38°C
06/11/2026
Bhineka

Jemaah Haji Bandung Barat Turun Drastis, Cerminan Ketimpangan Akses SDM?

  • April 10, 2026
  • 3 min read
Jemaah Haji Bandung Barat Turun Drastis, Cerminan Ketimpangan Akses SDM?

INFO BANDUNG BARAT — Jumlah calon jemaah haji asal Kabupaten Bandung Barat mengalami penurunan drastis pada tahun 2026. Jika pada tahun sebelumnya jumlah jemaah mencapai sekitar 1.228 orang, tahun ini hanya 89 orang yang diberangkatkan. Penurunan yang signifikan ini tidak hanya menjadi persoalan angka, tetapi juga mencerminkan adanya ketimpangan akses dalam konteks sumber daya manusia (SDM).

Berdasarkan laporan Media Indonesia (2026), dari total 107 calon jemaah yang telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih), tidak seluruhnya dapat berangkat pada tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa pelunasan biaya tidak serta-merta menjamin keberangkatan, karena terdapat faktor lain yang memengaruhi, terutama kebijakan kuota dan sistem antrean.

Perubahan kebijakan menjadi salah satu faktor utama penyebab penurunan ini. Kuota yang sebelumnya didasarkan pada jumlah penduduk muslim di suatu daerah kini beralih menjadi berbasis daftar tunggu nasional (waiting list). Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan pemerataan secara nasional, namun dalam praktiknya berdampak pada berkurangnya jatah keberangkatan di beberapa wilayah, termasuk Bandung Barat.

Dalam perspektif manajemen SDM, kondisi ini dapat dipahami melalui konsep keadilan distribusi (equity) dan kesetaraan hasil (equality). Robbins dan Judge dalam Organizational Behavior menjelaskan bahwa kebijakan yang berupaya adil secara sistem belum tentu menghasilkan hasil yang setara bagi setiap individu atau kelompok. Dengan kata lain, pemerataan kebijakan tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan akses.

Selain faktor kebijakan, dinamika keberagaman individu juga turut memengaruhi jumlah jemaah yang berangkat. Tercatat sebanyak 12 orang melakukan mutasi ke daerah lain, sementara 6 orang lainnya menunda keberangkatan karena alasan kesehatan maupun keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik individu, seperti kondisi fisik, mobilitas sosial, dan situasi personal, menjadi faktor penting dalam menentukan partisipasi seseorang.

Ivancevich dalam Human Resource Management menyebutkan bahwa keberagaman individu (individual differences) merupakan aspek fundamental dalam memahami perilaku dan partisipasi manusia dalam suatu sistem. Dalam konteks ibadah haji, perbedaan ini menjadi semakin nyata karena melibatkan faktor usia, kesehatan, kesiapan finansial, serta dukungan sosial.

Di sisi lain, terdapat fenomena menarik terkait meningkatnya minat generasi muda terhadap ibadah haji. Data menunjukkan bahwa sekitar 18 persen pendaftar berasal dari kelompok usia 12 hingga 30 tahun, dengan total pendaftar mencapai sekitar 22.700 orang. Hal ini mencerminkan adanya keberagaman generasi dalam SDM, di mana kelompok usia muda cenderung lebih proaktif dalam merencanakan masa depan, termasuk dalam hal ibadah.

Noe dkk. dalam Human Resource Management menekankan bahwa keberagaman usia (age diversity) dapat memengaruhi cara individu dalam mengambil keputusan dan merencanakan tujuan jangka panjang. Generasi muda umumnya memiliki waktu tunggu yang lebih panjang, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan sistem antrean yang berlaku.

Fenomena penurunan jumlah jemaah haji di Bandung Barat pada akhirnya menunjukkan bahwa akses terhadap ibadah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial, tetapi juga oleh kebijakan publik dan keberagaman karakteristik SDM. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kebijakan yang lebih inklusif agar setiap kelompok masyarakat memiliki peluang yang lebih adil.

Amartya Sen dalam Development as Freedom menegaskan bahwa akses terhadap berbagai kesempatan, termasuk dalam hal ibadah, merupakan bagian dari kebebasan manusia yang harus dijamin. Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan tidak hanya bersifat merata secara administratif, tetapi juga adil secara substantif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dengan demikian, penurunan jumlah jemaah haji di Bandung Barat bukan sekadar fenomena statistik, melainkan refleksi dari dinamika sosial yang lebih luas, terutama terkait ketimpangan akses dan keberagaman sumber daya manusia di Indonesia.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *