38°C
20/06/2026
Budaya

Menelusuri Carita Pantun, Warisan Leluhur Tanah Sunda

  • Februari 19, 2026
  • 2 min read
Menelusuri Carita Pantun, Warisan Leluhur Tanah Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Carita Pantun Sunda merupakan salah satu karya kesusastraan Sunda yang masih tergolong “asli” karena relatif belum terpengaruh oleh sastra luar seperti Jawa atau Melayu. Berbeda dengan pantun Melayu yang merupakan puisi pendek bersajak, carita pantun adalah cerita narasi panjang yang dituturkan oleh seorang juru pantun dalam pagelaran seni yang disebut mantun.

Berdasarkan buku Carita Pantun: Eksistensi di Masyarakat Sunda (2022), kesenian ini diperkirakan sudah muncul di Jawa Barat sekitar 500 tahun lalu, atau sebelum tahun 1518 Masehi. Bahkan, para ahli menduga carita pantun telah diciptakan oleh lingkungan elite Sunda sekitar tahun 1300–1400 Masehi, melihat adanya unsur Tantrisme-Buddha serta pengaruh budaya Hindu-Buddha yang kental dengan pemikiran mistis-spiritual pada masa tersebut.

Bukti tertulis tertua mengenai keberadaan seni ini ditemukan dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M). Naskah tersebut menyebutkan empat judul carita pantun awal: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Hal ini mengukuhkan carita pantun sebagai tradisi lisan berbentuk sastra Sunda asli yang paling tua.

Dikutip dalam Journal of Historical and Cultural Research (2016), kesenian carita pantun adalah prosa liris (prosa berirama) yang mengisahkan masa lalu tentang raja-raja keturunan Pajajaran. Biasanya dipentaskan semalam suntuk, dimulai setelah salat Isya hingga menjelang Subuh. Juru pantun menghafal seluruh cerita di luar kepala dan menyampaikannya sambil memainkan kacapi pantun.

Kacapi pantun berbeda dari kacapi biasa karena bentuknya yang lebih besar dan menyerupai perahu tanpa layar. Di beberapa daerah, alat ini ditambah dengan suling (Karawang) atau musik tarawangsa (Sumedang).

Struktur carita pantun berbeda secara signifikan dari karya sastra lainnya karena memiliki keterkaitan erat dengan kepercayaan setempat. Pertunjukan diawali dengan rajah pembuka (pamuka) berupa mantra atau doa yang diucapkan juru pantun sebelum memulai cerita. Tujuannya adalah meminta izin kepada karuhun (leluhur) atau makhluk gaib penguasa alam (gunung, sungai, pohon besar) agar mendapatkan keselamatan dan kelancaran selama acara.

Isi ceritanya mengisahkan petualangan heroik ksatria atau raja-raja Sunda dan diakhiri dengan rajah penutup (pamungkas/pamunah), yakni mantra penutup yang menandai selesainya pagelaran sebagai ungkapan rasa syukur serta permohonan perlindungan dan keselamatan kepada leluhur serta makhluk gaib. Hal ini mencerminkan kuatnya unsur spiritual dalam tradisi tersebut.

Salah satu kisahnya menceritakan pengembaraan Begawat Iman Sonjaya, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, ke Kuta Ngagangsa. Cerita tersebut memuat nilai keberanian, kepemimpinan, dan penghormatan kepada leluhur.

Hingga saat ini, carita pantun tetap dipandang sebagai sumber sejarah lisan yang sangat berharga bagi identitas masyarakat Sunda. Meskipun pementasannya kini lebih jarang ditemukan, nilai-nilai filosofis dan sejarah yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *