38°C
27/02/2026
Edukasi

Saat Kasus Kekerasan Seksual Mencuat, Di Mana Posisi Kita?

  • Februari 27, 2026
  • 2 min read
Saat Kasus Kekerasan Seksual Mencuat, Di Mana Posisi Kita?

INFO BANDUNG BARAT — Memasuki awal tahun 2026, publik kembali dikejutkan oleh berbagai pemberitaan dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan tokoh publik. Meski peristiwa, pelaku, dan sumber cerita berbeda-beda, pola yang muncul cenderung serupa: identitas pelaku kerap disamarkan demi kepentingan hukum atau pemberitaan, sementara sorotan justru beralih pada korban. Di ruang-ruang digital, publik berlomba mengungkap nama pelaku, tetapi pada saat yang sama juga mempertanyakan cerita korban.

Alih-alih mendapat dekapan hangat dan dukungan, korban sering kali justru diberondong label negatif. Mereka dituntut menyampaikan kronologi lengkap, menghadirkan bukti, bahkan menjelaskan detail-detail kecil yang dianggap janggal. Pertanyaan seperti “mengapa tidak melawan?”, “mengapa tidak langsung melapor?”, atau “mengapa baru sekarang berbicara?” terus diulang dan menjadi duri tajam bagi korban yang tengah berjuang pulih dari trauma.

Banyak yang menuntut korban untuk bersikap rasional saat kejadian. Padahal, secara medis, hal itu sering kali mustahil. Penelitian oleh Möller, Sondergaard, dan Helström (2017) menjelaskan bahwa saat pelecehan terjadi, otak manusia tidak bekerja secara logis.

Korban sering mengalami fase disorientasi, yakni bentuk penyangkalan otak karena trauma yang terlalu besar untuk diterima seketika. Selain itu, terdapat fenomena yang disebut tonic immobility, yakni respons biologis involunter ketika tubuh membeku (freeze) akibat rasa takut yang ekstrem. Meminta korban untuk bersikap rasional di tengah situasi traumatis bukan hanya keliru, tetapi juga mengabaikan fakta biologis manusia.

Fenomena menyalahkan korban atau victim blaming bukanlah hal baru. Secara psikologis, victim blaming merupakan upaya meneguhkan ketidakadilan dengan mencari-cari kesalahan pada korban.

Penelitian Aulya Enggarining (2019) dalam Journal of Civics and Moral Studies memaparkan bahwa minimnya kesadaran masyarakat tentang dampak pelecehan seksual membuat budaya menyalahkan korban semakin menjamur. Dampaknya sangat fatal, pelaku merasa didukung, korban kehilangan keadilan, dan opini publik perlahan digiring untuk lebih curiga kepada korban ketimbang menuntut pertanggungjawaban pelaku.

Sikap yang tepat ketika kasus kekerasan seksual terungkap adalah mendengarkan dengan empati, memberi ruang aman, membantu akses dukungan psikologis dan hukum, serta menghormati keputusan dan batasan korban. Hindari menyebarkan cerita tanpa izin, mempertanyakan motif korban, atau membela pelaku tanpa dasar. Fokus seharusnya dialihkan pada pertanggungjawaban pelaku dan perbaikan sistem yang memungkinkan kekerasan berulang.

Menyalahkan korban pada dasarnya merupakan pelarian dari kenyataan pahit bahwa kekerasan bisa terjadi pada siapa saja. Dengan menyalahkan korban, seseorang merasa “aman” dan berpikir bahwa jika ia tidak melakukan hal yang sama seperti korban, maka ia akan selamat.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *