38°C
20/06/2026
Sejarah

Patung Melia dan Jejak Sejarah Grand Hotel Lembang

  • Agustus 19, 2025
  • 2 min read
Patung Melia dan Jejak Sejarah Grand Hotel Lembang

INFO BANDUNG BARAT–Sebuah patung perempuan berdiri membisu di area Grand Hotel Lembang. Patung itu dikenal dengan sebutan Patung Melia. Di balik wujudnya yang indah, tersimpan kisah kolonial, tragedi, hingga misteri yang masih menyelimuti hingga kini.

Patung Melia dipahat oleh Alexandro Ursone, seniman asal Italia yang berkarya di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Menurut penuturan warga setempat, patung itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda sebuah peristiwa kelam yang menimpa seorang perempuan pribumi bernama Melia.

Tragedi di Balik Patung

Kisah yang beredar menyebutkan Melia adalah seorang perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan seorang pria Eropa. Hubungan itu berakhir tragis. Melia tewas, dan jasadnya dikabarkan dikubur dalam sebuah sumur yang kemudian ditutup oleh patung tersebut. Sejak saat itu, patung Melia dianggap sebagai penanda sekaligus simbol luka kolonial di tanah Priangan.

Menurut Buku Arsitektur Kolonial di Hindia Belanda (Handinoto, 1996), penggunaan patung sebagai penanda tragedi bukan hal asing di era kolonial. Patung kerap ditempatkan di ruang publik sebagai simbol kuasa dan memori sejarah.

Grand Hotel dan Jejak Kolonial

Patung Melia berdiri di kompleks Grand Hotel Lembang, salah satu hotel tertua di Jawa Barat. Hotel ini dibangun pada 1919 oleh seorang arsitek Belanda dan sempat menjadi salah satu penginapan paling bergengsi di kawasan pegunungan Bandung.

Menurut Jurnal Arsitektur Nusantara (2018), hotel-hotel kolonial di Jawa Barat tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan, tetapi juga sebagai representasi modernitas Eropa di tanah jajahan. Grand Hotel Lembang menjadi salah satu simbol pariwisata kolonial, tempat kaum elite Eropa menikmati udara sejuk pegunungan.

Legenda yang Bertahan

Kini, Patung Melia tidak hanya dipandang sebagai karya seni, melainkan legenda yang hidup di tengah masyarakat. Banyak kisah turun-temurun yang berkembang, dari cerita tragis percintaan hingga mitos mistis yang menyelimuti keberadaan patung.

Sejarawan lokal menilai, kisah Melia adalah potret nyata bagaimana kolonialisme membekas tidak hanya pada bangunan, tetapi juga pada ingatan kolektif masyarakat. “Legenda ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tercatat dalam arsip, tetapi juga dalam cerita rakyat,” tulis Jurnal Humaniora (2015).

Sisa Jejak Kolonial di Priangan

Grand Hotel Lembang dan Patung Melia menjadi saksi bisu bagaimana kawasan ini pernah menjadi elite kolonial. Hingga kini, kisah Melia tetap menarik perhatian, menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang kejayaan, tetapi juga tentang luka dan memori yang diwariskan lintas generasi.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *