Jejak Parongpong dalam Sejarah Bunga, Kota Kembang Seharusnya di Bandung Barat?
INFO BANDUNG BARAT — Julukan Kota Kembang selama ini lekat dengan Kota Bandung. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah Bandung Barat, khususnya Kecamatan Parongpong, memiliki peran penting dalam membentuk identitas kawasan Bandung Raya sebagai wilayah bunga. Bahkan sebelum Bandung berkembang sebagai kota modern, Parongpong telah dikenal sebagai sentra budidaya bunga dan tanaman hias.
Parongpong berada di dataran tinggi Bandung Barat dengan iklim sejuk dan kondisi tanah yang subur. Lingkungan alam ini sejak lama mendukung pertanian hortikultura, terutama tanaman berbunga. Lanskap Parongpong yang dipenuhi kebun bunga menjadi ciri khas wilayah ini dan membentuk identitas visual yang kuat di masa lalu.
Peran Parongpong sebagai wilayah bunga tidak dapat dilepaskan dari Desa Cihideung. Desa ini dikenal sebagai pusat budidaya dan perdagangan bunga serta tanaman hias. Berbagai jenis bunga seperti krisan, anyelir, sedap malam, dan tanaman ornamental lainnya dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Aktivitas ini menjadi fondasi ekonomi lokal sekaligus membentuk pola ruang dan kehidupan sosial warga.
Pada awalnya, sebagian besar masyarakat Parongpong menggantungkan hidup pada pertanian sayuran. Sejak akhir 1980-an, terjadi pergeseran mata pencaharian menuju budidaya bunga dan tanaman hias. Perubahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan bunga di wilayah perkotaan Bandung untuk kebutuhan dekorasi kota, kegiatan adat, perayaan, dan pariwisata. Sejak saat itu, Parongpong berkembang sebagai salah satu pemasok utama bunga di kawasan Bandung Raya.
Kontribusi Parongpong tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga pada pembentukan citra Bandung sebagai wilayah yang indah dan identik dengan bunga. Pasokan bunga dari Parongpong turut memperkuat lanskap estetika kota, meskipun peran wilayah ini jarang disebut dalam narasi populer tentang Kota Kembang.
Seiring berkembangnya Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan pariwisata, julukan Kota Kembang semakin dilekatkan pada wilayah administrasi kota. Dalam proses tersebut, Parongpong dan wilayah Bandung Barat perlahan tersisih dari ingatan publik, meski secara historis memiliki kontribusi penting. Pergeseran ini mencerminkan bagaimana narasi sejarah sering kali dipusatkan pada wilayah perkotaan, sementara peran daerah penyangga kurang mendapat perhatian.
Saat ini, Parongpong dikenal sebagai kawasan agrowisata bunga, terutama di sekitar Desa Cihideung. Deretan kebun, kios tanaman hias, dan jalur wisata bunga menjadi penanda bahwa identitas lama tersebut masih bertahan. Jejak sejarah Parongpong sebagai Kota Kembang tetap hidup melalui praktik pertanian, ingatan kolektif masyarakat, dan lanskap yang terus dipertahankan.
Menghadirkan kembali sejarah Parongpong berarti memperluas cara pandang terhadap asal-usul julukan Kota Kembang. Identitas tersebut tumbuh dari wilayah Bandung Barat yang selama puluhan tahun menjadi ruang produksi, perawatan, dan pelestarian bunga. Dengan memahami sejarah ini, narasi tentang Kota Kembang menjadi lebih utuh dan berimbang.***