Sejarah Masjid Besar Lembang sebagai Lokasi Pengungsian Korban DI/TII
INFO BANDUNG BARAT — Berdiri megah di Jalan Raya Lembang Nomor 295, tepat di depan Alun-alun Lembang, Masjid Besar Lembang merupakan simbol kebanggaan masyarakat setempat. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi hidup yang merekam jejak sejarah, perubahan arsitektur, hingga dinamika sosial sejak era kolonial.
Sebelum dikenal dengan namanya sekarang, masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai Masjid Kaum. Masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Lembang dan dibangun pada 1940-an. Bangunan awalnya sangat sederhana dan kental dengan nuansa tradisional. Struktur utamanya menggunakan material kayu dengan atap sirap khas. Keberadaan masjid ini tercatat dalam peta yang dibuat oleh biro Van Hoofd Hep milik Pemerintah Hindia Belanda pada tahun pendiriannya.
Masjid Besar Lembang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan warga, terutama saat pecahnya konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Ketika rumah-rumah warga di kawasan Jayagiri ludes terbakar akibat pergolakan tersebut, masjid ini berubah fungsi menjadi tempat pengungsian utama. Meski saat itu bangunannya masih sederhana dan sebagian besar terdiri atas tembok serta kayu, masjid ini menjadi tempat bernaung yang aman bagi warga korban konflik.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Besar Lembang juga berkembang menjadi pusat pendidikan keagamaan. Sejak 1986, di lingkungan masjid berdiri TK Al-Qur’an dan Madrasah Diniyah yang berperan membina generasi muda. Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran sekaligus pembentukan karakter bagi anak-anak dan remaja di sekitar Lembang.
Kini, Masjid Besar Lembang tampil lebih modern dan megah dibandingkan bentuk awalnya yang sederhana. Meski telah mengalami berbagai perubahan fisik, nilai sejarah dan peran sosialnya tetap terjaga.***