Batujajar: Jejak Sejarah Kota Tangsi dan Lahirnya Pasukan Elite Indonesia
INFO BANDUNG BARAT — Batujajar, sebuah wilayah di selatan Kabupaten Bandung Barat, dikenal luas sebagai “kota tangsi” atau kota militer. Julukan ini tidak muncul tanpa alasan. Sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan, Batujajar memiliki peran strategis sebagai kawasan militer penting, bahkan menjadi cikal bakal lahirnya pasukan elite Indonesia.
Nama Batujajar sendiri memiliki makna yang sederhana namun khas. Berasal dari kata “batu” dan “jajar” yang berarti rata, nama ini merujuk pada kondisi geografis wilayah tersebut yang berada di kaki Gunung Burangrang dengan hamparan batuan yang relatif datar.
Pada masa kolonial Belanda, Batujajar dikenal sebagai daerah pertanian yang subur. Wilayah ini menjadi salah satu sentra perkebunan teh di Jawa Barat, dengan banyak perkebunan yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Namun, di balik kesuburan tanahnya, Batujajar juga berkembang sebagai kawasan militer.
Sejak periode 1895 hingga 1918, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Batujajar sebagai pusat kegiatan militer. Dalam buku berbahasa Belanda tahun 1915 berjudul Aardrijkskunde van Nederlandsch-Indië, wilayah ini disebut sebagai lokasi latihan tahunan penembakan artileri gunung. Keberadaan fasilitas militer ini berkaitan erat dengan pemusatan institusi militer kolonial di Bandung dan sekitarnya, termasuk Cimahi hingga Cipatat.
Peran militer Batujajar semakin menguat pada dekade berikutnya. Sebuah batalyon artileri gunung ditempatkan di wilayah ini, sebagaimana dilaporkan dalam surat kabar Belanda Soerabaijasch Handelsblad pada 1938. Kehadiran pasukan militer bahkan melahirkan aktivitas sosial, seperti terbentuknya tim sepak bola serdadu bernama Ajax Batujajar. Klub ini tercatat mengikuti berbagai kompetisi garnisun dan pernah mengalahkan tim dari Cimahi dalam pertandingan di Bandung pada 1934.
Memasuki masa Perang Kemerdekaan Indonesia (1946–1949), Batujajar menjadi markas penting bagi Korps Speciale Troepen (KST), pasukan elite KNIL yang dipimpin Kapten Raymond Westerling. Di sisi lain, wilayah seberang Sungai Citarum menjadi basis pasukan Divisi Siliwangi. Kedua kekuatan ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai, menciptakan ketegangan militer yang intens di kawasan tersebut.
Dalam catatan Letjen (Purn) Soegih Arto, yang saat itu menjabat Komandan Batalyon 22 Divisi Siliwangi, pasukannya beberapa kali berhadapan dengan KST. Bahkan, satu kompi di bawah pimpinan Udaka pernah melancarkan serangan ke tangsi KST di Batujajar. Aksi tersebut meninggalkan jejak simbolik berupa coretan di dinding bertuliskan “Inilah gajah Soegih Arto”, merujuk pada lambang batalyon mereka.
Setelah Indonesia merdeka, peran Batujajar sebagai kawasan militer tidak surut. Wilayah ini menjadi markas Komando Tentara Teritorium III/Siliwangi yang kemudian berkembang menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Di Batujajar pula berdiri Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) di Kesatrian Mochammad Idjon Djanbi, sosok yang dikenal sebagai “Bapak Kopassus”.
Dengan perjalanan sejarah yang panjang, Batujajar tidak hanya menjadi saksi perkembangan militer di Indonesia, tetapi juga mencerminkan perpaduan antara kehidupan sipil, perkebunan, dan perjuangan. Dari ladang teh hingga medan latihan tempur, dari kota tangsi hingga pusat pendidikan pasukan elite, Batujajar menyimpan jejak sejarah yang penting dan layak untuk terus dikenang.