Lembang Menyimpan Jejak Hotel Astoria sebagai Bagian dari Sejarah Perhotelan dan Diplomasi Indonesia
INFO BANDUNG BARAT — Sejarah Lembang sebagai kawasan peristirahatan di dataran tinggi Bandung tidak dapat dilepaskan dari perkembangan infrastruktur dan industri perhotelan sejak era kolonial. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Bandung dan sekitarnya berkembang menjadi pusat hunian dan rekreasi bagi kalangan Eropa karena iklimnya yang sejuk. Dalam konteks itulah berbagai vila, losmen, dan hotel bermunculan di jalur Bandung–Lembang. Salah satu bangunan yang tercatat dalam penelusuran sejarah lokal adalah Hotel Astoria.
Keberadaan Hotel Astoria terkonfirmasi melalui temuan foto lama bergaya arsitektur art deco yang memuat tulisan “Hotel Astoria, Djln Lembang no 32–34.” Gaya arsitektur tersebut menunjukkan ciri bangunan awal hingga pertengahan abad ke-20, ketika pengaruh modernisme mulai masuk ke Hindia Belanda. Lokasinya berada di jalur strategis penghubung Bandung dengan Lembang, wilayah yang pada masa itu berkembang sebagai kawasan hunian elite sekaligus destinasi wisata alam.
Berdasarkan kesaksian lisan warga yang hidup pada periode tersebut, Hotel Astoria berdiri di kawasan dataran tinggi dengan halaman luas dan lanskap terbuka, mencerminkan pola pembangunan hotel kolonial yang memanfaatkan panorama pegunungan sebagai daya tarik utama. Kehadiran hotel ini menguatkan posisi Lembang sebagai bagian dari jaringan perhotelan Bandung Raya yang melayani wisatawan, pejabat, serta kalangan tertentu pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.
Peran historis Hotel Astoria semakin signifikan ketika disebut sebagai salah satu lokasi yang digunakan untuk menginapkan delegasi India pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Peristiwa internasional tersebut merupakan tonggak penting dalam sejarah diplomasi Indonesia dan dunia, mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau sedang berjuang melepaskan diri dari kolonialisme. Jika catatan ini tepat, maka Hotel Astoria menjadi bagian dari infrastruktur pendukung perhelatan global yang berlangsung di Bandung, memperlihatkan bahwa kawasan Lembang turut berkontribusi dalam momentum diplomasi internasional tersebut.
Selain fungsi politik dan diplomatik, Hotel Astoria juga memiliki dimensi sosial-ekonomi. Keterangan warga menyebutkan adanya tenaga kerja lokal yang bekerja di hotel tersebut, termasuk sebagai petugas laundry. Hal ini menunjukkan bahwa industri perhotelan di Lembang tidak hanya melayani tamu dari luar daerah, tetapi juga menciptakan mata pencaharian bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, hotel ini menjadi bagian dari dinamika ekonomi lokal pada masa itu.
Penelusuran lokasi menunjukkan bahwa bangunan yang diduga bekas Hotel Astoria berada di kawasan sekitar Terminal Ledeng dan Polsek Cidadap. Meski telah mengalami perubahan dan sebagian strukturnya tidak lagi utuh, kemiripan bentuk dengan dokumentasi lama masih dapat dikenali. Kondisi bangunan yang kini tertutup dan terancam pembangunan baru menempatkan Hotel Astoria dalam posisi rentan sebagai warisan sejarah yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara resmi.
Secara historis, kisah Hotel Astoria memperlihatkan bagaimana sejarah lokal sering tersembunyi di balik keterbatasan arsip dan perubahan ruang kota. Melalui kombinasi dokumentasi visual, kesaksian lisan, dan penelusuran lapangan, keberadaan hotel ini dapat diposisikan sebagai bagian dari sejarah perhotelan kolonial, perkembangan Lembang sebagai kawasan wisata, serta keterlibatan tidak langsungnya dalam peristiwa besar seperti Konferensi Asia Afrika 1955.***
Sumber: BandungBergerak.id (2025).