38°C
11/06/2026
Budaya

ISBI Bandung, Menjaga Denyut Seni di Tanah Sunda

  • April 9, 2026
  • 3 min read
ISBI Bandung, Menjaga Denyut Seni di Tanah Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, keberadaan lembaga pendidikan seni menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga identitas budaya. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung hadir sebagai ruang hidup bagi seni, tempat di mana tradisi tidak hanya disimpan, tetapi juga dihidupkan kembali dan ditafsir ulang oleh generasi baru.

Jejak perjalanan ISBI Bandung bermula pada 31 Maret 1968, ketika Konservatori Tari (KORI) didirikan di Bandung. Pada masa itu, kesadaran akan pentingnya pelestarian seni tradisional, khususnya tari Sunda, mulai tumbuh di kalangan budayawan dan seniman Jawa Barat. KORI menjadi wadah awal bagi upaya tersebut, sebuah ruang sederhana yang mempertemukan semangat belajar dengan kecintaan terhadap warisan budaya.

Seiring waktu, kebutuhan akan pendidikan seni yang lebih terstruktur mendorong perubahan. Pada tahun 1970, KORI berkembang menjadi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Setahun kemudian, lembaga ini resmi menjadi ASTI Jurusan Sunda, menegaskan posisinya sebagai pusat pembelajaran dan pelestarian seni tradisional Sunda. Di fase ini, seni tidak hanya diajarkan sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai nilai, sebagai cara memahami identitas dan sejarah masyarakatnya.

Masuknya ASTI Bandung ke dalam program nasional pengembangan seni pada tahun 1976 menandai babak baru. Seni tidak lagi dipandang sebagai ranah lokal semata, melainkan bagian dari strategi kebudayaan nasional. Di titik ini, ASTI menjadi jembatan antara tradisi daerah dan wacana kebudayaan Indonesia yang lebih luas.

Transformasi berikutnya terjadi pada tahun 1995, ketika ASTI berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Perubahan ini tidak sekadar administratif, tetapi juga mencerminkan perluasan cara pandang terhadap seni itu sendiri. Seni pertunjukan, karawitan, teater, hingga seni rupa mulai berkembang berdampingan. STSI menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan eksperimen, antara pakem lama dan kemungkinan baru.

Puncak transformasi terjadi pada tahun 2014, saat STSI resmi menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Status baru ini membawa peran yang lebih luas, tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat penelitian, penciptaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Seni tidak lagi berhenti di panggung atau ruang kelas, melainkan hadir dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari dinamika sosial dan budaya.

Hari ini, ISBI Bandung berdiri sebagai salah satu penjaga denyut seni di tanah Sunda. Di dalamnya, tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai sumber inspirasi yang terus bergerak. Dari gamelan hingga film, dari tari klasik hingga eksplorasi media baru, ISBI menjadi ruang di mana masa lalu dan masa depan bertemu.

Lebih dari sekadar institusi, ISBI Bandung adalah pengingat bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus dirawat, dipertanyakan, dan dikembangkan. Di sanalah seni menemukan maknanya, sebagai identitas, sebagai ekspresi, dan sebagai jembatan antar-generasi.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *