Terlihat Biasa, tetapi Berisiko Tinggi: Bahaya Membawa Bayi Naik Sepeda Motor
INFO BANDUNG BARAT — Membonceng bayi dengan sepeda motor di jalanan Indonesia kerap dianggap sebagai hal yang lumrah. Namun, sesuatu yang sering terjadi tidak selalu berarti aman. Dari sudut pandang medis dan keselamatan transportasi, membawa bayi, terutama yang berusia di bawah satu tahun, dengan sepeda motor memiliki risiko yang sangat tinggi, bahkan dapat berakibat fatal. Hal ini bukan sekadar persoalan kebiasaan atau kondisi, melainkan karena tubuh bayi memang belum siap menghadapi berbagai risiko di jalan tanpa perlindungan yang memadai.
Sekitar 30 persen dari total berat tubuh bayi terpusat di area kepala. Kondisi ini membuat kepala bayi relatif lebih berat dibandingkan bagian tubuh lainnya. Menurut dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, Sp.A(K), otot leher bayi belum cukup kuat untuk menopang beban tersebut. Akibatnya, ketika sepeda motor melewati jalan berlubang atau melakukan pengereman mendadak, kepala bayi dapat berayun tanpa kendali seperti bandul. Guncangan ini berisiko memicu Shaken Baby Syndrome, yaitu cedera serius akibat guncangan hebat yang dapat menyebabkan perdarahan otak, cacat permanen, hingga kematian.
Risiko tidak berhenti pada guncangan sesaat. Paparan getaran selama perjalanan juga memberikan dampak yang tidak kalah serius. Penelitian mengenai whole-body vibration menunjukkan bahwa getaran kendaraan yang terjadi secara terus-menerus dapat memengaruhi sistem muskuloskeletal anak. Bayi yang sistem sarafnya belum matang sangat rentan mengalami gangguan stabilitas fisiologis akibat kombinasi getaran mesin dan kondisi jalan. Dalam jangka panjang, paparan ini berpotensi menimbulkan cedera saraf, termasuk pada tulang belakang.
Dari sisi keselamatan, sepeda motor tidak memiliki sistem perlindungan yang memadai bagi bayi. Tidak terdapat sabuk pengaman, kabin pelindung, maupun zona benturan (crumple zone) sebagaimana pada mobil. Bahkan, kursi khusus bayi (car seat) tidak dirancang untuk digunakan pada sepeda motor. Menggendong bayi, baik dengan babywearing maupun secara manual, juga tidak menjamin keamanan. Dalam situasi darurat atau kecelakaan, bayi tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri, menahan benturan, ataupun bereaksi dengan cepat sehingga risiko cedera menjadi sangat besar.
Bayi juga rentan terhadap paparan lingkungan. Sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna, sehingga polusi, debu, cuaca, dan kuman dapat berdampak signifikan. Hembusan udara dingin berisiko menyebabkan hipotermia, sementara sistem pernapasan yang belum stabil membuat bayi lebih mudah mengalami gangguan pernapasan.
Dengan berbagai risiko tersebut, tidak ada cara yang benar-benar aman untuk membawa bayi naik sepeda motor. Jika memungkinkan, pilih alternatif yang lebih aman, seperti berjalan kaki untuk jarak dekat, menggunakan stroller, transportasi umum, atau mobil. Menunda perjalanan yang tidak mendesak juga merupakan pilihan bijak.