38°C
03/04/2026
Budaya Sejarah

Sasapian Cihideung, Kesenian Tradisional Sunda yang Sarat Makna

  • Februari 10, 2026
  • 3 min read
Sasapian Cihideung, Kesenian Tradisional Sunda yang Sarat Makna

INFO BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat memiliki kekayaan seni tradisi yang beragam, salah satunya adalah seni pertunjukan Sasapian, kesenian khas Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong. Berawal dari tradisi lokal, Sasapian kini telah dikenal luas dan menyebar ke berbagai wilayah di Jawa Barat, bahkan hingga ke daerah lain di Indonesia.

Pemilihan sosok sapi sebagai simbol utama Sasapian tidak terlepas dari nilai historis dan kultural masyarakat Sunda. Dikutip dari Tornare Journal of Sustainable Tourism Research (2021), pada masa Kerajaan Pajajaran yang dipengaruhi ajaran Hindu, sapi dipandang sebagai hewan suci dan diyakini sebagai kendaraan Dewa Wisnu ketika menjelma menjadi Krisna. Selain itu, kondisi geografis Parongpong yang berada di dataran tinggi menjadikan pertanian dan peternakan, khususnya sapi, sebagai penopang utama kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, sapi dimaknai sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan hidup.

Dalam khazanah budaya Sunda, sapi juga hadir dalam mitologi Wawacan Sulanjana melalui tokoh Sapi Gumarang, makhluk sakti yang menguasai padi di Kerajaan Galuh sebelum akhirnya dikalahkan oleh Sulanjana. Kisah ini semakin menegaskan posisi sapi sebagai simbol bernilai luhur dalam kehidupan masyarakat Cihideung.

Sasapian diyakini telah ada sejak tahun 1932 dan diwariskan secara turun-temurun oleh para seniman desa. Pada awal kemunculannya, kesenian ini tumbuh di tengah masyarakat agraris dan berfungsi sebagai bagian dari ritual adat. Dalam pertunjukannya, para penari mengenakan kostum berbentuk sapi yang terbuat dari bambu dan kain, diiringi musik tradisional Sunda seperti kendang, gong, dan suling. Sebelum pementasan dimulai, kostum disimpan di tempat yang dianggap sakral sebagai bagian dari ritual perlindungan. Pertunjukan ini dipimpin oleh tokoh adat dan kerap disertai unsur spiritual, di mana penari memasuki kondisi bawah sadar.

Perkembangan Sasapian mulai terlihat sejak era kolonial, khususnya ketika pemerintah Hindia Belanda memberi ruang bagi pertunjukan daerah dalam acara resmi. Kesenian ini dipelopori oleh seorang sesepuh bernama Aki Madi, kemudian dilanjutkan oleh Abah Wikarta dan diwariskan hingga kini, yang telah memasuki generasi keempat. Istilah “Buhun” menandakan bahwa kesenian ini tetap mempertahankan keaslian prosesi, musik, dan nilai-nilai leluhur.

Seiring waktu, Sasapian berkembang dari ritual adat menjadi pertunjukan rakyat. Saat ini, Sasapian tampil dalam berbagai kegiatan, seperti festival budaya, peringatan Hari Kemerdekaan, dan pesta rakyat. Bahkan, muncul inovasi Sasapian Modern yang memadukan unsur tradisional dengan musik kontemporer agar lebih diminati generasi muda. Meski demikian, Sasapian Buhun tetap dijaga sebagai bentuk pelestarian tradisi asli.

Pada masa lalu, Sasapian menjadi bagian penting dalam ritual irung-irungan, sebuah upacara adat untuk memohon keberkahan hasil bumi dan kesuburan tanah. Dalam ritual ini, masyarakat menyiapkan berbagai sesaji, seperti bunga, air kelapa, tumpeng, dan domba hitam sebagai simbol penolak bala dan pengundang rezeki.

Hingga kini, Sasapian bukan sekadar tontonan, melainkan warisan budaya yang merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat Sunda.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *