38°C
15/06/2026
Budaya

Makna dan Filosofi Payung Agung dalam Pernikahan Adat Sunda

  • Oktober 16, 2025
  • 2 min read
Makna dan Filosofi Payung Agung dalam Pernikahan Adat Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam adat Sunda, Payung Agung bukan sekadar hiasan yang menaungi kedua mempelai saat upacara pernikahan. Payung ini memiliki makna yang sangat dalam sebagai simbol perlindungan, pengayoman, dan keselamatan. Sejak masa lampau, payung dalam tradisi Sunda melambangkan kekuasaan, kehormatan, dan tanggung jawab yang harus dijaga oleh seorang suami untuk memberikan rasa aman kepada istrinya.

Dalam prosesi adat, Payung Agung biasanya dibuka di atas kedua mempelai ketika mereka berjalan bersama. Hal ini melambangkan bahwa keduanya akan hidup di bawah satu naungan yang sama — berbagi teduh, saling melindungi, mencintai, dan menghargai satu sama lain. Teduhnya payung bukan hanya perlindungan dari panas atau hujan, tetapi juga dari segala cobaan hidup yang akan mereka hadapi bersama.

Menurut naskah dan pandangan budaya Sunda klasik, payung juga bermakna spiritual. Ia menjadi perlambang hubungan manusia dengan Sang Pencipta, bahwa setiap rumah tangga harus dijalankan dengan niat suci dan rasa tanggung jawab. Payung Agung menjadi simbol bahwa di atas segalanya, perlindungan sejati berasal dari Tuhan, dan rumah tangga adalah ruang untuk menjaga kasih yang dilingkupi oleh restu Ilahi.

Secara filosofis, payung juga menyimbolkan wibawa dan kehormatan. Pada masa lalu, payung agung sering digunakan oleh raja, bangsawan, atau sesepuh adat sebagai tanda kedudukan tinggi dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, saat digunakan dalam pernikahan, Payung Agung menjadi lambang bahwa pasangan pengantin diharapkan mampu menjadi “raja dan ratu” dalam kehidupannya sendiri — memimpin keluarga dengan kebijaksanaan, kesetiaan, dan kasih sayang.

Tradisi ini mengajarkan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua tubuh, tetapi juga dua jiwa dan dua tanggung jawab yang harus saling menopang dalam segala keadaan. Dalam teduhnya Payung Agung, cinta tidak hanya dirayakan, tetapi juga dijaga — sebagaimana teduh payung menjaga mereka yang berada di bawahnya dari panas, hujan, dan badai kehidupan.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *