38°C
20/06/2026
Architecture

Mengenal Masjid Al Irsyad Satya, Ikon Religi Kontemporer Tanpa Kubah di Bandung Barat

  • Maret 3, 2026
  • 3 min read
Mengenal Masjid Al Irsyad Satya, Ikon Religi Kontemporer Tanpa Kubah di Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Terletak di jantung kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat, berdiri sebuah masjid yang berbeda dari kebanyakan rumah ibadah di Indonesia. Masjid Al-Irsyad Satya telah menjelma menjadi ikon arsitektur religi kontemporer yang mendunia. Sejak diresmikan, bangunannya langsung mencuri perhatian berkat desainnya yang berani, sederhana, namun sarat makna filosofis.

Pembangunannya dimulai dengan peletakan batu pertama pada 7 September 2009, bertepatan dengan Nuzululqur’an 17 Ramadan 1430 H. Masjid ini kemudian diresmikan pada 27 Agustus 2010. Bangunan tersebut dirancang oleh Urbane Indonesia, firma arsitektur yang dipimpin oleh Ridwan Kamil. Saat itu, Ridwan Kamil belum menjabat sebagai pejabat publik, tetapi telah dikenal luas sebagai arsitek visioner dengan pendekatan desain inovatif.

Ciri paling mencolok dari Masjid Al-Irsyad adalah ketiadaan kubah. Alih-alih menggunakan bentuk konvensional, bangunan ini dirancang menyerupai kubus raksasa yang terinspirasi dari Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Bentuknya sederhana, tetapi kuat secara simbolik, menegaskan esensi tauhid dalam balutan arsitektur modern.

Keistimewaan masjid ini terletak pada dindingnya yang tersusun dari ribuan batu bata dengan celah-celah strategis. Pada siang hari, cahaya matahari yang menembus celah tersebut menciptakan elemen visual yang membentuk dua kalimat syahadat di dalam ruangan. Sebaliknya, pada malam hari, cahaya dari dalam memancar ke luar, menampilkan kaligrafi syahadat pada dinding luar. Teknik ini mengubah badan bangunan menjadi seni kaligrafi tiga dimensi raksasa yang memukau. Selain aspek estetika, celah-celah tersebut berfungsi sebagai ventilasi alami sehingga sirkulasi udara tetap baik tanpa pendingin ruangan, sekaligus menegaskan konsep ramah lingkungan yang diusungnya.

Ruang salatnya cukup luas dan mampu menampung sekitar 1.500 jemaah. Menariknya, tidak terdapat tiang atau pilar di tengah ruangan untuk menopang atap, sehingga ruang terasa lapang dan terbuka. Hanya empat sisi dinding yang menjadi pembatas sekaligus penopang struktur atap.

Memasuki bagian dalam, suasana tenang dan reflektif langsung terasa. Mihrab dibuat terbuka tanpa dinding pembatas sehingga jemaah dapat memandang langsung perbukitan hijau di hadapan mereka. Pemandangan ini menjadi simbol bahwa dalam beribadah, manusia berhadapan langsung dengan kebesaran ciptaan Allah. Di tengah area tersebut, terdapat batu bulat besar yang dipahat dengan lafaz Allah sebagai titik fokus yang sederhana namun mendalam.

Langit-langit masjid dihiasi 99 kotak lampu yang merepresentasikan Asmaul Husna. Saat malam tiba, cahaya lampu-lampu ini memancarkan suasana syahdu yang memperkuat pengalaman spiritual para jemaah.

Keunikan dan kekuatan konsepnya telah mendapat pengakuan internasional. Masjid Al-Irsyad Satya pernah masuk dalam Top 5 Building of the Year 2010 versi ArchDaily untuk kategori bangunan religi. Pada 2018, masjid ini juga meraih IAI Award dari Ikatan Arsitek Indonesia sebagai bangunan ibadah terbaik.

Kini, Masjid Al-Irsyad tak hanya menjadi pusat kegiatan spiritual warga Kota Baru Parahyangan, tetapi juga destinasi wisata religi yang menarik banyak pengunjung. Di tempat ini, seni arsitektur, keindahan alam, dan nilai ketauhidan berpadu harmonis, menghadirkan pengalaman ibadah yang sederhana, hening, namun penuh makna.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *