38°C
28/07/2026
Budaya

Nyai Sri Pohaci dan Dekadensi Kesakralan Padi dalam Kosmologi Masyarakat Sunda Modern

  • Agustus 1, 2024
  • 6 min read
Nyai Sri Pohaci dan Dekadensi Kesakralan Padi dalam Kosmologi Masyarakat Sunda Modern

INFO BANDUNG BARAT — Sebagai makanan pokok, padi mendapatkan kedudukan dan penghormatan yang sangat sakral dalam berbagai konfigurasi kebudayaan di Indonesia, tidak terkecuali bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat. Inti dari penghormatan terhadap entitas agraris ini bermuara pada kesadaran etis untuk mencegah perilaku mubazir dan memastikan setiap bulir pangan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam kosmologi Sunda, penghormatan spiritual tersebut dipersonifikasikan melalui sosok dewi pelindung yang dikenal sebagai Nyai Sri Pohaci.

Sistem pengetahuan tradisional mengenai padi dan nasi diulas secara komprehensif dalam naskah kuno Wawacan Sulanjana yang berasal dari abad ke-17. Manuskrip ini tidak sekadar mengisahkan mitologi asal-usul padi yang melekat pada sosok Nyai Sri Pohaci, melainkan juga memuat tata cara sakral menanak nasi serta memosisikan figur Sulanjana sebagai benteng pelindung tanaman padi dari serangan hama dan marabahaya. Bagi masyarakat Sunda, eksistensi Nyai Sri Pohaci memiliki kedekatan narasi dengan Dewi Sri dalam mitologi Jawa, sekaligus berkorespondensi dengan Dewi Laksmi dalam tradisi agama Hindu sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran universal.

Kronik Mitos Kelahiran Sang Dewi dari Air Mata Sang Hyang Naga

Naratif mitologis Nyai Sri Pohaci bermula ketika Sang Hyang Guru berencana mendirikan dua balai di Bale Bandung. Otoritas tertinggi tersebut lantas mengutus Sang Hyang Narada untuk memerintahkan para dewa mengumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan. Mendengar titah tersebut, Dewa Anta atau Dewa Antaboga yang berwujud ular naga menangis pilu. Ia merasa nestapa karena tidak memiliki tangan untuk melaksanakan tugas berat dari Sang Hyang Guru.

Keajaiban terjadi ketika tetesan air mata Dewa Anta menjelma menjadi tiga butir mutiara gaib. Atas arahan Sang Hyang Narada, mutiara-mutiara tersebut harus dipersembahkan langsung kepada Sang Hyang Guru. Demi menjaga keamanan, Dewa Anta membawa ketiga mutiara itu di dalam mulutnya. Di tengah perjalanan, seekor burung elang datang mencegat dan melontarkan pertanyaan mengenai arah tujuannya. Dewa Anta bergeming dan terpaksa bungkam demi menjaga agar mutiara di dalam mulutnya tidak terlepas.

Ketidakpatuhan verbal tersebut menyulut amarah sang elang. Burung tersebut menyerang Dewa Anta dengan agresif, menyebabkan dua dari tiga mutiara itu jatuh terempas ke bumi. Mutiara yang pecah di tanah tersebut kelak berubah wujud menjadi anak babi hutan bernama Kalabuat dan seekor binatang hibrida setengah anjing setengah babi yang dinamakan Budug Basu.

Sementara itu, satu butir mutiara yang tersisa berhasil diserahkan kepada Sang Hyang Guru. Mutiara terakhir ini menetas menjadi seorang bayi perempuan yang luar biasa cantik dan diberi nama Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri.

Pesona kecantikan Nyai Asri yang magis memicu kekhawatiran besar di kalangan para dewa, khususnya Sang Hyang Wenang. Mereka cemas jika Sang Hyang Guru akan terpikat dan menikahinya, sebuah tindakan yang dianggap menabrak batas tabu kosmis. Melalui konsensus rahasia para dewa, diputuskanlah jalan radikal untuk meracuni Nyai Sri Pohaci demi menjaga kesucian jagat raya.

Sang dewi pun mangkat dalam status perawan suci. Dari dalam jasadnya yang terkubur, tumbuh beraneka ragam tanaman bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia, di mana dari bagian kedua kakinya tumbuh tanaman padi. Melalui memori Wawacan Sulanjana, masyarakat Sunda percaya bahwa setiap bulir padi yang mereka konsumsi adalah bentuk manifestasi cinta kasih dan pengorbanan suci dari Nyai Sri Pohaci.

Institusi Budaya Seren Taun dan Penanda Pamali Kontrol Sosial

Penghormatan kolektif terhadap eksistensi sang dewi direaktualisasikan secara berkala melalui upacara adat Seren Taun yang hingga kini masih rutin diselenggarakan di berbagai kampung adat di Jawa Barat, seperti di Kasepuhan Ciptagelar dan kesepuhan adat lainnya. Selain lewat ritual massal, penghormatan ini termanifestasi dalam sistem hukum adat berupa pamali atau tabu dalam kehidupan domestik sehari-hari.

Masyarakat tradisional Sunda melarang keras perilaku membuang-buang beras atau menyisakan nasi. Anak-anak sejak dini dicekoki doktrin moral bahwa nasi yang tidak dihabiskan akan “menangis”. Personifikasi ini sengaja dibangun sebagai representasi kesedihan spiritual Nyai Sri Pohaci yang disia-siakan.

Selain itu, bersiul di dekat leuit (lumbung padi tradisional) juga dikategorikan sebagai pamali karena dipercaya dapat menakut-nakuti dan mengusir keberadaan sang dewi dari ruang penyimpanan pangan.

Di samping dimensi spiritual, padi juga mengemban misi sosiologis yang kental akan nilai kebersamaan, gotong royong, dan antitamak. Seluruh rantai produksi padi, mulai dari proses menanam, menjemur, hingga mengangkut ikatan padi kering, wajib dikerjakan secara komunal oleh warga kampung. Ketika sebuah keluarga mendapatkan panen yang melimpah, alih-alih memicu kecemburuan sosial, para tetangga justru akan berbondong-bondong membantu memasukkan padi tersebut ke dalam leuit.

Kearifan lokal Sunda kuno bahkan secara tegas melarang komodifikasi atau jual beli beras. Beras dipandang sebagai barang sosial yang wajib didistribusikan secara cuma-cuma jika sebuah keluarga memiliki surplus penampungan. Guna menyiasati hukum adat ini tanpa melanggar moralitas, warung-warung makan tradisional Sunda pada masa lampau lazim memberikan nasi secara gratis, sementara komponen yang wajib dibayar oleh konsumen hanyalah menu lauk-pauknya saja.

Ironi Transisi Komoditas dan Hilangnya Kedaulatan Agraria Modern

Memasuki era modern, sakralitas padi mengalami degradasi hebat akibat desakan arus kapitalisme dan pergeseran pola konsumsi global. Padi kini telah tereduksi posisinya, dari yang semula dianggap sebagai personifikasi dewi yang suci menjadi sekadar komoditas dagang komersial yang diperjualbelikan demi meraup profit finansial. Penetrasi bahan pangan impor seperti mi instan, roti berbahan gandum, dan kentang, perlahan mulai menggeser dominasi nasi sebagai satu-satunya opsi karbohidrat utama di atas meja makan masyarakat Sunda.

Konsekuensi logis dari kemudahan sistem pasar membuat beras kini dapat diakses secara instan oleh siapa saja di toko ritel modern tanpa perlu berkeringat mengolah lahan, sepanjang individu tersebut memiliki daya beli yang cukup. Ditambah lagi dengan kehadiran teknologi penanak nasi elektronik modern, proses penyajian makanan kini berjalan mekanis tanpa sentuhan spiritual.

Namun, kemudahan teknologis ini menyimpan ironi yang getir bagi ketahanan pangan nasional. Indonesia, yang secara geografis selalu diagungkan sebagai negara agaris dengan hamparan lahan subur yang sangat luas, justru kerap mengalami defisit produksi pangan domestik sehingga terpaksa bergantung pada kebijakan impor beras dari negara-negara tetangga. Sirnanya nilai kebersamaan sosiologis di tingkat tapak telah mengubah beras menjadi barang yang mahal dan memicu ketimpangan akses bagi masyarakat kelas bawah. Kasus rawan pangan dan gizi buruk masih kerap mencuat, memaksa pemerintah menggelontorkan subsidi beras secara berkala.

Transformasi perilaku juga terlihat dari maraknya praktik penimbunan beras oleh oknum spekulan demi menciptakan kelangkaan buatan di pasar guna melambungkan harga jual demi keuntungan sepihak, sebuah tindakan yang bertolak belakang dengan fungsi leuit zaman dahulu yang ditujukan murni sebagai cadangan logistik darurat saat paceklik.

Karena beras kini dipandang sebagai komoditas murah yang mudah diganti, generasi muda kehilangan internalisasi nilai pamali. Perilaku menyisakan makanan dan membuang nasi di tempat sampah seolah menjadi pemandangan lumrah di berbagai pusat kuliner modern. Hilangnya kearifan lokal dan runtuhnya rasa hormat terhadap filosofi Nyai Sri Pohaci inilah yang secara ironis menjebak bangsa agraris ini dalam krisis kedaulatan pangan di tengah pasar yang serbabebas.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *