38°C
23/04/2026
Sejarah

Petaka di Langit Padalarang yang Mengakhiri Tur Musik di Tengah Revolusi Indonesia

  • Februari 17, 2026
  • 2 min read
Petaka di Langit Padalarang yang Mengakhiri Tur Musik di Tengah Revolusi Indonesia

INFO BANDUNG BARAT — Pada 10 Februari 1948, sebuah pesawat Dakota DC-3 milik KLM dengan registrasi PK-REA jatuh di kawasan perbukitan sekitar Padalarang, Bandung Barat, hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Andir, Bandung. Peristiwa ini terjadi di tengah situasi Revolusi Indonesia 1945–1949 yang masih diwarnai ketegangan militer pasca-Perjanjian Renville. Pesawat tersebut membawa sejumlah awak dan penumpang, termasuk rombongan pemusik Belanda yang sedang melakukan tur pertunjukan di Jawa Barat.

Di antara penumpang terdapat tiga musisi, yakni Elisabeth Everts (pianis), Johan Gutlich (cellis), dan Rudi Broer van Dijk (violis). Mereka telah berada di Indonesia sejak Oktober 1947 untuk mengisi pertunjukan bagi prajurit Belanda yang tergabung dalam KNIL. Tur ini difasilitasi oleh organisasi kesejahteraan tentara Belanda, Nationale Inspanning Welzijnsverzorging Indië (NIWIN), yang mengirimkan seniman sebagai bagian dari dukungan moral bagi pasukan di wilayah konflik. Aktivitas kebudayaan tersebut menunjukkan bahwa di tengah situasi perang, seni tetap dijalankan sebagai instrumen psikologis dan sosial.

Dalam penerbangan sore itu, cuaca buruk dan hujan deras diduga menjadi faktor penting kecelakaan. Pesawat kehilangan kendali sebelum akhirnya menghantam kawasan Cilame–Sasaksaat dan meledak. Seluruh awak dan penumpang tewas di lokasi kejadian. Arsip penyelidikan kecelakaan tersebut tidak sepenuhnya tersimpan dengan baik; sebagian dokumen dilaporkan hilang setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949. Sempat muncul dugaan sabotase karena salah satu penumpang disebut membawa dokumen penting terkait penyelidikan internal militer Belanda, tetapi dugaan tersebut tidak pernah terbukti secara resmi.

Jenazah para korban awalnya dimakamkan di Parkweg, Bandung, sebelum dipindahkan pada 21 Maret 1950 ke Ereveld Pandu, kompleks makam kehormatan Belanda di Bandung yang dikelola Oorlogsgravenstichting. Di lokasi yang sama kemudian didirikan Monumen Padalarang sebagai penanda tragedi tersebut. Monumen sederhana berupa pilar batu dan prasasti itu menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang jarang disinggung dalam narasi besar sejarah revolusi.

Seperti dituliskan dalam National Geographic Indonesia (2018), tragedi ini memperlihatkan sisi lain Revolusi Indonesia, bukan hanya pertempuran dan diplomasi, tetapi juga dampaknya terhadap warga sipil dan pelaku budaya. Sementara itu, M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c.1200 (2008) menekankan bahwa periode revolusi menyimpan banyak kisah lokal yang belum sepenuhnya tergali dalam historiografi arus utama. Tragedi Padalarang menjadi salah satu contoh bagaimana konflik kolonial turut membentuk memori lintas bangsa.

Di Belanda, nama Elisabeth Everts tetap dikenang melalui pendirian Elisabeth Everts Fonds yang mendukung musisi muda. Dengan demikian, peristiwa 10 Februari 1948 tidak hanya menjadi bagian dari sejarah lokal Jawa Barat, tetapi juga tercatat dalam ingatan kolektif Belanda sebagai tragedi budaya di tengah pusaran revolusi.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *