Lebih dari Sekadar Pantun: Mengenal Sisindiran, Seni “Menyindir” yang Santun
INFO BANDUNG BARAT — Dalam budaya Sunda, menyampaikan maksud secara gamblang terkadang dianggap kurang santun. Di sinilah sisindiran mengambil peran. Secara bahasa, sisindiran berasal dari kata dasar sindir yang mengalami proses dwipurwa atau pengulangan awal. Namun, maknanya lebih dalam dari sekadar teknik bahasa; ia adalah seni menyampaikan pesan secara halus, menyamping, dan penuh estetika.
Keberadaan sisindiran bukanlah hal baru. Jauh sebelum era modern, dalam naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, sisindiran telah dicatat sebagai bagian dari bidang kawih, yakni salah satu jenis seni suara atau vokal dalam tradisi kesenian Sunda. Hal ini membuktikan bahwa sejak lima abad silam, masyarakat Sunda telah menggunakan puisi ini sebagai media berekspresi.
Seiring berjalannya waktu, fungsi sisindiran terus berkembang. Jika dahulu lebih kental dengan unsur musikalitas, kini sebagaimana dikutip dalam Journal of Historical and Cultural Research (2013), sisindiran lebih banyak dipelajari sebagai bagian dari bidang sastra. Ia tetap menjadi puisi tradisional yang terikat oleh aturan bentuk, namun fleksibel untuk masuk ke berbagai lini kesenian.
Hingga saat ini, sisindiran sering ditemukan terselip dalam pertunjukan rakyat seperti reog, calung, hingga wayang golek. Bahkan, dalam suasana santai, sisindiran kerap hadir saat bergurau dengan teman sejawat.Pada tahun 1945, R. Satjadibrata memetakan sisindiran ke dalam dua kelompok besar yang memiliki karakteristik unik.
Pertama, paparikan. Bentuk ini paling dekat dengan pantun. Dalam satu baitnya terdapat empat larik yang terbagi atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Kedekatan bunyi antara sampiran dan isi menjadi kunci keindahannya. Contoh klasiknya menggambarkan kerinduan:
Samping hideung dina bilik (kain hitam pada dinding), kumaha nuhurkeunana (bagaimana mengeringkannya), kuring nineung ka nu balik (aku rindu pada dia yang pulang), kumaha nuturkeunana (bagaimana harus mengikutinya)
Kedua, wawangsalan. Jika paparikan bersifat terbuka, wawangsalan lebih misterius karena mengandung teka-teki (wangsal). Isinya tidak langsung menyebutkan jawaban, melainkan hanya menyiratkan bunyi dari benda yang dimaksud. Seperti pada ungkapan:
Teu beunang dihurang sawah (tak bisa diudang sawah), teu beunang dipikameumeut (tak bisa disayangi).
Sisindiran menjadi bukti bahwa masyarakat Sunda memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi. Ia bukan sekadar warisan sejak tahun 1518, melainkan sebuah cara hidup. Melalui sisindiran, kita belajar bahwa kebenaran atau perasaan tidak selalu harus disampaikan secara tajam, tetapi dapat disisipkan dengan indah di balik kata-kata yang berirama.***