Menyusuri Desa Pasirpogor: Sebuah Kisah dari Hutan “Leuweung”
INFO BANDUNG BARAT — Terletak di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Desa Pasirpogor menyimpan sejarah panjang yang membentang dari masa kolonial Belanda hingga saat ini. Kisah desa ini merupakan cerminan adaptasi masyarakat lokal terhadap perubahan zaman, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan yang dinamis di tanah Pasundan.
Secara etimologis, nama Pasirpogor berasal dari bahasa Sunda. “Pasir” berarti bukit, sementara “pogor” merujuk pada bagian bawah batang pohon yang tersisa setelah ditebang. Nama ini mencerminkan kondisi geografis wilayah tersebut pada masa lalu yang berupa perbukitan dengan tegakan pohon-pohon besar.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Desa Pasirpogor, catatan sejarah menyebutkan bahwa pada masa kolonial Belanda wilayah ini dipimpin oleh seorang tokoh kharismatik yang akrab disapa Ayah Apung. Di bawah kepemimpinannya, Pasirpogor merupakan wilayah yang sangat luas. Pada mulanya, wilayah Pasirpogor mencakup daerah yang kini dikenal sebagai Desa Cijenuk dan Desa Puncaksari.
Salah satu bukti tertua eksistensi administrasi di Pasirpogor adalah catatan Buku Leter C, yaitu buku kepemilikan tanah. Sekitar tahun 1918, catatan tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang memiliki tanah masih sangat sedikit, yakni sekitar 30 orang.
Menariknya, dalam narasi turun-temurun masyarakat, proses autentikasi tanah pada masa lampau melibatkan sistem cap khusus dari pihak Belanda, yakni cap bergambar singa dan cap bergambar kelapa. Cap tersebut menjadi simbol legalitas kepemilikan lahan pada era kolonial.
Seiring pertambahan penduduk dan meningkatnya kebutuhan pelayanan, wilayah Pasirpogor yang luas mulai mengalami penyusutan administratif melalui pemekaran wilayah. Pada tahun 1938, wilayah bagian barat memisahkan diri untuk membentuk pemerintahan desa mandiri dan bergabung dengan Kecamatan Cipongkor, yang kini menjadi wilayah Desa Cijenuk. Tidak lama kemudian, wilayah selatan juga dimekarkan menjadi Desa Puncaksari dengan mengambil sebagian lahan dari Pasirpogor dan Cicangkang Girang.
Pusat pemerintahan Desa Pasirpogor tidak selalu berada di lokasi yang sekarang. Pada masa lalu, kantor desa terletak di Kampung Malandang dengan bangunan sederhana berbahan kayu. Baru pada tahun 1969, pusat administrasi dipindahkan secara permanen ke Kampung Cigandu (Pasir Gandu). Struktur pemerintahan internal desa pun mengalami perkembangan, dari dua dusun menjadi tiga dusun pada tahun 1976 guna menjangkau seluruh warga secara lebih merata.
Dalam catatan lain disebutkan bahwa pada masa penjajahan Belanda, sosok sesepuh bernama Mah Petinggi (1902–1910) disahkan menjadi kepala kampung, atau sebutan lain dari kepala desa. Beliau dipercaya masyarakat untuk memimpin dan membangun tata pemerintahan desa.
Lebih dari sekadar catatan administratif, sejarah Pasirpogor juga merekam erat hubungan manusia dengan alam. Wilayah ini pada awalnya merupakan hutan lebat, atau dalam bahasa Sunda disebut leuweung, yang didominasi bambu, pohon aren, serta perdu seperti harendong dan rerumputan. Masyarakat secara bertahap membuka lahan tersebut untuk pertanian. Menariknya, sebelum alat modern seperti cangkul dikenal, bambu kuning menjadi alat utama untuk menggemburkan tanah.
Kesuburan lahan ini menarik pendatang dari luar daerah sehingga kehidupan sosial budaya desa semakin berkembang. Masyarakat juga memelihara ternak seperti kerbau, domba, ayam, dan bebek, dengan kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk alami. Baru pada tahun 1969 pupuk kimia mulai digunakan.
Kehidupan ekonomi masyarakat sangat bergantung pada hasil bumi. Selain padi sebagai bahan pangan utama, mereka juga mengonsumsi olahan lokal seperti gabeng (hasil olahan aren), serta gatot, geong, dan gaplek yang berbahan dasar singkong. Dalam aspek sandang, sebelum tahun 1962, bahan pakaian yang umum digunakan berasal dari karung tepung terigu. Seiring waktu, pakaian dengan bahan yang lebih nyaman mulai masuk dan digunakan masyarakat desa.
Kesuburan tanah Pasirpogor menjadikannya magnet bagi pendatang yang ingin bercocok tanam. Hal ini perlahan membentuk kehidupan sosial budaya yang semakin kompleks. Dengan segala perubahan dan dinamika yang dialaminya, Desa Pasirpogor berdiri sebagai saksi hidup perjalanan panjang masyarakat agraris Sunda yang ulet, adaptif, dan berakar kuat pada alam serta tradisi.***