38°C
20/06/2026
Trends

“Marriage Is Scary”: Kecemasan Gen Z dan Pentingnya Konseling Pranikah

  • Desember 15, 2025
  • 2 min read
“Marriage Is Scary”: Kecemasan Gen Z dan Pentingnya Konseling Pranikah

INFO BANDUNG BARAT — Ungkapan Marriage is scary yang ramai di media sosial sejak 2022 menjadi cerminan kegelisahan banyak anak muda, khususnya Generasi Z, terhadap pernikahan. Ungkapan ini bukan sekadar tren digital, melainkan bentuk ekspresi atas rasa cemas, ragu, dan takut menghadapi kehidupan berumah tangga.

Bagi sebagian Gen Z, pernikahan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kisah romantis. Di baliknya, ada tanggung jawab besar yang menyangkut kesiapan mental, emosional, dan finansial. Ketidakpastian ekonomi, tekanan karier, serta meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental membuat banyak anak muda lebih berhati-hati dalam memandang pernikahan.

Pengalaman pribadi maupun lingkungan juga turut memengaruhi cara pandang tersebut. Menyaksikan konflik rumah tangga atau perceraian di sekitar mereka membuat sebagian Gen Z merasa khawatir mengulang pola yang sama. Tidak sedikit yang merasa belum cukup siap membangun hubungan jangka panjang dan menghadapi konflik secara dewasa.

Penelitian dari Singapore Management University menunjukkan bahwa ketidakstabilan pekerjaan dan perasaan belum mapan menjadi alasan utama generasi muda menunda pernikahan. Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan menikah tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan sosial.

Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul kesadaran baru tentang pentingnya persiapan sebelum menikah. Konseling pranikah kini mulai dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar formalitas. Generasi Z cenderung lebih terbuka membicarakan relasi, emosi, dan kesehatan mental, sehingga ruang diskusi seperti konseling menjadi relevan.

Melalui konseling pranikah, pasangan dapat membicarakan nilai hidup, pola komunikasi, cara menyelesaikan konflik, serta harapan terhadap pernikahan. Topik-topik sensitif yang sering dihindari justru dapat dibahas sejak awal agar tidak menjadi masalah besar di kemudian hari.

Pernikahan yang sehat tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesiapan untuk tumbuh bersama dan menghadapi perbedaan. Seperti dikemukakan Brammer dan Shostrom (1982), konseling pranikah bertujuan membantu pasangan memahami diri sendiri, pasangan, serta tuntutan dalam perkawinan.

Fenomena Marriage is scary pada akhirnya tidak selalu berarti penolakan terhadap pernikahan. Bagi banyak Gen Z, ungkapan ini justru mencerminkan keinginan untuk membangun rumah tangga dengan lebih sadar, realistis, dan bertanggung jawab.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *