38°C
29/06/2026
Budaya

Menolak Punah Tari Gapura Hyang: Seni Persembahan Khas KBB yang Kian Terlupakan

  • Juni 27, 2024
  • 3 min read
Menolak Punah Tari Gapura Hyang: Seni Persembahan Khas KBB yang Kian Terlupakan

INFO BANDUNG BARAT — Setiap daerah menaruh identitas sosiokulturalnya dalam wujud seni pertunjukan. Bagi Kabupaten Bandung Barat (KBB), identitas kolektif itu termanifestasi secara estetis melalui Tari Gapura Hyang, sebuah tarian persembahan resmi khas Tatar Parahyangan barat yang diciptakan untuk merepresentasikan keluhuran budi dan karakteristik masyarakatnya.

Namun, di balik keindahan gerak dan filosofinya, tarian kebanggaan ini tengah menghadapi realitas pahit, yaitu  minimnya literatur dan redupnya memori publik lokal terhadap warisan budaya mereka sendiri.

Kronologi Lahirnya Sebuah Identitas Daerah

Lahirnya Tari Gapura Hyang diinisiasi oleh keinginan kuat Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk memiliki ikon kesenian tradisional yang distingtif, autentik, dan dapat dikenali secara luas oleh masyarakat umum.

Guna merealisasikan visi tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB menjalin kolaborasi strategis dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada tahun 2017. Kerja sama akademis dan seniman profesional ini berhasil merumuskan sebuah struktur koreografi kontemporer yang berakar kuat pada tradisi lokal.

Mengutip buku pembelajaran muatan lokal Rineka Budaya Sunda (Pangdeudeul Kemis Nyunda) Kelas 6 untuk Sekolah Dasar Kabupaten Bandung Barat karya Drs. Yayat Sudrajat, M.M.Pd., dkk., setiap struktural gerak dalam tarian ini sengaja dirancang untuk mempresentasikan ciri budaya KBB. Tujuan utamanya adalah menjadikannya sebagai tarian penyambutan (tari bagea) resmi dalam ritus protokoler maupun festival kebudayaan, baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Filosofi Dayang Sumbi: Kelembutan Perempuan dan Ketangguhan Silat

Secara tematik, Tari Gapura Hyang mengeksplorasi fabel geopolitik paling legendaris di Bandung Raya, yakni mitologi Dayang Sumbi dan Sangkuriang yang melatari keberadaan Gunung Tangkuban Parahu. Koreografinya memotret personifikasi Dayang Sumbi sebagai representasi sosok ibu yang arif, bijaksana, sekaligus tegar tatkala menghadapi angkara murka sang buah hati.

Sebesar apa pun gejolak amarah yang dituangkan oleh Sangkuriang, Dayang Sumbi digambarkan mampu meredam ambisi inses sang anak dengan ketenangan dan kelembutan hatinya. Jiwa Dayang Sumbi memancarkan senyum keramahan perempuan Sunda, yang secara visual dianalogikan sebagai gerbang (gapura) pembuka keluhuran spiritual di tatar Parahyangan (Hyang).

Karakteristik Unik: Melenceng dari pakem tari persembahan biasa yang cenderung gemulai, Tari Gapura Hyang mengombinasikan ketukan musik tradisional Sunda dengan penetrasi jurus-jurus Pencak Silat. Sisipan gerakan bela diri ini menjadi simbolisasi teologis bahwa perempuan Sunda tidak hanya memiliki kelembutan perangai, tetapi juga menyimpan kekuatan, ketangguhan, dan proteksi diri yang kokoh.

Ironi Minimnya Referensi dan Ancaman Amnesia Budaya

Sangat disayangkan, cita-cita luhur para pendiri Kabupaten Bandung Barat yang menyusun cetak biru kebudayaan ini dengan sangat detail, kini justru menemui jalan sunyi. Estetika Tari Gapura Hyang perlahan mulai jarang diindahkan atau dipentaskan dalam ruang-ruang publik KBB.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda di Bandung Barat belum mengetahui keberadaan tarian khas daerah mereka sendiri. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa referensi tertulis, dokumentasi digital, serta kajian akademis mengenai Tari Gapura Hyang masih sangat minim dan sulit diakses. Tanpa adanya upaya revitalisasi dan reaktualisasi dari pemerintah daerah serta para pegiat seni, tari persembahan ini terancam sekadar menjadi catatan kaki dalam lembaran sejarah KBB.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *