38°C
05/07/2026
Budaya

Fenomena Hijau dan Biru dalam Perspektif Linguistik dan Budaya Sunda

  • September 12, 2024
  • 2 min read
Fenomena Hijau dan Biru dalam Perspektif Linguistik dan Budaya Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam keseharian masyarakat Sunda, tidak jarang kita menemui orang tua yang merujuk warna biru sebagai warna hijau. Sebagai contoh, perintah untuk mengambil handuk berwarna biru kerap kali diucapkan dengan kalimat punten, pangnyandakeun anduk hejo. Fenomena ini sebenarnya bukan merupakan anomali persepsi visual tunggal pada masyarakat Sunda saja. Pola linguistik serupa juga ditemukan dalam khazanah bahasa Madura, Jawa, Minang, hingga bahasa Jepang. Hal ini menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan cerminan dari evolusi kultural dan linguistik, bukan merupakan bentuk disabilitas penglihatan.

Jika kita menelusuri spektrum warna biru di alam semesta, elemen tersebut memang dapat ditemukan pada cakrawala langit, hamparan samudera, maupun potret bumi dari luar angkasa. Namun, jika diteliti lebih lanjut, warna biru di alam liar sesungguhnya sangatlah langka. Tercatat hanya sekitar sepuluh persen tumbuhan dan kurang dari satu persen hewan yang memiliki pigmen warna biru alami. Fenomena warna biru pada banyak spesies, seperti pada sayap kupu-kupu Morpho, sering kali bukan disebabkan oleh pigmen kimia, melainkan hasil dari ilusi optik akibat struktur susunan sisik sayap yang membiaskan cahaya menjadi spektrum kebiruan.

Evolusi Kognisi Warna Nenek Moyang dan Dominasi Warna Hijau

Nenek moyang manusia kuno membangun konsep pengetahuan warna melalui observasi lingkungan alam sekitar. Mengingat kelangkaan pigmen biru, banyak bahasa di dunia pada masa lampau tidak mengenal kosakata spesifik untuk menyebut warna biru. Akibatnya, warna hijau sering kali diadopsi untuk merepresentasikan spektrum biru dalam komunikasi lisan. Secara spektrum cahaya, warna biru memiliki panjang gelombang yang berdekatan dengan hijau. Dominasi warna hijau yang tersebar melimpah di lingkungan sekitar secara natural menempatkan hijau sebagai kategori warna utama yang paling mudah diidentifikasi dan dinamai dalam sistem bahasa kuno.

Kemunculan kosakata spesifik untuk warna biru merupakan perkembangan yang relatif baru dalam sejarah peradaban bahasa dunia. Dalam tradisi bahasa Arab klasik, warna biru sering kali dimasukkan ke dalam kategori kata al-khadra yang bermakna kehijauan. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan spesifik klasifikasi warna, bahasa Arab kemudian membedakan kata akhdar untuk hijau dan azraq untuk biru. Dinamika linguistik serupa juga terjadi pada rumpun bahasa Roman seperti Spanyol, Prancis, dan Italia. Kosakata untuk warna hijau pada bahasa-bahasa tersebut berasal dari akar kata Latin viridis. Namun, mereka tidak memiliki padanan kata kuno untuk biru, sehingga harus meminjam istilah dari bahasa Jermanik atau Arab untuk mendefinisikan warna langit atau laut yang dalam.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *