Mengenal Mantra Sunda: Dari Tradisi Mistis hingga Warisan Sastra Kuno
INFO BANDUNG BARAT — Dalam kehidupan masyarakat Sunda, mantra bukan sekadar rangkaian kata-kata mistis yang dibisikkan dalam kegelapan. Mantra merupakan bentuk sastra lisan kuno yang sarat akan kearifan lokal. Sebagai bagian dari sistem kepercayaan tradisional, mantra mencerminkan upaya mendalam manusia untuk berkomunikasi dengan kekuatan transendental demi mencapai kebaikan hidup.
Secara etimologis, istilah mantra berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna teks suci, doa, atau syair sakral. Dalam kebudayaan Sunda, mantra berkembang menjadi produk budaya yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kekuatan gaib. Mantra menjadi jembatan yang menghubungkan keseharian manusia dengan dimensi yang lebih luas.
Dalam buku Budaya Sunda Perspektif Islam, tradisi Sunda membagi mantra ke dalam tujuh kategori utama berdasarkan tujuannya, yaitu jampe, asihan, singlar, jangjawokan, rajah, ajian-ajian, dan pélét. Ketujuh jenis ini kemudian dikelompokkan lagi ke dalam dua kutub moral: mantra putih dan mantra hitam. Mantra putih digunakan untuk tujuan yang baik, seperti pengobatan, perlindungan diri, kewibawaan, hingga menjaga keserasian dengan alam. Sebaliknya, mantra hitam digunakan dengan niat buruk untuk mencelakai atau memperdaya orang lain.
Salah satu hal yang menarik dari mantra Sunda adalah karakteristik bahasanya. Berdasarkan catatan dalam e-Journal Perpustakaan Nasional (2016), jenis mantra dapat dibedakan dari gaya tuturannya. Mantra ajian, misalnya, sering menggunakan kosakata yang menunjukkan “keakuan” atau kesan superioritas dari pembacanya, seperti kalimat: “Sia tunduk taluk dina dampal suku aing” (Luhur duli di bawah telapak kakiku).
Hal ini berbeda dengan jampe atau jangjawokan yang lebih banyak dipengaruhi bahasa Jawa dan Arab, seperti: “Dug turu gulingan jati, badan turu ati tanghi, dep madep maring Allah, lailahailelloh.” Penggunaan bahasa pada jenis mantra ini cenderung lebih rendah hati karena secara mendasar bersandar pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
Meskipun lebih dikenal sebagai sastra lisan, sejarah menunjukkan bahwa mantra juga telah terdokumentasi secara tertulis sejak lama. Jejaknya ditemukan dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Karesian yang berasal dari abad ke-16. Selain itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menyimpan berbagai naskah kuno seperti Mantera Aji Cakra dan Mantera Darmapamulih. Keberadaan dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa mantra memiliki kedudukan penting dalam sejarah literasi dan perkembangan bahasa di Nusantara.
Secara struktur, mantra Sunda umumnya menggunakan bahasa Sunda buhun (kuno). Kekuatannya terletak pada permainan bunyi, di mana penggunaan rima dan irama memberikan kesan magis ketika dibacakan. Melalui diksi-diksi khusus yang bersifat simbolis, mantra tidak hanya menjadi sarana memohon doa, tetapi juga melambangkan hubungan timbal balik yang harmonis antara manusia dan alam semesta.
Keberadaan mantra dalam peradaban Sunda menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berhenti pada tuturan lisan yang bersifat temporal. Dokumentasi pada kropak-kropak kuno, seperti Kropak 409 (Soeloek Kidoengan Tetoelak Bilahi), Kropak 413, dan Kropak 414 (Pekéling dan Mantra), menjadi bukti autentik bahwa leluhur Sunda memiliki kesadaran literasi yang tinggi untuk mengabadikan pengetahuan spiritual mereka.
Naskah-naskah tersebut bukan sekadar catatan kuno, melainkan arketipe yang memperlihatkan bagaimana bahasa berkembang dan beradaptasi. Terjadinya sinkretisme dalam mantra yang mencampurkan bahasa Sunda buhun dengan pengaruh Jawa serta Arab menunjukkan sifat masyarakat Sunda yang dinamis dan terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan jati dirinya. Mantra Sunda pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap kata terdapat harapan akan keseimbangan hidup antara manusia, Pencipta, dan alam semesta.***