38°C
20/06/2026
Budaya

Menelusuri Jejak Sastra Sunda dari Tradisi Lisan ke Sastra Modern

  • Februari 9, 2026
  • 3 min read
Menelusuri Jejak Sastra Sunda dari Tradisi Lisan ke Sastra Modern

INFO BANDUNG BARAT — Sastra Sunda merupakan cerminan perjalanan panjang masyarakat Sunda dalam menghadapi perubahan zaman. Sejak masa awal, sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ritual, pendidikan, dan pewarisan nilai budaya. Oleh karena itu, kajian periodisasi sastra Sunda menjadi penting untuk memahami bagaimana sastra berkembang seiring perubahan sosial, kepercayaan, dan kekuasaan.

Menurut Ajip Rosidi dalam buku Ngalanglang Kesusastraan Sunda (1983), sejarah sastra Sunda dibagi ke dalam tiga periode utama. Zaman Buhun (Lama–Kuno) merupakan masa ketika sastra Sunda masih sangat dipengaruhi oleh pandangan kosmos Sunda kuno dan belum tersentuh pengaruh Islam. Karya sastra pada masa ini umumnya bersifat lisan dan berkaitan erat dengan kehidupan ritual masyarakat. Bentuk sastra yang hidup antara lain kawih sebagai puisi bebas, cerita pantun yang mengisahkan dunia kerajaan, sisindiran, cerita wayang, dan mantra.

Periode berikutnya adalah Zaman Kamari (Pertengahan), yaitu masa ketika sastra Sunda berkembang di bawah pengaruh kekuasaan luar, mulai dari Mataram hingga penjajahan Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Pada masa ini, sastra Sunda mengalami pertemuan dengan budaya dan agama baru. Pengaruh Islam melahirkan bentuk syair yang kemudian berkembang menjadi pupujian, sementara pengaruh Mataram melahirkan dangding dengan aturan pupuh, terutama dalam bentuk wawacan. Fungsi sastra pun meluas, tidak hanya sebagai sarana ritual, tetapi juga sebagai media dakwah, pendidikan moral, dan hiburan.

Setelah Perang Dunia II, sastra Sunda memasuki Zaman Kiwari (Modern). Pada masa ini, sastra Sunda berkembang sejalan dengan sastra Indonesia modern. Bentuk-bentuk sastra baru seperti sajak bebas, carpon, novel, guguritan modern, dan naskah drama mulai mendominasi. Tema-tema yang diangkat pun semakin beragam, mulai dari persoalan sosial hingga ekspresi pengalaman pribadi.

Selain Rosidi, Yus Rusyana dalam buku Galuring Sastra Sunda (1969) mengemukakan periodisasi yang lebih rinci dengan membagi sastra Sunda ke dalam lima periode, yaitu Mangsa Kahiji (hingga 1600), Mangsa Kadua (1600–1800), Mangsa Katilu (1800–1900), Mangsa Kaopat (1900–1945), dan Mangsa Kalima (1945–sekarang). Periodisasi ini memperlihatkan kesinambungan perkembangan sastra Sunda dari masa tradisional menuju masa modern.

Keberadaan sastra Sunda sejak masa awal dibuktikan oleh naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (SSK) yang ditulis pada tahun 1518 M. Naskah ini kerap disebut sebagai ensiklopedia budaya Sunda kuno karena memuat berbagai bentuk sastra lisan yang telah dikenal masyarakat pada masa itu. Di dalamnya tercatat kawih, cerita pantun, sisindiran, cerita wayang, dan mantra. Materi sastra tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sunda telah memiliki tradisi sastra yang matang sebelum abad ke-16.

Materi sastra yang tercatat dalam SSK terus hidup dan berkembang pada abad-abad berikutnya. Beberapa bentuk sastra berfungsi sebagai media hiburan, seperti sisindiran, kawih, dan cerita wayang, sementara bentuk lain memiliki fungsi ritual dan sakral, seperti cerita pantun dan mantra. Memasuki sekitar abad ke-17, sastra Sunda mulai menerima pengaruh luar secara lebih intensif. Pengaruh Islam melahirkan pupujian, sedangkan pengaruh Mataram memperkaya sastra Sunda dengan dangding dan wawacan.

Perkembangan sastra Sunda dari abad ke abad menunjukkan dinamika yang jelas. Pada abad ke-15 dan ke-16, sastra Sunda didominasi oleh kawih, cerita pantun, sisindiran, cerita wayang, dan mantra. Abad ke-17 hingga ke-19 ditandai oleh berkembangnya pupujian, dangding, dan wawacan. Abad ke-19 masih memperlihatkan keberlangsungan cerita pantun dan sisindiran. Memasuki abad ke-20, berkembang seni tembang daerah seperti tembang Cianjuran, Ciawian, dan Cigawiran, serta guguritan. Pada abad ke-21, sastra Sunda hadir dalam bentuk modern seperti sajak, carpon, novel dalam bentuk carita nyambung, dan naskah drama.

Dengan demikian, periodisasi sastra Sunda memperlihatkan bahwa sastra Sunda adalah tradisi yang hidup dan terus bergerak. Ia mampu mempertahankan akar tradisionalnya sekaligus menyerap pengaruh luar dan menjawab tantangan zaman. Dari sastra ritual hingga sastra modern, perjalanan sastra Sunda mencerminkan sejarah dan identitas masyarakat Sunda itu sendiri.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *