Ketika Menstruasi Membuat Malu
INFO BANDUNG BARAT — Hingga kini, sebagian perempuan masih merasa malu ketika mengalami menstruasi setiap bulan. Rasa malu itu bukan muncul secara alami, melainkan dibentuk oleh stigma sosial yang menganggap menstruasi sebagai sesuatu yang kotor, menjijikkan, dan tidak diinginkan. Pandangan tersebut merupakan bentuk period shaming yang terlanjur mengakar akibat konstruksi sosial yang bias.
Tabu ini tampak jelas dalam keseharian. Banyak orang enggan menyebut menstruasi secara langsung dan memilih istilah penghalus seperti “lagi dapat” atau “tamu bulanan”. Pembalut pun kerap disamarkan sebagai “roti Jepang”, lalu dibungkus plastik hitam ketika dibeli di minimarket atau warung kecil, seolah-olah sesuatu yang memalukan jika terlihat orang lain. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya tekanan sosial terhadap hal yang sebenarnya sangat wajar dan dialami hampir seluruh perempuan.
Dalam buku Fikih Ramah Wanita karya Ainun Nadzifah disebutkan kisah tentang sebab diturunkannya haid kepada kaum perempuan, yakni karena kelalaian Ibu Hawa yang memakan buah khuldi dari pohon terlarang ketika berada di surga. Narasi tersebut kemudian dianggap sebagai akar stigma buruk terhadap perempuan yang tengah menstruasi dalam berbagai peradaban. Cerita ini diwariskan dari generasi ke generasi, hingga tafsir keagamaan tertentu ikut berperan dalam melanggengkan kebenaran narasi tersebut secara turun-temurun. Dampaknya, perempuan kerap diposisikan sebagai penyebab manusia kehilangan tempatnya di surga, sehingga dianggap layak menerima caci maki atau prasangka buruk.
Pada masa tertentu, stigma menstruasi bahkan melahirkan praktik diskriminatif yang ekstrem. Dalam catatan sejarah, perempuan Yahudi yang sedang haid kerap diasingkan dari komunitasnya. Mereka dipisahkan dari makanan dan tempat tidur, serta diyakini membawa kesialan. Menstruasi dianggap dapat memengaruhi dagangan hingga menyebabkan kerugian. Tatapan perempuan haid bahkan disebut sebagai “mata iblis” (evil eye) yang harus dihindari karena dianggap membawa malapetaka. Karena itu, perempuan yang sedang menstruasi harus mengenakan tanda khusus, seperti kalung, giwang, atau riasan tertentu agar mudah dikenali. Tidak jarang, mereka dipaksa tinggal di gubuk khusus (menstrual huts), terpisah dari keluarga dan kehidupan sosial. Sebuah kenyataan yang menyedihkan dan menunjukkan betapa jauhnya masyarakat saat itu dari nilai kemanusiaan.
Beruntung, seiring waktu dan berkembangnya pengetahuan, masyarakat mulai memahami bahwa menstruasi bukan hukuman ataupun kutukan, melainkan proses biologis yang sepenuhnya normal. Menstruasi adalah bagian dari kodrat perempuan, tanda bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya, bukan simbol kesalahan atau ketidakmurnian. Kesadaran ini menjadi titik balik penting dalam upaya membongkar stigma yang bertahan selama berabad-abad.
Namun, sisa-sisa stigma itu masih tertinggal dalam perilaku sehari-hari, mulai dari rasa malu, bisik-bisik, hingga usaha menyembunyikan benda-benda yang berkaitan dengan menstruasi. Menstruasi hanyalah bagian dari kehidupan, sama normalnya dengan bernapas dan makan. Sudah saatnya kita memperlakukannya seperti itu, tanpa tabu, tanpa stigma, dan tanpa rasa bersalah.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah