INFO BANDUNG BARAT — Bulan Ramadan membawa perubahan besar pada rutinitas harian umat Muslim. Selain menahan lapar dan haus, salah satu tantangan yang paling sering dikeluhkan adalah rasa kantuk yang menyerang pada siang hari. Banyak orang menganggapnya sebagai hal lumrah. Namun, secara medis, kondisi ini merupakan respons kompleks tubuh terhadap perubahan metabolisme dan pola istirahat.
Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, pakar kesehatan tidur (somnologis), penyebab utama kantuk saat berpuasa adalah perubahan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Selama Ramadan, waktu tidur sering terpotong karena harus bangun sahur. Tidak jarang seseorang terbangun saat masih berada dalam fase tidur dalam (deep sleep), yakni fase penting untuk pemulihan tubuh. Ketika fase ini terganggu, kualitas tidur menurun meskipun durasinya tidak berkurang drastis. Akibatnya, tubuh mengalami apa yang disebut sebagai “utang tidur”, yang membuat rasa lelah dan kantuk lebih mudah muncul pada siang hari.
Selain faktor tidur, asupan makanan juga berpengaruh terhadap munculnya kantuk. Dikutip dari laman KlikDokter (2022), konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang meningkat cepat lalu turun drastis, sehingga tubuh terasa lemas dan mengantuk beberapa jam kemudian. Padahal, otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika kadar gula darah turun, fungsi kognitif seperti konsentrasi dan kewaspadaan ikut menurun.
Dehidrasi ringan juga dapat memperparah kondisi tersebut. Sebuah studi dalam Journal of Nutrition (2012) menyebutkan bahwa kekurangan cairan, meski tidak berat, dapat memengaruhi suasana hati, menimbulkan kelelahan, serta memicu sakit kepala—gejala yang sering kali disalahartikan sebagai rasa kantuk. Di sisi lain, saat perut kosong, aktivitas sel saraf yang menghasilkan orexin, zat kimia di otak yang membantu menjaga kita tetap terjaga, dapat menurun pada sebagian orang. Penurunan aktivitas ini memicu rasa rileks berlebihan yang berujung pada kantuk.
Untuk mengatasinya, pilih karbohidrat kompleks dan protein saat sahur agar energi dilepas lebih stabil, hindari makanan manis berlebihan, tidur lebih awal, kurangi penggunaan gawai sebelum tidur, serta manfaatkan power nap selama 15–20 menit pada siang hari.
Pada akhirnya, kantuk saat puasa bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola hidup. Dengan pengaturan nutrisi dan istirahat yang tepat, kantuk saat puasa dapat dikendalikan sehingga aktivitas tetap berjalan optimal sekaligus menjaga kualitas ibadah selama Ramadan.***