38°C
21/05/2026
Budaya

Tarawangsa: Nada Sakral yang Menyatukan Alam, Manusia, dan Spiritualitas Sunda

  • April 2, 2026
  • 2 min read
Tarawangsa: Nada Sakral yang Menyatukan Alam, Manusia, dan Spiritualitas Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Tarawangsa merupakan salah satu kesenian musik tradisional Sunda yang hidup dan berkembang dalam ruang ritual masyarakat agraris di Jawa Barat, khususnya di wilayah Sumedang. Kesenian ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam upacara adat dan praktik spiritual masyarakat.

Secara musikal, Tarawangsa dimainkan menggunakan dua alat utama, yaitu tarawangsa dan jentreng. Tarawangsa adalah alat musik gesek bersenar dua yang bentuknya menyerupai rebab, sedangkan jentreng merupakan alat petik mirip kecapi dengan tujuh senar. Perpaduan keduanya menghasilkan alunan nada yang khas, lembut, dan sarat makna.

Keberadaan Tarawangsa telah dikenal sejak lama. Kesenian ini bahkan disebut dalam naskah Sunda kuno Sewaka Darma yang diperkirakan berasal dari abad ke-15. Hingga kini, tradisi ini tetap dilestarikan, terutama di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang, sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Tarawangsa tumbuh dari tradisi pertanian dan kepercayaan masyarakat terhadap siklus alam. Kesenian ini kerap dipentaskan dalam ritual panen, seperti upacara Ngalaksa, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus bentuk penghormatan kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kepada para leluhur. Dalam konteks ini, Tarawangsa menjadi media penghubung antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Tradisi Ngalaksa bersama kesenian Tarawangsa juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Alunan musik Tarawangsa dan jentreng dimainkan dengan tempo lambat, repetitif, dan mendalam. Bunyi gesekan dan petikan yang dihasilkan menciptakan suasana hening dan kontemplatif, membawa pendengar pada ketenangan batin. Berbeda dengan musik modern yang memiliki struktur baku, permainan Tarawangsa mengalir secara alami mengikuti rasa dan kebutuhan spiritual.

Selain unsur musik, terdapat pula unsur gerak yang dikenal sebagai ibingan Tarawangsa. Ibingan ini bukan sekadar tarian koreografis, melainkan gerak ritual yang lahir dari penghayatan terhadap musik. Gerakannya sederhana, mengalir, dan repetitif, serta umumnya dibawakan oleh penari perempuan. Tanpa pola panggung yang kaku, tubuh penari bergerak sebagai respons langsung terhadap alunan musik. Dalam beberapa kesempatan, ibingan Tarawangsa bahkan menghadirkan pengalaman meditatif hingga transendental.

Tarawangsa mengajarkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana perenungan dan penghubung dengan nilai-nilai kehidupan. Melalui bunyi dan gerak yang diwariskan secara turun-temurun, kesenian ini menjaga harmoni antara manusia, alam, dan ingatan kolektif masyarakat Sunda.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *