Alasan Awal Tahun Imlek dan Hijriah Selalu Berbeda Meski Sama-Sama Berbasis Pergerakan Bulan
INFO BANDUNG BARAT — Sistem penanggalan Tionghoa (Imlek) dan Hijriah memiliki satu kesamaan fundamental yang mendasar, yaitu sama-sama mengandalkan siklus pergerakan bulan saat mengitari bumi sebagai acuan periodisasi bulanannya. Namun, sebuah pertanyaan menarik sering kali muncul, mengapa hari pertama atau awal tahun dari kedua kalender ini selalu jatuh pada tanggal masehi yang berbeda jauh?
Sebagai contoh, pada tahun 2024 silam, Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili jatuh pada 10 Februari, sementara Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah baru diperingati beberapa bulan setelahnya, yaitu pada 7 Juli.
Untuk memahami anomali ini, kita perlu membedah karakteristik astronomis berbasis dua jenis periode orbit bulan, yaitu periode sinodis dan periode sideris.
Periode Sinodis: Merupakan siklus bulan dari satu fase tertentu (misalnya bulan baru) hingga kembali ke fase yang sama. Periode ini berlangsung selama 29,5 hari dan menjadi dasar utama perhitungan kalender.
Periode Sideris: Merupakan waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengitari bumi satu putaran penuh secara tegak lurus dari satu titik bintang ke titik bintang yang sama lagi, yang memakan waktu 27,3 hari.
Meskipun keduanya menggunakan basis sinodis berdurasi 29,5 hari, perbedaan mendasar terletak pada metodologi dan intervensi posisi matahari dalam sistem komputasi masing-masing kalender.
1. Kalender Tionghoa: Sistem Lunisolar Berbasis Kebutuhan Agraris
Berbeda dengan anggapan umum, kalender Tionghoa sebenarnya tidak murni menggunakan pergerakan bulan. Sistem penanggalan ini menerapkan metode Lunisolar, yaitu perpaduan sinkron antara pergerakan bulan (lunar) dan kedudukan bumi terhadap matahari (solar). Akar dari rumusan ini berkaitan erat dengan sejarah peradaban Tiongkok kuno.
Sejak masa kekaisaran lebih dari 22 abad silam hingga awal abad ke-20, Tiongkok merupakan negara kontinental yang menggantungkan ketahanan nasionalnya pada sektor pertanian (agraris). Para petani sangat membutuhkan panduan cuaca dan pergantian musim yang akurat untuk menentukan masa tanam dan panen. Karena musim sepenuhnya diatur oleh pergerakan semu matahari, kalender Imlek dimodifikasi sedemikian rupa agar selaras dengan tahun tropis matahari.
Durasi satu tahun lunisolar dihitung sekitar 354 hari, memiliki selisih sekitar 11 hari dengan tahun matahari (365 hari). Untuk mengompensasi ketertinggalan musim ini, kalender Tionghoa menyisipkan satu bulan kabisat ekstra (intercalary month atau jiéqì) setiap dua atau tiga tahun sekali. Mekanisme penyesuaian inilah yang membuat Tahun Baru Imlek selalu jatuh di rentang waktu yang relatif stabil pada kalender Masehi, yaitu antara akhir Januari hingga pertengahan Februari, bertepatan dengan titik awal musim semi (Lichun).
2. Kalender Hijriah: Sistem Lunar Murni Berbasis Visibilitas Hilal
Sebaliknya, kalender Hijriah merupakan penanggalan yang bersifat Lunar Murni (pure lunar calendar). Sistem ini mengacu sepenuhnya pada siklus sinodis bulan tanpa melakukan sinkronisasi atau intervensi dari pergerakan matahari sama sekali. Akibatnya, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah hanya berkisar antara 354 hingga 355 hari.
Karena tidak memiliki bulan kabisat untuk mengejar tahun matahari, posisi bulan-bulan dalam kalender Hijriah selalu maju sekitar 10 hingga 12 hari setiap tahunnya terhadap kalender Masehi. Hal inilah yang menyebabkan Tahun Baru Hijriah, bulan Ramadan, maupun Idulfitri selalu bergeser dan bisa terjadi di musim yang berbeda-beda dari tahun ke tahun.
Selain sifatnya yang murni berbasis bulan, metode penetapan awal bulannya pun memiliki karakteristik religius yang khas:
Pengamatan Hilal: Awal bulan baru (tsubutul hilal) tidak dihitung dari fase bulan baru astronomis (konjungsi/ijtihad) secara teoritis saja, melainkan melalui penampakan visual hilal—yaitu bulan sabit muda pertama yang sangat tipis.
Waktu Ruat: Pengamatan visual ini wajib dilakukan pada sore hari sesaat setelah matahari terbenam pada hari ke-29 di bulan berjalan.
Metode Hisab: Kendati metode pengamatan langsung (rukyatul hilal) sangat dominan, sebagian komunitas muslim juga menggunakan metode hisab, yaitu penentuan matematis astronomis murni tanpa harus melihat fisik bulan sabit.
Kesimpulan
Saling silang antara dimensi fungsional-historis dan konsistensi astronomis menjadi pemisah utama kedua kalender ini. Kalender Tionghoa menyerap pergerakan matahari demi mempertahankan konsistensi siklus musim agraris, sementara kalender Hijriah mempertahankan kemurnian siklus orbit bulan demi menjaga ritme ibadah spiritual umat Islam di seluruh penjuru dunia. Perbedaan paradigma kultural inilah yang membuat gerak awal tahun keduanya tidak pernah berjalan beriringan.
1 Comment
[…] kamu mendengar filosofi Yin-Yang? Sesuai dengan namanya, filosofi ini berasal dari Tionghoa dan telah dipercaya masyarakat sejak Sebelum Masehi. Diyakini bahwa Yin-Yang diciptakan selama […]