Fiksi ‘Pajaratan’ Gunung Halimun Bandung Barat dan Siasat Konservasi Kekayaan Alam
INFO BANDUNG BARAT — Sebuah bukit berdiri menolak gundul. Di sana, pohon-pohon besar menjulang tinggi berbalut tanaman rambat khas hutan tropis. Pemandangan ini kontras dengan bukit-bukit di sekelilingnya yang meranggas, gundul bekas vegetasi jagung. Itulah sekelumit pesona alam sekaligus paradoks lingkungan yang dimiliki Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Jika pandangan diarahkan agak jauh ke selatan, nampak perumahan baru yang sedang tumbuh bersanding dengan aktivitas pertambangan pasir. Sementara jika menengok ke utara, lanskap berganti menjadi cerobong pabrik pengolahan dan tambang batu kapur yang berserakan di beberapa titik tanpa tata kelola yang teratur. Namun, bukit ini berbeda. Meski dikepung kerusakan lingkungan hampir dari segala penjuru, ia kokoh berdiri dengan kanopi pepohonan yang rapat.
Saat kaki menapak di perbukitan ini, udara sejuk langsung menyeruak menyentuh kulit. Semakin melangkah ke dataran yang lebih tinggi, suhu udara merosot mendekati dingin. Cahaya matahari perlahan meredup, terhalang oleh lebatnya dedaunan yang berfungsi bagai tabir alami penepis terik mentari.
Di puncak, kesunyian terasa begitu pekat hingga membuat telinga mendenging. Hambatan vegetasi yang lebat sukses menghalau kebisingan dari luar. Kendati demikian, suasana di puncak ini masih menyisakan aura mistis yang sama seperti ingatan masa lalu.
Memori Masa Kecil dan Bertambahnya Pajaratan di Atas Bukit
Bagi masyarakat lokal, bukit ini mengemban memori kolektif yang kuat. Selepas Idulfitri atau Iduladha, area puncak kerap menjadi destinasi warga untuk berkumpul, makan bersama, dan berziarah ke sebuah makam yang di sampingnya terdapat batu berbentuk oval. Batu tersebut konon menyimpan keistimewaan spiritual, jika seseorang berdoa sembari mengangkatnya, apa yang dipanjatkan diyakini akan mewujud nyata. Di dalam benak anak-anak, ritual di samping kuburan itu tentu menyisakan kesan yang menyeramkan.
Kesan wingit itu kian menebal seiring berjalannya waktu. Jumlah makam di puncak yang dahulu hanya satu, kini telah bertambah menjadi lima. Tiga makam memiliki identitas nama pada nisannya, sedangkan dua lainnya tanpa nama. Satu makam terletak di sebelah timur puncak bukit, sementara empat sisanya berada di sisi barat. Dua makam tanpa nama tersebut berada di kelompok sebelah barat.
Secara psikologis, ingatan masa kecil cenderung sulit membedakan antara fiksi dan fakta. Dunia anak-anak sering kali digerakkan oleh imajinasi dan mitos ketimbang penjelasan logis-faktual. Ketakutan akan keangkeran justru mengaktifkan ruang imajinasi tersebut.
Imajinasi dan memori itulah yang menuntun perjalanan kembali menuju bukit yang dikenal dengan nama Gunung Halimun ini. Namun kali ini, dorongan yang hadir bukan lagi sekadar ketakutan masa kecil, melainkan kecemasan eksistensial akan ancaman bencana alam akibat eksploitasi lingkungan oleh tangan manusia. Kuburan di puncak Gunung Halimun kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar tempat yang menyeramkan, melainkan sebagai penanda budaya yang kaya akan makna bagi kehidupan modern.
Perjalanan menuju Gunung Halimun ini dilakukan pada Kamis, 11 Juli 2024, sekitar pukul 13.00 WIB. Jalur udara dicapai setelah menempuh jalan kaki selama empat hingga lima jam dari titik awal di Kampung Berseri Astra, Kampung Cidadap, Desa Padalarang. Rute pendakian melintasi Gunung Bakung, Gunung Puter, Pasir Lampegan, Gunung Bendera, Gunung Pancalikan, dan berakhir di Gunung Halimun. Berdasarkan peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), Gunung Halimun terletak tepat di perbatasan tiga wilayah, yaitu Desa Padalarang, Desa Jayamekar, dan Desa Gunungmasigit.
Benturan Budaya Sunda Buhun dengan Logika Kapitalisme
Fakta menarik terungkap bahwa lima makam yang berada di puncak Gunung Halimun bukanlah kuburan dalam arti harfiah sebagai tempat penyemayaman jasad manusia. Menurut penuturan juru kunci (kuncen) setempat, situs tersebut merupakan petilasan atau tempat singgah dari tokoh-tokoh yang namanya terpahat di batu nisan, yaitu Eyang Sunan Pager Barang, Eyang Kian Santang, dan Eyang Aji.
Meski tidak ada dokumen sejarah formal yang mencatat persinggahan para tokoh tersebut di Gunung Halimun, keberadaan petilasan ini sah disebut sebagai penanda budaya. Warga sekitar, khususnya dari Kampung Cilahimun dan Ciwalahir, menyebut situs ini dengan diksi pajaratan Gunung Halimun.
Pemilihan kata pajaratan merupakan bentuk bahasa Sunda halus (lemes) untuk menunjukkan posisi terhormat para tokoh tersebut, setara dengan istilah pasarean atau astana. Penggunaan tingkatan bahasa ini merupakan warisan sosiolinguistik sejak wilayah Sunda berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram, yang membagi tutur bahasa berdasarkan strata sosial.
Hingga hari ini, Gunung Halimun dan pajaratan-nya terus didatangi peziarah yang hendak bertawasul dan berdoa. Secara ekologis, praktik budaya yang digerakkan oleh mitos dan nilai spiritual ini justru menjadi motor penggerak bagi pelestarian alam. Filosofi ini selaras dengan naskah kuno Amanat Galunggung yang menekankan pentingnya hidup selaras dengan alam. Dalam pandangan Sunda buhun, rusaknya alam merupakan cerminan dari runtuhnya moralitas masyarakat, yang pada akhirnya akan mendatangkan bencana dan kehancuran kolektif.
Prinsip hidup selaras dengan alam tersebut kini berbenturan keras dengan penetrasi budaya kapitalisme. Praktik eksploitasi, pengerukan pasir, dan penambangan batu kapur digerakkan oleh satu prinsip tunggal: akumulasi keuntungan (profit).
Logika ini abai terhadap fungsi ekologis bukit karst dan bukit pasir sebagai penyangga hidrologi dan lingkungan. Ketika komoditas di satu titik habis, korporasi akan mencari wilayah lestari lainnya untuk dieksploitasi demi menghasilkan nilai lebih dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.
Dua spektrum budaya yang saling menegasi ini terlihat sangat kontras dari atas puncak Gunung Halimun. Oleh karena itu, narasi mistis, cerita istimewa, dan pelestarian pajaratan di Gunung Halimun menjadi instrumen penting yang mendesak untuk dirawat sebagai benteng terakhir pertahanan ekologi di Bandung Barat.