38°C
27/04/2026
Budaya

Ngabuburit, Tradisi Menunggu Berbuka yang Berasal dari Budaya Sunda

  • Maret 5, 2026
  • 2 min read
Ngabuburit, Tradisi Menunggu Berbuka yang Berasal dari Budaya Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Ngabuburit merupakan salah satu tradisi yang sangat identik dengan bulan Ramadan di Indonesia. Istilah ini merujuk pada berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa hingga azan magrib tiba. Meskipun kini digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia, kata ngabuburit sebenarnya berasal dari bahasa Sunda dan memiliki sejarah yang cukup panjang dalam budaya masyarakat Sunda.

Dikutip dari Kompas.com, sastrawan Sunda sekaligus pendiri Rumah Baca Buku Sunda (RBBS), Mamat Sasmita, menjelaskan bahwa kata ngabuburit berasal dari kata dasar burit, yang berarti waktu menjelang magrib atau sore hari. Kata tersebut kemudian mendapat imbuhan nga- dan bu-, sehingga membentuk kata kerja ngabuburit. Secara sederhana, ngabuburit berarti melakukan aktivitas sambil menunggu waktu magrib, khususnya pada bulan puasa.

Istilah ini juga berkaitan dengan ungkapan Sunda “ngalantung ngadagoan burit”, yang bermakna bersantai sambil menunggu sore hari tiba.

Dalam Kamus Bahasa Sunda Danadibrata, ngabuburit diartikan sebagai kegiatan ringan menjelang magrib, seperti berjalan-jalan. Kamus Sunda–Indonesia terbitan Kemendikbud (1985) juga mencatat bahwa burit berarti senja, sementara ngabuburit merujuk pada kegiatan mengisi waktu hingga petang, terutama saat Ramadan. Istilah ini kemudian masuk ke dalam KBBI sebagai mengabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu berbuka puasa.

Tradisi ngabuburit sebenarnya telah dikenal sejak lama, seiring dengan masuknya pengaruh Islam ke wilayah Sunda. Namun, popularitasnya semakin meningkat pada era 1980-an, terutama di Bandung. Pada masa itu, para pemuda sering mengadakan acara musik bernuansa Islami untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Kegiatan tersebut kemudian menarik perhatian banyak kalangan dan turut mempopulerkan istilah ngabuburit, khususnya di kalangan remaja.

Awalnya identik dengan kegiatan di pesantren, seperti mengaji atau bermain permainan tradisional, kini ngabuburit berkembang menjadi fenomena sosial urban, mulai dari berburu takjil, berolahraga ringan, hingga berkumpul bersama teman dan keluarga.

Selain mengisi waktu, ngabuburit juga berfungsi sebagai distraksi positif. Aktivitas yang menyenangkan dapat membuat rasa lapar dan haus selama berpuasa terasa lebih ringan. Bahkan, seiring perkembangan zaman, ngabuburit dapat diisi dengan kegiatan bernilai ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, atau berbagi makanan untuk berbuka puasa.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *