Sejarah Jalur Kereta Api Cipatat–Sasaksaat yang Tertunda Seabad
INFO BANDUNG BARAT — Wacana reaktivasi jalur kereta api di wilayah Jawa Barat kembali mengemuka. Pemerintah berencana menghidupkan kembali lintas yang menghubungkan Stasiun Padalarang dan Cipatat, dengan salah satu opsi utama berupa pembangunan jalur baru melalui Stasiun Sasaksaat. Menariknya, gagasan ini bukanlah hal baru, melainkan telah muncul sejak lebih dari satu abad lalu.
Pada 18 Agustus 1915, surat kabar Belanda Het Nieuws van den Dag telah menyinggung rencana pengalihan trase jalur Cipatat–Padalarang. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa jalur baru yang melewati Sasaksaat, dengan panjang sekitar 31 kilometer, dinilai lebih efisien dibandingkan jalur lama. Hal ini disebabkan oleh perbedaan elevasi yang signifikan. Jika menggunakan jalur lama, kereta harus menanjak hingga 309 meter, sedangkan melalui jalur alternatif, kenaikan hanya sekitar 156 meter.
Pemerintah kolonial melalui perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) telah mempertimbangkan pembangunan jalur ini. Tujuannya jelas, yaitu menghindari medan berat antara Stasiun Cipatat dan Tagog Apu. Salah satu titik di lintasan tersebut dikenal sebagai tanjakan paling terjal di wilayah Priangan, yang kerap menghambat perjalanan kereta, baik penumpang maupun angkutan barang. Selain itu, jalur ini juga rawan longsor sehingga menambah risiko operasional.
Namun, rencana tersebut tidak pernah terealisasi. Hingga kini, jalur lama melalui Stasiun Tagog Apu tetap digunakan, sementara wacana pengalihan trase hanya menjadi catatan sejarah.
Memasuki era modern, gagasan lama tersebut kembali dihidupkan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana mengalihkan jalur kereta api antara Cipatat dan Padalarang guna mengatasi hambatan akibat kondisi trek yang curam. Sebagai langkah awal, Kemenhub telah melelang proyek Detail Engineering Design (DED) jalur dan jembatan kereta api lintas Cipatat–Padalarang pada 14 Februari 2023. Proyek dengan nilai sekitar Rp3,8 miliar tersebut dimenangkan oleh PT Scalarindo Utama Consult.
Dalam dokumen perencanaan disebutkan bahwa jalur baru ini akan dilengkapi dengan satu terowongan sepanjang 300 meter dan dua jembatan masing-masing sepanjang 50 meter. Jalur tersebut diproyeksikan terhubung dengan lintas utama Jakarta–Bandung melalui Purwakarta, tepatnya di Stasiun Sasaksaat yang berada di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat.
Rencananya, rel dari Cipatat akan dibelokkan ke arah utara menuju jalur Padalarang–Karawang, sehingga kereta tidak lagi melewati Stasiun Tagog Apu. Sebagai gantinya, perjalanan akan memutar melalui Sasaksaat, kemudian menuju timur ke Stasiun Cileme, dan akhirnya tiba di Padalarang.
Jika rencana ini terwujud, perjalanan kereta api dari Cianjur dan Cipatat menuju Bandung akan menjadi lebih efisien, aman, dan andal. Selain mengurangi kemiringan jalur, proyek ini juga berpotensi meningkatkan konektivitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Barat.
Jalur Cipatat–Sasaksaat bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ia merupakan upaya menyambungkan kembali sejarah yang sempat terputus sekaligus menghidupkan nadi ekonomi masyarakat Jawa Barat melalui transportasi rel yang lebih aman dan modern.