38°C
25/08/2026
Sejarah

Raden Puspamanggala, Jejak Kepemimpinan yang Terlupakan di Balandongan

  • September 24, 2024
  • 3 min read
Raden Puspamanggala, Jejak Kepemimpinan yang Terlupakan di Balandongan

INFO BANDUNG BARAT — Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, tidak hanya menyimpan pesona alam, tetapi juga memendam narasi sejarah mengenai seorang tokoh besar yang pernah memiliki pengaruh signifikan pada masanya. Kisah ini berpusat di Kampung Balandongan, Desa Rancasenggang, sebuah daerah di kaki Gunung Tugu yang menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh yang namanya sempat tergerus arus konspirasi politik antara Kerajaan Mataram dan pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-17 hingga ke-18.

Profil dan Silsilah Raden Puspamanggala

Tokoh tersebut adalah Raden Puspamanggala, putra dari Bupati Sukapura pertama, Raden Wirawangsa. Ia memiliki istri bernama Nyai Raden Purwokusuma, putri dari Bupati Parakanmuncang yang kini wilayahnya mencakup bagian selatan Sumedang. Hingga saat ini, makam Raden Puspamanggala dan istrinya disemayamkan berdampingan di area kaki Gunung Tugu.

Ketokohan Raden Puspamanggala berakar pada wilayah Batulayang, sebuah daerah yang mencakup sebagian Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Wilayah ini secara administratif terbagi menjadi dua distrik, yakni bagian selatan yang dipimpin Adipati Kertamanah dan distrik Sindangkerta yang dipimpin oleh Raden Wirahadikusuma. Raden Wirahadikusuma sendiri dikenal sebagai tokoh yang mendirikan tugu menhir di puncak Gunung Tugu, yang berfungsi sebagai patok wilayah Batulayang sekaligus tempat disemayamkannya para leluhur. Setelah kepemimpinan berpindah dari Raden Wirahadikusuma kepada putranya, Raden Wirawangsa, barulah tongkat estafet kepemimpinan Batulayang distrik Sindangkerta diserahkan kepada Raden Puspamanggala.

Gejolak Politik di Tanah Batulayang

Masa transisi kepemimpinan Raden Puspamanggala bertepatan dengan periode yang dikenal sebagai Bandung Rungsit. Wilayah ini dilanda kekacauan akibat sisa-sisa pemberontakan Raden Trunojoyo terhadap Kesultanan Mataram serta perlawanan legendaris Adipati Ukur yang berusaha melepaskan tanah Sunda dari hegemoni Mataram. Situasi semakin pelik dengan adanya perebutan wilayah Batulayang oleh Parakanmanggala dan Bandung yang notabene masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raden Puspamanggala.

Dalam rangkaian gejolak tersebut, Mataram melakukan langkah politis dengan menghapus nama Batulayang dan mengintegrasikannya ke dalam wilayah Kabupaten Bandung. Muncul sebuah piagam yang diduga kuat sebagai produk konspirasi politik Mataram, yang menonjolkan jasa Raden Wirawangsa, Raden Tanubaya, dan Raden Astamanggala dalam penumpasan pemberontakan Adipati Ukur. Ketiganya kemudian diangkat sebagai bupati di Sukapura, Parakanmuncang, dan Bandung.

Meski secara silsilah mereka memang layak memegang tampuk kekuasaan, piagam tersebut seolah menegasikan eksistensi Batulayang dan kepemimpinan Raden Puspamanggala. Akibat penghapusan wilayah dan pembatalan legitimasi tersebut, Raden Puspamanggala memilih untuk menepi dari hingar-bingar politik. Ia mengasingkan diri di kaki Gunung Tugu dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk berbagi ilmu politik serta spiritualitas kepada masyarakat di Kadaleman Cikundul.

Hingga saat ini, ironisnya situs petilasan Raden Puspamanggala di Kadaleman Cikundul, Cikalong, Cianjur, justru lebih dikenal luas dibandingkan dengan makam aslinya yang berada di Kampung Balandongan, Sindangkerta. Narasi sejarah ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya catatan resmi kerajaan, terdapat pula kisah-kisah tokoh lokal yang tersisih oleh arus sejarah yang ditulis oleh pihak yang berkuasa.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *