38°C
04/04/2026
Budaya

Mitologi Perempuan Sunda: Spiritualitas, Kesuburan, dan Kearifan Lokal

  • Juli 31, 2025
  • 3 min read
Mitologi Perempuan Sunda: Spiritualitas, Kesuburan, dan Kearifan Lokal

INFO BANDUNG BARAT–Dalam warisan budaya Sunda, mitologi tentang tokoh-tokoh perempuan bukan hanya sekadar cerita rakyat. Mereka merupakan simbol dari nilai-nilai luhur seperti kearifan, kesuburan, perlindungan, dan spiritualitas, yang hingga kini tetap relevan.

Tokoh-tokoh seperti Dayang Sumbi, Sunan Ambu, dan Sri Pohaci merepresentasikan peran sentral perempuan dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan ilahiah. Mitologi mereka menyimpan filosofi mendalam tentang relasi gender, alam, dan masyarakat.

Dayang Sumbi: Simbol Kearifan dan Keteguhan Hati

Dalam kisah Ciung Wanara maupun Sangkuriang, Dayang Sumbi adalah sosok perempuan cerdas, teguh, dan bijaksana. Ia digambarkan sebagai ibu tunggal yang mendidik anaknya dengan keteguhan nilai. Peran Dayang Sumbi menunjukkan bahwa perempuan Sunda bukan hanya penyangga rumah tangga, tapi juga penjaga nilai moral dan spiritual.

Menurut Heryana (2012), Dayang Sumbi merepresentasikan indung batin atau ibu semesta, yang menjadi asal-muasal kebijaksanaan dan kehidupan dalam masyarakat Sunda.

Sunan Ambu: Ibu Kahyangan Penjaga Keseimbangan

Sunan Ambu adalah tokoh perempuan suci yang tinggal di kahyangan dan kerap muncul dalam epos seperti Lutung Kasarung. Ia dikenal sebagai figur penuh kasih yang memberikan petunjuk dan perlindungan kepada tokoh utama.

Filosofi Sunan Ambu mencerminkan peran spiritual perempuan dalam menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia spiritual. Ia juga menggambarkan tiga dimensi penting: mitis (asal muasal), ontologis (jati diri), dan fungsional (peran sosial).

Sri Pohaci: Dewi Kesuburan dan Kehidupan

Sri Pohaci atau Dewi Sri adalah dewi padi dan kesuburan yang sangat dihormati dalam masyarakat agraris Sunda. Tubuhnya yang melahirkan berbagai tanaman pangan menunjukkan bahwa perempuan adalah sumber kehidupan bukan hanya secara biologis, tetapi juga ekologis.

Mitologi Sri Pohaci menunjukkan bahwa penghormatan terhadap perempuan berkaitan erat dengan penghormatan terhadap alam. Tanpa keberadaan dan kesuburan perempuan, kehidupan tidak akan berlangsung.

Tri Tangtu dan Relasi Setara Antara Laki-laki & Perempuan

Budaya Sunda mengenal konsep Tri Tangtu di Buana yaitu Ratu, Rama, dan Resi—tiga pilar dunia yang melambangkan kekuasaan, rakyat, dan kebijaksanaan. Perempuan dalam mitologi Sunda tidak dikurung dalam satu peran, melainkan hadir dalam tiap dimensi sebagai pemimpin, pengasuh, dan pendidik.

Dalam konteks ini, relasi antara laki-laki dan perempuan bukan hirarkis, melainkan komplementer dan harmonis. Mitologi Sunda mengajarkan bahwa dunia hanya berjalan seimbang jika ketiga unsur tersebut hadir dan saling mendukung.

Warisan Mitologi sebagai Cermin Peradaban

Mitologi perempuan Sunda bukan hanya bagian dari cerita tradisional. Ia adalah cermin peradaban yang menjunjung tinggi peran perempuan sebagai penjaga nilai, pemelihara kehidupan, dan penghubung antara dunia lahir dan batin.

Nilai-nilai yang terkandung dalam tokoh seperti Dayang Sumbi, Sunan Ambu, dan Sri Pohaci masih relevan hari ini. Di tengah tantangan modernitas, kearifan lokal ini dapat menjadi pondasi untuk membangun kesetaraan gender yang berakar pada budaya sendiri.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *