38°C
20/06/2026
Edukasi

Ironi Hari Anak Nasional dan Fenomena Indonesia Sebagai Negara Tanpa Ayah

  • Juli 23, 2024
  • 4 min read
Ironi Hari Anak Nasional dan Fenomena Indonesia Sebagai Negara Tanpa Ayah

INFO BANDUNG BARAT  Sebuah fakta ironis mengemuka di tengah perayaan Hari Anak Nasional. Indonesia ramai diklaim menyandang predikat sebagai “fatherless country” atau negara tanpa ayah.

Predikat ini jelas bertentangan dengan narasi keluarga ideal yang gencar dikampanyekan sejak era Orde Baru dan masih dipercaya sebagian besar masyarakat hingga hari ini. Dalam konsep tersebut, keluarga ideal digambarkan terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, ibu yang mengurus rumah tangga, dan dua anak, sesuai program Keluarga Berencana (KB).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa istilah fatherless tidak sepenuhnya keliru. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendefinisikan fatherless sebagai ketiadaan peran ayah. Artinya, sosok ayah sebetulnya ada atau hadir secara fisik di rumah, tetapi tidak terlibat aktif dalam proses perkembangan batin dan psikologis buah hati.

Budaya Patriarki dan Pembagian Peran Domestik

Laporan “State of the World’s Fathers” yang dirilis oleh Rutgers Indonesia pada 2015 menyebutkan bahwa budaya patriarki menjadi salah satu alasan utama absennya peran ayah dalam perkembangan anak di Indonesia.

Dalam konstruksi budaya ini, para ayah dituntut untuk fokus bekerja di luar rumah demi mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan finansial rumah tangga. Sebaliknya, para ibu dibebankan tugas utama untuk mengurus pekerjaan domestik, termasuk mengasuh anak-anak.

Bahkan jika seorang ibu harus bekerja untuk membantu menambah pendapatan keluarga, mereka tetap diharapkan tidak menanggalkan tugas domestik utamanya tersebut. Pembagian peran konvensional ini pun turut diadopsi dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia.

Data Statistik Kesenjangan Peran dalam Rumah Tangga

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat bukti dominasi laki-laki dalam ranah publik dan perempuan dalam ranah domestik:

  • Penduduk Bekerja Tahun 2022 Jumlah laki-laki yang bekerja mencapai 82,6 juta jiwa, berbanding 52,7 juta jiwa perempuan.

  • Mengurus Rumah Tangga Tahun 2022 Jurang perbedaan terlihat sangat dalam pada kategori ini. Jumlah perempuan yang fokus mengurus rumah tangga mencapai 37,6 juta jiwa, sedangkan laki-laki hanya berjumlah 3,6 juta jiwa.

Tren Anak yang Hanya Tinggal Bersama Ibu

Ketiadaan peran ayah juga tecermin dari dinamika struktur keluarga. Banyak anak berusia 0–17 tahun di Indonesia yang tercatat hanya tinggal bersama ibu kandung mereka. Menurut Kementerian PPPA, kondisi ini umumnya dipicu oleh faktor ayah yang bekerja di luar kota, perceraian (cerai hidup), atau ayah telah meninggal dunia (cerai mati).

Data BPS yang diolah oleh Kementerian PPPA menunjukkan bahwa pada 2018, terdapat sekitar 8,3% anak yang hanya tinggal bersama ibu kandungnya. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 2% hingga 3% jika dibandingkan dengan data sembilan tahun sebelumnya.

Sebaliknya, persentase anak yang hanya tinggal bersama ayah kandung jauh lebih rendah, yakni hanya sebesar 2,5% pada tahun yang sama (tiga kali lipat lebih rendah dibanding angka anak yang tinggal bersama ibu).

Pentingnya Kehadiran dan Kualitas Peran Ayah bagi Anak

Ayah sebenarnya memiliki porsi peran yang sama pentingnya dengan ibu dalam menentukan tumbuh-kembang anak. Kedekatan ini bisa dibangun melalui aktivitas sederhana sehari-hari, seperti makan bersama, berbincang, menemani mengerjakan tugas sekolah, hingga berekreasi. Sayangnya, karena tuntutan pekerjaan dan pelembagaan budaya patriarki, waktu untuk berinteraksi ini kerap terabaikan.

Riset oleh Dotti Sani dan Treas (2016) bertajuk “Educational Gradients in Parents’ Child-Care Time Across Countries, 1965–2012” dalam Journal of Marriage and Family mengonfirmasi bahwa kuantitas waktu yang dihabiskan anak bersama ayah di berbagai negara memang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan ibu.

Namun, selain masalah kuantitas (jumlah waktu), kualitas interaksi juga memegang peranan kurasial. Bagaimana sikap ayah, cara menunjukkan kasih sayang, kepedulian, serta pemberian sikap suportif sangat dinilai oleh anak.

Dampak Psikologis Keterlibatan Ayah

  • Tumbuh-Kembang Emosional Riset Opondo dkk. (2016) dalam jurnal BMJ Open mengungkapkan bahwa aspek psikologis dan emosional dalam keterlibatan ayah berdampak masif pada pembentukan karakter anak pra-remaja.

  • Kesehatan Mental dan Kognisi Studi Allport dkk. (2018) di jurnal Academic Pediatrics menyebutkan bahwa kehadiran ayah yang berkualitas terbukti meningkatkan kemampuan kognitif serta menjaga kesehatan mental anak. Anak akan tumbuh dewasa dengan kematangan psikologis yang matang dan sesuai usia biologisnya.

  • Mengurangi Depresi Ibu Keterlibatan aktif seorang ayah dalam mengasuh anak juga menjadi bentuk dukungan nyata bagi sang istri, yang dapat memangkas risiko stres atau depresi akibat beban domestik yang monoton.

Menghapus predikat fatherless country bukan sekadar tanggung jawab pemenuhan materi semata. Kehadiran nyata seorang ayah, baik secara fisik maupun emosional, di dalam kehidupan anak justru menjadi fondasi utama untuk mewujudkan sebuah keluarga ideal yang sesungguhnya.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *