38°C
03/06/2026
Edukasi

Benarkah Kita “Minum Kimia” dari Galon? Waspada Risiko BPA dan Galon Tua

  • April 13, 2026
  • 3 min read
Benarkah Kita “Minum Kimia” dari Galon? Waspada Risiko BPA dan Galon Tua

INFO BANDUNG BARAT — Isu keamanan air minum dalam kemasan kembali mencuat ke publik. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 10 Februari 2026, menyampaikan kekhawatirannya, “galon itu sudah digunakan melebihi batas usia pakai, saya jadi takut minum air putih ini, kita semua itu seperti minum kimia.” Pernyataan tersebut memicu perhatian luas, mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia mengandalkan air minum dari galon guna ulang dalam kehidupan sehari-hari.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 57 persen galon guna ulang di wilayah Jabodetabek telah melampaui batas usia pakai. Investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) pada Oktober 2025 terhadap 60 kios di wilayah yang sama menemukan bahwa delapan dari sepuluh galon telah melewati batas penggunaan. Bahkan, ditemukan galon berusia hingga 13 tahun yang masih digunakan masyarakat, khususnya di Bogor. Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran galon yang sudah tidak layak pakai.

Risiko utama berasal dari Bisphenol A (BPA), yaitu senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat (kode daur ulang 7) agar menjadi keras dan tahan lama. Plastik jenis ini umum digunakan untuk galon air minum guna ulang.

Masalah muncul ketika BPA mengalami migrasi atau peluruhan dari plastik ke dalam air. Proses ini dapat terjadi pada galon yang telah mengalami degradasi akibat usia pemakaian yang terlalu lama, sering dicuci, mengalami retak, atau terpapar panas dan sinar matahari langsung. Penelitian dalam Journal of Food Protection menunjukkan bahwa risiko peluruhan BPA meningkat seiring menurunnya kualitas material galon.

Paparan BPA dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Zat ini diketahui dapat mengganggu sistem hormon (endokrin), memengaruhi kesehatan reproduksi, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik dan degeneratif.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas aman migrasi BPA untuk memastikan keamanan pangan. Selain itu, ahli polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mochamad Chalid, menyarankan agar galon guna ulang digunakan maksimal sekitar 40 kali pengisian atau setara dengan satu tahun pemakaian. Setelah melewati batas tersebut, galon sebaiknya diganti dengan yang baru.

Masyarakat dapat mengenali tanda-tanda galon yang sudah tidak layak pakai dengan memperhatikan perubahan fisik, seperti warna yang tidak lagi bening, permukaan yang kusam, atau adanya retakan. Selain itu, penting untuk menyimpan galon di tempat yang sejuk dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung, karena panas dapat mempercepat peluruhan zat kimia dari plastik.

Sebagai langkah pencegahan, mengganti galon lama dengan yang baru merupakan pilihan yang lebih bijak daripada mengambil risiko kesehatan keluarga akibat paparan zat kimia berbahaya. Kesadaran dan kehati-hatian dalam memilih serta menggunakan galon air minum menjadi kunci utama. Jangan sampai kebutuhan dasar seperti air minum justru menjadi sumber ancaman kesehatan yang tidak disadari.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *