38°C
11/06/2026
Budaya

Mengenal Si Cepot, Tokoh Ikonik Wayang Golek dari Tanah Sunda

  • April 9, 2026
  • 3 min read
Mengenal Si Cepot, Tokoh Ikonik Wayang Golek dari Tanah Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam khazanah seni pertunjukan Indonesia, wayang golek berdiri sebagai identitas budaya yang tidak terpisahkan dari masyarakat Sunda. Di antara deretan tokoh kayu yang dimainkan oleh dalang, terdapat satu sosok yang selalu mencuri perhatian. Dengan wajah merah menyala dan tingkah jenaka, Si Cepot hadir membawa gelak tawa sekaligus makna yang mendalam.

Dalam pertunjukan wayang golek, terdapat berbagai tokoh dengan karakter beragam. Salah satu yang paling ikonik adalah Cepot. Menurut buku Mengenal Tokoh Wayang Mahabharata karya Akbar Kaelola (2010), Cepot atau Astrajingga merupakan tokoh wayang golek khas Sunda yang sangat populer dan dicintai masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Ia termasuk dalam kelompok punakawan, yakni para pendamping ksatria yang terdiri atas Semar sebagai ayahnya, serta Dawala dan Gareng sebagai saudaranya. Berbeda dengan tokoh lain yang berasal dari kisah Mahabharata atau Ramayana, Cepot merupakan tokoh lokal hasil kreativitas budaya Sunda yang sarat dengan nilai kearifan lokal.

Ciri khas Cepot terletak pada penampilannya yang mencolok dan penuh karakter. Ia digambarkan berwajah merah, bergigi tonggos, dan mengenakan iket kepala khas Sunda. Dalam kajian ilmiah yang ditulis oleh Feri Sandria Nurhida dalam jurnal Prolistik, warna merah pada Cepot dimaknai sebagai simbol keberanian dan sikap pemberontakan terhadap ketidakadilan, seperti perilaku sewenang-wenang dan keserakahan. Meski demikian, tampilannya tetap memancarkan kesan ramah dan menghibur.

Sebagai tokoh punakawan, Cepot memiliki peran penting sebagai wakil suara rakyat kecil. Ia kerap menyampaikan kritik sosial yang tajam, tetapi dibungkus dengan humor ringan dan mudah dipahami. Melalui gaya bicaranya yang spontan dan jenaka, Cepot mampu menyampaikan pesan-pesan bijak tanpa terkesan menggurui.

Menariknya, warna merah yang sering diasosiasikan dengan kejahatan justru memiliki makna berbeda pada diri Cepot. Warna tersebut mencerminkan semangat, keberanian, dan kejujuran. Di balik sikapnya yang lucu, Cepot digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan berprinsip. Ia mampu mengkritik kondisi sosial-politik dengan cara menghibur, sehingga penonton tidak hanya tertawa, tetapi juga diajak untuk merenung.

Dalam setiap pertunjukan wayang golek, kehadiran Cepot sering menjadi penyegar suasana. Dialognya sarat dengan sindiran terhadap berbagai persoalan kehidupan, mulai dari ketimpangan sosial hingga perilaku masyarakat modern. Namun, semua itu disampaikan melalui gaya guyonan yang membuat pesan terasa ringan dan mudah diterima.

Selain itu, Cepot juga dikenal sebagai sosok yang berani dan setia. Ia kerap mendampingi para ksatria, seperti Arjuna, dalam berbagai lakon peperangan. Dengan golok sebagai senjatanya, Cepot tidak segan melawan raksasa atau makhluk jahat lainnya. Perannya menunjukkan bahwa di balik kelucuan, ia juga memiliki jiwa kepahlawanan.

Di tangan dalang, terutama maestro legendaris Asep Sunandar Sunarya, Cepot menjelma menjadi lebih dari sekadar tokoh hiburan. Ia menjadi komentator sosial yang tajam, menyuarakan kritik tentang korupsi, kemiskinan, hingga berbagai penyimpangan dalam kehidupan masyarakat. Uniknya, kritik tersebut disampaikan melalui humor spontan dan gaya slapstick, sehingga pesan yang berat dapat diterima dengan ringan.

Dengan segala keunikan dan kedalaman maknanya, Cepot bukan sekadar tokoh dalam wayang golek. Ia merupakan simbol keberanian, kejujuran, dan suara rakyat yang dibalut dalam tawa. Melalui dirinya, wayang golek tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang relevan sepanjang masa.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *