38°C
16/04/2026
Peristiwa

26 Titik Lereng Rawan Longsor Terpantau di Sukajaya Lembang

  • Februari 11, 2026
  • 2 min read
26 Titik Lereng Rawan Longsor Terpantau di Sukajaya Lembang

INFO BANDUNG BARAT — Desa Sukajaya di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dilanda gerakan tanah yang menewaskan dua warga pada Sabtu, (24/1/2026), sekitar pukul 04.00 WIB. Longsor terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah itu selama dua hari berturut-turut.

Berdasarkan laporan pemeriksaan lapangan tanggap darurat, pergerakan tanah terjadi di dua lokasi utama: Kampung Sukadami RT 02 RW 07 dan Kampung Cipariuk-Cihaseum RT 02 RW 12. Warga setempat mengaku peristiwa serupa pernah terjadi sebanyak tiga kali sebelumnya.

Di Kampung Sukadami, tanah longsor bergerak ke barat dengan tipe translasi, memiliki lebar gawir 22 meter, tinggi 15 meter, dan panjang landaan 28 meter. Di Kampung Cipariuk-Cihaseum, dua longsoran besar bergerak ke timur-tenggara, masing-masing berukuran lebar 42 meter, tinggi 37 meter, dan panjang landaan 63,8 meter.

“Selain kedua lokasi itu, longsoran juga terlihat di lereng lembah yang berada di hulu sungai menuju puncak. Terhitung ada 26 titik longsor dengan ukuran kecil hingga besar di lereng curam,” jelas Plh Kepala Badan Geologi, Lana Saria, Rabu (11/2/2026).

Beberapa retakan tanah terpantau 2–5 meter dari gawir, berpotensi memicu longsor susulan. Longsoran berisiko menutup aliran sungai dan membentuk bendungan alami, yang dapat memicu banjir bandang. Akibat kejadian ini, dua warga meninggal, dua rumah rusak, 30 kepala keluarga terdampak, dan 16 kepala keluarga mengungsi mandiri. Jalan desa sepanjang 60 meter juga terancam putus.

Wilayah terdampak berada pada lereng dengan kemiringan 32,1–43,4 derajat. Geologi setempat didominasi tuf batu apung dan tuf pasiran, bersifat gembur, mudah lapuk, dan rentan longsor saat jenuh air. “Penetrometer tanah di tiga titik menunjukkan kekerasan 0,5–1,5 kg/cm², artinya tanah lembap dan mudah lepas,” kata Lana Saria.

Debit air di Sungai Cihaseum cukup tinggi, digunakan warga untuk konsumsi dan pembuangan limbah, sehingga aliran saat hujan deras tidak terkendali. Faktor lain penyebab longsor termasuk pertanian berakar dangkal, drainase sempit, dan hujan intensitas tinggi. “Tekanan pori meningkat, bobot tanah bertambah, kohesi menurun, sehingga lereng menjadi tidak stabil,” lanjut Lana Saria.

Menurut Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, Sukajaya berada di zona menengah, sementara Peta Prakiraan Gerakan Tanah Januari 2026 menempatkan Kecamatan Lembang pada risiko menengah hingga tinggi, termasuk kemungkinan aliran bahan rombakan.

Badan Geologi merekomendasikan relokasi rumah terdampak, pelarangan pembangunan di lereng curam tanpa mitigasi, perbaikan drainase, serta penanaman vegetasi berakar kuat untuk stabilitas lereng. “Masyarakat harus selalu berkoordinasi dengan pemerintah, relawan, dan BPBD,” ujar Lana Saria.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *