38°C
13/04/2026
Budaya

Pupujian Sunda: Sastra Lisan Keagamaan dalam Tradisi dan Pendidikan Masyarakat

  • Februari 9, 2026
  • 3 min read
Pupujian Sunda: Sastra Lisan Keagamaan dalam Tradisi dan Pendidikan Masyarakat

INFO BANDUNG BARAT — Pupujian Sunda merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Sunda, khususnya di lingkungan masjid dan pesantren. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi religius, tetapi juga sebagai media pendidikan agama dan pembentukan akhlak. Melalui syair yang dilantunkan dengan irama sederhana, pupujian menyampaikan doa, nasihat, serta ajaran Islam secara halus dan mudah diterima oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak.

Dalam bahasa Sunda, pupujian terkadang disebut pula nadoman. Keduanya sama-sama berupa untaian kata yang terikat oleh padalisan (larik atau baris) dan pada (bait). Namun, sebagian ahli membedakan keduanya dari segi isi. Pupujian umumnya diartikan sebagai puisi yang berisi puja-puji kepada Allah, sedangkan nadoman memiliki cakupan yang lebih luas, yakni puisi yang memuat ajaran keagamaan secara umum. Meski demikian, dalam praktik budaya sehari-hari, kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian.

Isi pupujian sangat beragam dan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam enam golongan utama, yaitu: (1) puji-pujian terhadap keagungan Allah, (2) selawat kepada Rasulullah saw., (3) doa dan tobat kepada Allah, (4) permohonan syafaat kepada Rasulullah, (5) nasihat agar umat menjalankan ibadah dan amal saleh serta menjauhi kemaksiatan, dan (6) pelajaran agama yang mencakup keimanan, rukun Islam, fikih, akhlak, tarikh, tafsir Al-Qur’an, hingga ilmu sharaf. Di luar kategori tersebut, terdapat pula pupujian yang memuat unsur etika sosial dan tradisi, seperti tata cara menjenguk orang sakit, cara bertamu, etika menulis surat, hingga sikap terhadap pemerintah.

Dari segi sejarah, pupujian Sunda lahir dan berkembang seiring dengan masuk dan menyebarnya agama Islam di Jawa Barat. Berdasarkan Journal of Islamic Social Science and Communication (2024), tradisi pupujian mulai tumbuh sekitar akhir abad ke-16, setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran dan wilayah tersebut berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan Islam. Pusat-pusat penyebaran Islam seperti pesantren dan masjid menjadi ruang utama berkembangnya pupujian sebagai media dakwah dan pendidikan keagamaan.

Dilihat dari fungsinya, pupujian memiliki dua fungsi utama, yakni fungsi ekspresi pribadi dan fungsi sosial. Namun, fungsi sosialnya jauh lebih menonjol. Pupujian menjadi sarana kolektif untuk menyampaikan ajaran agama, menanamkan nilai moral, serta membangun kesadaran beribadah di tengah masyarakat. Tradisi melantunkan pupujian sambil menunggu waktu salat berjemaah memperkuat rasa kebersamaan sekaligus menjadikan masjid sebagai ruang pendidikan nonformal.

Salah satu contoh pupujian yang banyak dikenal adalah pupujian ajakan salat berjemaah, seperti berikut:

Eling-eling umat muslimin muslimat

(Ingatlah wahai umat muslimin dan muslimat)

Hayu urang berjemaah salat

(Mari kita salat berjemaah)

Estu kawajiban urang keur di dunya

(Karena itu kewajiban kita semua di dunia)

Kanggo pibekeleun jaga di akherat

(Sebagai bekal kelak di akhirat)

Dua puluh tujuh ganjaran mun berjemaah

(Pahala salat berjemaah dua puluh tujuh derajat)

Beda jeung salat sorangan, hiji gé mun bener fatihah

(Salat sendiri pahalanya satu, itu pun jika Al-Fatihah-nya benar)

Syair tersebut merangkum ajaran Islam yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad saw. tentang keutamaan salat berjemaah, namun disampaikan dengan bahasa Sunda yang akrab dan persuasif. Pupujian mengemas ajaran agama dalam bentuk sastra lisan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pupujian Sunda merupakan bukti nyata akulturasi antara budaya Sunda dan Islam. Ia menjadi media dakwah yang lembut, sarana pendidikan moral, sekaligus warisan sastra lisan yang merekam perjalanan sejarah keislaman di Jawa Barat. Di tengah perubahan zaman, pelestarian pupujian berarti menjaga identitas budaya sekaligus mempertahankan cara khas masyarakat Sunda dalam menanamkan nilai keimanan dan kesusilaan.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *