikat kohesi sosial antarwarga desa.

Di sisi lain, sejarah lisan sering kali menawarkan kekayaan perspektif yang tidak kalah menarik. Selain catatan toponimi resmi tersebut, terdapat pula cerita turun-temurun yang terus dirawat dalam tradisi lisan masyarakat Desa Jayamekar hingga hari ini. Sebagaimana yang didokumentasikan dalam buku Habitus Seni di Bandung Barat, muncul sebuah interpretasi visual bahwa nama tersebut lahir dari topografi kawasan itu sendiri. Gunung Bentang digambarkan sebagai kawasan perbukitan yang memiliki kontur unik. Konon, apabila dilihat dari titik pandang di ketinggian, gugusan bukit ini menyerupai bentuk bintang. Dua penjelasan yang berbeda ini, baik dari akar kata panen maupun metafora visual rasi bintang, justru memperkaya cerita mengenai asal-usul kawasan, menjadikannya warisan ingatan yang melintasi berbagai generasi.

Kejayaan Palawija di Tanah Leluhur

Jauh sebelum denting palu dan deru mesin pemotong batu mendominasi lanskap suara di Gunung Bentang, kawasan ini adalah kanvas hijau yang dilukis oleh keringat tangan-tangan petani tangguh. Kehidupan masyarakat Gunung Bentang pada masa lalu tidak dapat dilepaskan dari denyut aktivitas pertanian yang intensif. Tanah vulkanis yang subur serta iklim pegunungan yang mendukung menjadikan kawasan ini sebagai ladang harapan yang menjanjikan.

Masih merujuk pada catatan dalam Habitus Seni di Bandung Barat, hamparan lahan di wilayah ini pernah memproduksi beragam hasil bumi yang melimpah ruah. Padi, jagung, hamparan kacang kedelai, kacang tanah, hingga rimbunnya kacang panjang tumbuh subur berdampingan. Belum lagi deretan umbi-umbian, cabai, bawang, dan mentimun yang menjadi komoditas andalan masyarakat setempat. Keberagaman hasil bumi tersebut secara gamblang melukiskan potret kehidupan peradaban agraris yang mandiri. Masyarakatnya bertumpu penuh pada pemanfaatan tanah dan sumber daya alam di sekitarnya. Aktivitas bercocok tanam sejak fajar menyingsing hingga senja temaram menjadi bagian dari rutinitas penduduk, sekaligus membentuk karakter sosiokultural kawasan ini.

Dinamika Administratif dan Lahirnya Desa Jayamekar

Seiring berjalannya waktu, roda sejarah terus berputar membawa dinamika sosial dan birokrasi yang baru. Pertumbuhan populasi dan perluasan permukiman mengharuskan masyarakat Gunung Bentang untuk beradaptasi dengan sistem pemerintahan yang lebih terstruktur. Dalam perjalanan administratifnya, kawasan Gunung Bentang pada mulanya merupakan bagian integral dari wilayah Desa Padalarang. Akan tetapi, desa induk tersebut dinilai memiliki cakupan wilayah yang terlampau luas. Jarak yang membentang jauh menjadi kendala nyata; warga Gunung Bentang acap kali menghadapi persoalan ketika harus mengurus administrasi kependudukan maupun membayar pajak ke kantor desa.

Keresahan birokratis ini memuncak pada penghujung era 1970-an. Tepatnya pada tahun 1979, sejumlah tokoh masyarakat mulai mengonsolidasikan gagasan untuk mengusulkan pemekaran desa. Setelah melalui proses musyawarah yang panjang dan lobi untuk mendapatkan persetujuan pemerintah daerah, cita-cita kemandirian itu akhirnya terwujud. Pada tanggal 22 Juni 1980, Desa Jayamekar resmi berdiri sebagai entitas administratif yang baru. Pembentukan desa ini menjadi tonggak sejarah penting, sebuah langkah maju bagi masyarakat yang sebelumnya selalu bergantung pada pusat administrasi Desa Padalarang.

Transformasi Menuju Sentra Mahakarya Batu

Memasuki babak baru, kawasan ini membuktikan bahwa peradaban mereka tidak hanya bergantung pada kelembutan tanah palawija. Selain pertanian, sejarah Gunung Bentang bergeser dan berjalin kelindan dengan kecerdasan lokal dalam keterampilan mengolah batu. Sumber daya alam berupa material batuan yang tersedia di kawasan perbukitan tersebut mulai dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menciptakan berbagai perkakas rumah tangga, seperti cobek, mutu atau ulekan, lumpang, hingga lesung.

Pusat dari tradisi pengolahan batu ini berada di Kampung Tegalmantri Gunung Bentang. Dalam sebuah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah Desa Jayamekar pada 11 September 2017 bertajuk Sentra Cobek Desa Jayamekar, Kampung Tegalmantri dikukuhkan sebagai salah satu lokasi utama produksi cobek batu. Berdasarkan hasil observasi dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Langlangbuana, mayoritas warga setempat menggantungkan mata pencahariannya sebagai perajin cobek. Dengan sistem distribusi yang kian meluas, hasil pahatan dari tangan-tangan terampil Gunung Bentang ini berhasil dipasarkan menembus berbagai kota besar di Pulau Jawa hingga merambah pelosok Pulau Sumatra.

Tradisi pengolahan batu di kawasan ini bahkan mendapat pengakuan dalam literatur arkeologi nasional. Sebagaimana yang diulas mendalam dalam buku Teknologi dalam Arkeologi, Gunung Bentang dikenal sebagai salah satu situs penting dalam pelestarian tradisi pembuatan lumpang batu. Para perajin menggunakan material yang berasal dari bongkahan batu gunung maupun batuan andesit yang diambil dari aliran sungai. Dengan bermodalkan alat pahat logam dan palu, batu-batu kasar tersebut dibentuk dengan presisi dan ketelitian tingkat tinggi.

Adaptasi Teknologi dan Pewarisan Pengetahuan

Keterampilan yang diwariskan lintas generasi ini terus berevolusi seiring dengan tuntutan zaman dan perubahan teknik produksi. Seperti yang dijelaskan dalam Habitus Seni di Bandung Barat, pembuatan coet (cobek) dan mutu di Desa Jayamekar kini menggunakan beberapa metode yang beragam. Jika pada masa lalu perajin murni mengandalkan pahatan manual, kini masyarakat mulai mengadopsi teknik cetakan hingga penggunaan mesin bubut. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana keterampilan mengolah batu tidak menjadi dogma yang kaku, melainkan bagian dari pengetahuan dinamis masyarakat yang terus disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi kontemporer.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *